Anak Kampung Berorganisasi

0
114

Anak Kampung Berorganisasi

Oleh : Armin Mustamin Toputiri*

Awal bulan tahun baru 2016, banyak waktu mesti saya sisihkan guna menghadiri rangkaian konsolidasi sekian organisasi, dimana saya ikut bergabung. Kalau bukan menjadi pengurus, maka cukup sebagai anggota biasa saja. Maksudnya, bahwa menjadi pengurus karena saya ikut dilibatkan. Lalu menjadi anggota biasa, karena usia membatasi tak lagi boleh terlibat menjadi pengurus. Maka mungkin lebih tepat menyebutnya, senior atau penasehat saja.

Memang saat usia masih katagori pemuda, saya banyak melibatkan diri di banyak organisasi kemahasiswaan dan kepemudaan. Mulai dari Senat Mahasiswa, Kelompok Studi, sampai ke organisasi ekstra kampus, HMI misalnya. Lalu selepas dari bangku kuliah, malah lebih gencar lagi bergelut di sejumlah organisasi kepemudaan, seperti PPM, AMPI, Pemuda Pancasila, dan KNPI, serta masih banyak lagi lainnya yang menguras hampir separuh dari usia muda saya.

Lantaran saking sibuknya sehingga perkuliahan saya terbengkalai, nyaris tanpa gelar sarjana. Seolah berorganisasi lebih utama dari kuliah. Akibatnya, terbengkalai bukan hanya kuliahan saya, tapi usia pernikahan saya, pun ikut pula terbengkalaikan. Dua persoalan itu, seringkali membuat kedua orangtua saya di kampung, tidak pernah berhenti merasa resah. Seringkali mengultimatum agar saya meninggalkan aktifitas organisasi yang dianggapnya “laknat” itu .

Harap dimaklumi. Sebagai orangtua yang tak pernah mengenyam bangku kuliah, menilai jika keaktifan saya di sejumlah organisasi, sumber malapetaka. Saking geramnya, sehingga suatu kali kedua orangtua kembali mengultimatum keras, saya tidak dibolehkan pulang kampung dan berjanji tak akan membiayai apapun kebutuhan saya selama di Makassar, sejauh kedua permasalahan itu saya tidak rampungkan. Menyelesaikan perkuliahan dan segera menikah.

Akibat takut kualat pada kedua orangtua, saya segera menuntaskan penulisan skripsi saya. Satu-satunya tugas kuliah yang masih tertunda. Dan pada saatnya, penuh haru dan bangga, kedua orangtua saya menyaksikan penganugerahan gelar kesarjanaan saya. Tapi masih ada satu beban lagi yang tersisa, yaitu segera menikah. Beban kedua itu seolah terabaikan, tak lain karena saya kembali terjerat masuk rimba aktifitas organisasi, sampai tingkat nasional.

Namun di usia yang sudah tidak lagi muda, pada saatnya kedua orangtua mendampingi saya di atas pelaminan. Berulangkali ia berbisik, dari mana saya mengenal deretan pejabat serta tokoh daerah dan nasional yang ikut hadir pada pesta pernikahan saya itu. Sebagai seorang yang hanya mantan Kepala Desa di kampung, kedua orangtua saya terbata-bata menyalami para tetamu, para orang-orang penting itu. Orangtua saya risih, tapi juga merasa bangga.

Saatnya saya jelaskan pada kedua orangtua saya. Bahwa saya mengenal para orang penting itu lewat kegiatan organisasi. Keduanya terpana. Boleh jadi, berpendar di benak keduanya, bahwa berorganisasi yang dinilai “laknat” dan sumber malapetaka itu, ternyata punya nilai manfaat luar biasa. Putra seorang Kepala Desa dari kampung, ternyata bisa bergaul dengan orang-orang penting di kota. Makanya, saya tetap berorganisasi. Agar jaringan saya meluas.

Makassar, 10 Januari 2016

*Anggota DPRD Prov. Sulsel

Komentar Pembaca