AgFor Sulawesi Surplus Bibit Talas

0
119

Inspiratifnews.com – Makassar, – Memasuki tahun terakhir implementasi kegiatannya, proyek Agroforestry and Forestry (AgFor) Sulawesi menyelenggarakan pertemuan para pihak di Makassar, 26 April 2016. Pertemuan yang diadakan di Hotel Best Western Makassar ini bertujuan untuk mempertemukan semua pihak yang bekerja sama dalam proyek AgFor Sulawesi dan akan membahas mengenai capaiannya, tantangan, dan keberlanjutan pascaproyek ini berakhir.

Proyek ‘Agroforestri dan Kehutanan di Sulawesi: Menghubungkan Pengetahuan dengan Tindakan’ merupakan proyek lima tahun yang didukung oleh Departemen Luar Negeri, Perdagangan, dan Pembangunan Kanada. Melalui proyek AgFor, World Agroforestry Centre (atau International Centre for Research in Agroforestri/ICRAF) mendukung usaha Pemerintah Indonesia dalam menemukan solusi berkelanjutan di sektor pertanian dan kehutanan. Kedua sektor ini menghasilkan bahan pangan, bahan baku, pengaturan iklim, dan penghidupan untuk masyarakat Indonesia dan dunia.

Melalui berbagai kegiatan proyeknya, AgFor mendukung Pemerintah Indonesia dalam mencapai Tujuan 1 dari Sustainable Development Goals yaitu, ‘Memberantas segala bentuk kemiskinan di semua tempat’, dan Tujuan 2, ‘Memberantas kelaparan, mencapai ketahanan pangan, dan meningkatkan nutrisi, dan mempromosikan pertanian berkelanjutan’.

Wilayah kerja proyek AgFor di Sulawesi Selatan mencakup kabupaten Bantaeng, Bulukumba, Jeneponto, dan Gowa. Sementara di Sulawesi Tenggara meliputi kabupaten Kolaka Timur, Konawe, Konawe Selatan, dan Kota Kendari. Sedangkan di Provinsi Gorontalo, AgFor Sulawesi bekerja di Kabupaten Boalemo dan Gorontalo. Di 10 kabupaten ini, AgFor bekerja untuk dapat meningkatkan mata pencaharian yang lebih adil dan berkelanjutan bagi masyarakat pedesaan di Sulawesi.

Dalam mencapai tujuannya itu, tim AgFor bersama masyarakat setempat terlibat dalam tata kelola partisipatif penggunaan lahan dan sumber daya alam, dengan tim peneliti yang bekerja bersama badan pemerintah kabupaten untuk memperbaiki pengelolaan lanskap yang terintegrasi.

Bu Israk (salah satu petani binaan AgFor dari Desa Kayu Loe, Bantaeng) menyatakan besarnya perbedaan kehidupan yang ia jalankan saat ini dibandingkan sebelum beliau mengenal AgFor tahun 2012. “Alhamdullillah saat ini saya diajak bekerja sama dengan Dinas Pertanian dan BPPT untuk bibit yang saya hasilkan. Melalui BKP4, saya mendapat modal untuk membuat pembibitan talas yang kemudian akan dibeli oleh dinas untuk dikembangkan menjadi komoditi export. Pengetahuan yang saya dapat dari AgFor mengenai kebun campur (agroforestri) sangatlah berguna.”

Selama lima tahun masa implementasinya, proyek AgFor memfasilitasi 23.964 orang (35% perempuan) dalam berbagai lokakarya dan pelatihan mengenai pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan; membangun 491 kebun contoh sistem agroforestri yang melibatkan 2.417 petani (36% perempuan); membantu petani mendirikan lebih dari 286 pembibitan pohon yang memproduksi lebih dari 1.338.976 bibit; dan melatih 1.661 orang petani (35% perempuan) untuk memasarkan produk mereka secara lebih baik. Kini sebanyak 366.137 orang mendapatkan akses yang lebih mudah untuk mendapatkan bibit pohon yang berkualitas.

Dr James M. Roshetko, pimpinan proyek AgFor Sulawesi menyatakan, “Angka capaian ini melampaui target yang ditetapkan. Atas nama tim AgFor, saya berterima kasih kepada semua pihak yang terlibat dan telah sangat membantu dalam pelaksanaan proyek ini sejak tahun 2012; atas kerja keras dan komitmen yang tulus kepada kami. Prestasi yang diraih betul-betul luar biasa dan ini tidak mungkin tercapai tanpa keterlibatan berbagai pihak dalam perencanaan dan pelaksanaan kegiatan proyek AgFor. Proyek ini harus menjadi contoh nasional dari kerjasama yang efektif antara masyarakat, pemerintah daerah dan peneliti atau lembaga/organisasi pelaksana.

Pertemuan para pihak AgFor ini diharapkan dapat menjadi sarana diskusi yang mendapatkan partisipasi aktif dari semua peserta sehingga dapat terbentuk suatu kesepahaman dan komitmen bersama yang bermuara pada tercapainya partisipasi aktif dan dukungan multipihak dalam mewujudkan matapencaharian yang adil dan berkelanjutan bagi masyarakat pedesaan yang berbasis agroforestri dan sumber daya alam.

Agroforestri secara sederhana adalah penggabungan pertanian dan kehutanan; di mana pohon yang diinginkan oleh petani dikombinasikan dengan tanaman pangan dan hewan ternak. Pengalaman di banyak negara lain menunjukkan bahwa agroforestri dapat meningkatkan pendapatan petani sekaligus melindungi lingkungan.

Pertemuan para pihak di Makassar ini akan dihadiri oleh peserta dari berbagai instansi terkait seperti Dinas Kehutanan Provinsi Sulawesi Selatan dan Tenggara, Dinas Perkebunan Provinsi Sulawesi dan Tenggara, BP4K, Bappeda Provinsi Sulawesi Selatan dan Tenggara, Badan Lingkungan Hidup Provinsi Sulawesi Selatan dan Tenggara, berbagai instansi pemerintah lainnya, perwakilan UNHAS, LSM/proyek donor, sektor swasta, dan penerima manfaat proyek AgFor. (ish)

Komentar Pembaca