10 Tahun Lapindo, Mesjid Nurul Azhar Tetap Utuh

0
258

Inspiratifnews.com – Sidoarjo, Tak terasa hari ini merupakan tepat 10 tahun terjadinya tragedi semburan lumpur  Lapindo di Porong, Sidoarjo yang terjadi pada 29 Mei 2006. Dua hari setelah terjadinya gempa dahsyat yang melanda kawasan DIY dan sekitarnya pada 27 Mei 2006.  Meskipun bencana  lumpur yang sangat luar biasa itu telah berlangsung lama, ada cerita menarik yang layak kita simak.

Kalau Anda mampir atau berwisata di kawasan lumpur lapindo, Porong, Sidoarjo, Anda pasti menjumpai sebuah masjid di pinggir jalan raya. Dekat Pom bensin yang sudah lama mangkrak. Namanya Masjid Nurul Azhar. Di belakang masjid itu dulunya  terdapat panti asuhan yang diresmikan pada September 2005 oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah  saat itu, Prof. Dien Syamsuddin. Panti Asuhan ini namanya juga sama “Panti Nurul Azhar”. Setahun setelah panti asuhan itu diresmikan, tragedi Lumpur Lapindo itu pun terjadi.

Suasana Idul Adha, 23 September 2015
Suasana Idul Adha, 23 September 2015

Sekian lama lumpur menyembur selama sepuluh tahun, masjid itu masih bertahan. Ketua PP Muhammadiyah, Prof. Syafiq Mughni menuturkan bila aktivitas yang tersisa di masjid ini tinggalah aktivitas Sholat saja.  Sementara ratusan, bahkan ribuan bangunan lain di sekitar lumpur sudah hancur. Penghuni kampung Jatirejo Utara dan Siring Barat itu pun sudah tak ada lagi.

Menurut aktivis yang juga saudagar Muhammadiyah Sidoarjo, Imam Sugiri, Masjid Nurul Azhar ini merupakan tempat pengajian Ahad Pagi yang selalu ramai. Dirintis oleh Ustad Abdurrahim Noer, Mantan Ketua PWM Jawa Timur. Ustad ini  juga seorang ulama terkemuka di tanah air. Semasa hidupnya, dan ketika belum ada lumpur lapindo, kawasan Masjid Nurul Azhar di Porong ini sangat terkenal di Indonesia, khususnya di Jawa Timur. Selama puluhan tahun Ustad Abdurrahim Noer membina pengajian rutin Fajar Shodiq setiap Ahad pertama yang diikuti ribuan jamaah. Umat muslim datang dari berbagai kota untuk mengikuti pengajian dan menampilkan pembicara-pembicara kaliber nasional. Sebagian besar tokoh Muhammadiyah.

Masjid Nurul Azhar Yang Masih bertahan
Masjid Nurul Azhar Yang Masih bertahan

Ustad Abdurrahim Noer meninggal dunia pada 2007, setahun setelah lumpur menyembur tak jauh dari masjid dan rumahnya. Tragedi besar ini membuat ribuan warga Porong dan sekitarnya harus berjuang untuk menyelamatkan nyawa dan harta bendanya. Rumah sang ustad di samping masjid pun ikut terendam lumpur. Dan kini sudah tak ada bekasnya lagi.

Tidak mudah memang mempertahankan nama besar Yayasan Nurul Azhar warisan Ustad Abdurrahim Noer yang mengelola masjid wakaf, panti asuhan, pengajian akbar bulanan, dan lembaga pendidikan. Bersama putranya, Muhammad Mirdasy, mantan anggota DPRD Jawa Timur, dan pengurus yayasan, Bu Noer yang meruapakan istri Almarhum Abdurahman Noer telah mencoba memindahkan panti asuhan ke Desa Lajuk, masih di Kecamatan Porong. Tanah yang diperoleh sekitar 2.000 meter persegi. Selain panti asuhan, lahan ini untuk lembaga pendidikan Nurul Azhar.  “Alhamdulillah lembaga pendidikan yang di Lajuk saat ini semakin besar, dan dirasakan kebermanfaatannya bagi umat”, ujar Ustad Andi Teca, Kepala SD Muhammadiyah 1 Krin dikutip dari sangpencerah.com.

Pada Idul Adha, 23 September 2015 yang lalu eks. jamaah masjid ini pun berbondong-bondong datang ke pelataran masjid ini untuk menyelenggarakan Sholad Idul Adha. M. Masrul, Ketua Yayasan Nurul Azhar mengatakan bahwa “Pelaksanaan sholat Idul Adha ini juga sebagai ajang silaturrahmi dengan mantan tetangga dulu,  yang kini sudah menyebar ke berbagai kota setelah terjadinya tragedi lumpur Lapindo,” katanya. Sebelum terjadinya musibah lumpur Lapindo, warga selalu melaksanakan sholat hari raya, baik hari raya Idul Fitri maupun Idul Adha di Masjid Nurul Azhar. Selain melakukan sholat Idul Adha bersama, warga korban lumpur Lapindo yang sudah mendapatkan pembayaran sisa ganti ruginya juga a melakukan penyembelihan 9 hewan korban.  Warga korban lumpur ini mengekspresikan rasa syukur sembari berbagi kepada sesama.

Hingga September 2015,  ada beberapa santri yang masih tinggal di dalam Masjid Nurul Azhar dan juga belum mendapatkan ganti rugi. Ini memang Fasilitas Umum (fasum). namun fasum ini milik yayasan, bukan milik pemerintah, Untuk itu, ia berharap agar pemerintah pusat segera melakukan pembayaran ganti rugi kepada aset milik yayasan Nurul Azhar itu (*).

Komentar Pembaca