3 Jusuf Dari Sulawesi Yang Berpengaruh di Indonesia

0
196

J U S U F

Oleh : Tomi Lebang*

Di kalangan politik Indonesia yang berpusat di tanah Jawa, ada tiga Jusuf dari Makassar dengan posisi dan sepak terjang yang menentukan.

Jusuf pertama adalah Presiden ketiga RI, Baharuddin Jusuf Habibie. Jusuf kedua adalah bekas Panglima ABRI dan Menteri Perindustrian, Jenderal Muhammad Jusuf. Dan yang ketiga adalah Jusuf Kalla.

Dan saya hendak bercerita tentang dua Jusuf yang terakhir.
Jenderal M Jusuf, satu dari tiga pelaku sejarah Supersemar yang menjadi tonggak peralihan kekuasaan dari Soekarno ke Soeharto. Lelaki ini, yang berbicara dengan dialek Bugis nan kental di mana pun berada, tetap setia dengan prinsip leluhurnya: “Sekali engkau mengecap rasa asin garam dari nampan orang lain, seumur hidup engkau menutupi aibnya”.

Dengan itulah, ia mendekap erat selubung cerita naskah Supersemar yang asli, sampai kematian memanggilnya. M Jusuf adalah keping misteri yang hilang dari peristiwa itu karena kebungkamannya.
Ia juga seorang legenda di militer. Namanya sungguh populer di kalangan prajurit karena di masanya sebagai panglima, tentara dan polisi berpangkat rendah sampai tinggi, sejahtera di semua lini. Ia rajin mengunjungi prajurit, bertanya sampai ke urusan sekolah anak dan usia kandungan istri.
Secara besar-besaran ia menghabiskan belanja militer untuk rumah dan barak, negara membagi susu sampai pakaian dalam yang berlimpah-limpah, sampai-sampai ada yang menjualnya ke pasar umum secara diam-diam. Bahkan di masa itu, ada rokok bikinan Gudang Garam yang mereknya ABRI, khusus untuk tentara dan polisi. Soeharto nyaris kalah populer, dan kabar yang beredar, M Jusuf terjungkal karena telah menjadi matahari yang sama terangnya dengan sang presiden.

M Jusuf juga lama menjadi menteri urusan sipil: Menteri Perindustrian. Di sini juga ia moncer. Di masanya, hubungan Indonesia dan Jepang sungguh erat. Jusuf-lah yang memulai program mobil rakyat yang terjangkau, bekerja sama dengan Toyota dalam bentuk produksi mobil Toyota Kijang. Jika kini Kijang Innova terbaru tak lagi terjangkau, itu sepenuhnya salah pedagang mobil Jepang dan juga kian melesetnya arah zaman… hehe.

Dan Jusuf ketiga — Wakil Presiden Jusuf Kalla — orang Makassar dengan jabatan paling tinggi di tampuk kekuasaan negeri ini.

Perjalanan Jusuf Kalla dan Jenderal Jusuf sesungguhnya bertautan. Beriringan dan bersambung. Semasa menjadi Menteri Perindustrian, Jenderal Jusuf membantu JK melancarkan bisnis dengan Jepang. NV Hadji Kalla jadi penyalur besar mobil buatan Toyota Sulawesi Selatan dan kini meluas ke kawasan timur. Kalla satu-satunya pengusaha pribumi di antara dealer besar Toyota di bawah Astra International.
Percaya atau tidak, Jokowi dan JK pernah melangkah ke ibukota dengan diantar oleh mobil buatan sendiri. Jokowi populer ketika mengganti mobil dinasnya dengan Esemka, mobil rakitan anak-anak SMK di Solo. Sementara JK dikenal luas saat memproduksi mobil bermerek Mitax dan SRI. Sebanyak 10 unit mobil itu bahkan dibeli Ibu Tien, sebagian jadi kendaraan operasional Taman Mini Indonesia Indah, dua unit jadi mobil untuk belanja dapur di Cendana.

Tapi impian JK untuk merintis mobil nasional kandas setelah dua putra Soeharto tergiur pula dengan bisnis itu. Keduanya menggandeng produsen otomotif Korea Selatan, Tommy Soeharto dengan mobil Timor yang sesungguhnya buatan KIA, dan Bambang Tri dengan mobil merek Cakra dan Nenggala yang bikinan Hyundai. Untuk bisnis dua putra kesayangan ini, Soeharto mengeluarkan Keppres khusus, surat perlindungan untuk anak-anak tersayang. Tamat sudah riwayat Mitax dan SRI. Dan JK pun kembali jadi pedagang di kampung halaman.

Jenderal Jusuf pensiun dari gelanggang politik dan kekuasaan tapi tetap bergandengan dengan JK. Ia merintis pembangunan masjid besar dan megah di Makassar, Al Markaz Al Islami di atas lahan bekas kampus Universitas Hasanuddin di pinggir kanal yang indah. Lantai dan dindingnya dari granit dan pualam, atapnya dari sirap tembaga berwarna hijau torquise dari Italia, lampu gantung raksasa dari Cekoslowakia, semuanya mahal dan berkelas.

Anda tahu siapa yang mengurusi pembangunan dan keberlangsunganmasjid itu? Jusuf Kalla, sampai saat ini.

Di panggung politik, sang jenderal mengantar JK ke ibukota dengan merekomendasikan namanya kepada Presiden Abdurrahman Wahid. JK menempati posisi yang lama diduduki M Jusuf: Menteri Perindustrian dan Perdagangan. Lalu kemudian ia merangkap pula menjadi Kepala Badan Urusan Logistik. Kepala Bulog.

Di jabatan Kabulog inilah JK nyaris terseret dalam kisruh besar skandal Bulog. Di belakangnya, Wakil Kabulog, Sapuan, bekerja sama dengan pengusaha dekat Gus Dur, Soewondo menggasak uang milik yayasan karyawan sebesar Rp 35 Miliar!
Tapi urusannya menjadi rumit ketika terungkap bahwa duit itu cair atas perintah Gus Dur. Jusuf Kalla mengungkapkan kebenarannya ke media. Ia berbicara terang benderang. Oh ya, dan saya sendiri turut mewawancarainya saat itu, di kediamannya di Jalan Lembang, Menteng, Jakarta Pusat …

Sapuan masuk penjara di tahun 2000. Soewondo yang belakangan diakui sebagai “tukang pijat” oleh Gus Dur juga ikut diterungku.
Dan Gus Dur, sang presiden, kemudian terjungkal. Ia jatuh dari tahta oleh skandal duit senilai tiga puluh lima miliar. Rizal Ramli, saat itu Menko Perekonomian dan Adhi Massardi yang juru bicara presiden, ikut terlempar keluar dari lingkaran kekuasaan.
Semua diawali dengan blak-blakan Jusuf Kalla — Jusuf ketiga dalam blantika politik Indonesia asal Makassar.

Jika sekarang Rizal Ramli dan Adhi Massardi seperti tak henti-hentinya “menyerang” Jusuf Kalla, Anda sudah tahu asal muasalnya: sebuah cerita yang dipicu kejadian pahit di masa silam. Bukan urusan kecintaan kepada negara.

— Hong Kong, 2 Januari 2016

*Penulis

Komentar Pembaca