Anomali HMI

0
183

Oleh Andi Fadlan Irwan

Bisakah HMI didefinisikan dengan sebuah aksi? Atau sebuah warna? Atau sebuah gaya? Bagi saya, yang masuk dan bergaul di HMI di era 2000-an, HMI adalah sebuah anomali.

Kami, yang menjadi saksi atas marak dan tumbuh menjamurnya organisasi-organisasi puritan dan ideologi radikal pasca reformasi, bisa melihat bagaimana HMI justru merespon fenomena “membanjirnya ideologi” pasca reformasi itu dengan cara yang unik. HMI tak larut tapi juga tak benar-benar membentengi diri dari gelombang keterbukaan pemikiran pasca membanjirnya ide-ide dan organisasi-organisasi mahasiswa baru pasca runtuhnya orde baru. Di saat wacana-wacana “kiri” mendominasi kampus di akhir 90-an, sementara di saat yang sama wacana “revivalisme politik islam” mulai tumbuh subur di sisi yang lain, HMI terlibat (dan benar-benar terlibat dalam pengertian yang sebenarnya) dengan semua pergulatan wacana itu tapi tak ujug-ujug ikut di satu warna tertentu. Tak seperti di organisasi mahasiswa Islam lainnya, di HMI 2000-an, wajah HMI adalah wajah yang tanpa warna, atau lebih tepatnya, sangat kaya warna.

Di HMI, anda bisa temui anak-anak muda muslim dengan segala warna dan segala macam tradisi bergelut, berdebat, kadang tak menemukan titik sepakat, tapi tetap bisa tertawa sama-sama. bisakah anda membayangkan orang kiri semacam Coen Hosein Pontoh aktifis PRD itu bisa duduk semeja dengan Ustad Arifin Ilham? Di sudut-sudut kampus, anda bisa temui anak-anak HMI yang bercelana cingkrang dan berjidat hitam, sementara di tempat lain, anda bisa dapatkan anak-anak HMI berkaos oblong, dengan jins sobek-sobek, dengan rambut mohawk. Anda bisa temukan dengan mudah di HMI, anak-anak keluaran pesantren yang membedah Das Capital selancar ia mengutip kitab al-umm nya asy-syafi’i. Di HMI, anda tak hanya bisa temukan mahasiswa-mahasiswa kedokteran yang mampu mengkritik dengan fasih buku-buku karya Fritjof Chapra, mahasiswa-mahasiswa fakultas hukum yang fasih menjelaskan filsafat illuminati suhrawardi, atau mahasiswa-mahasiswa teknik yang bisa mengkritik ide-ide Joseph Stiglitz, anda mungkin bahkan bisa menemui calon dokter gigi yang bisa mengkritik essay-essay Goenawan Mohamad segampang ia mengulas karya-karya the beatles. Kombinasi yang aneh bukan?

Walhasil, bisakah HMI didefinisikan dengan satu aksi vandalisme? Tentu saja bisa, jika anda menolak kenyataan bahwa HMI punya seribu wajah, yang sebagian anda suka, sebagiannya lagi anda tak mungkin suka. Kita bisa menyebut Nurkholish Madjid, Dawam Rajardjo, atau Djohan Efendi yang sekuler sebagai warna HMI, tapi kita tak bisa menyangkal kalau Abu Bakar Baasyir pimpinan jamaah islamiyyah, dan Abdul Aziz Kahar yang getol memperjuangkan penerapan syariat Islam adalah warna lain HMI.

Kita memang tentu saja lebih familiar dengan nama-nama semacam Anas Urbaningrum, Akbar Tandjung, Jusuf Kalla, atau Anies Baswedan. Sebab merekalah yang dekat dengan sorotan kamera, tapi ada banyak hal-hal (juga nama-nama) lain di HMI yang bekerja jauh dari sorotan kamera. Sewaktu ikut menjadi tim relawan bencana banjir di Mamuju Tengah beberapa tahun lalu, saya bertemu dengan senior HMI yang telah bertahun-tahun mengelola pesantren yang didirikan di pedalaman di tepi hutan Mamuju sana. Di tempat lain, sewaktu menyelenggarakan bakti sosial di pedalaman Sulawesi Tengah, saya bertemu dengan alumni HMI yang telah bertahun-tahun mengelola sekolah nonformal bagi anak-anak suku kaili di pedalaman hutan sana. Di pedalaman Sulawesi Barat lainnya, saya bertemu dengan seorang guru honorer alumni HMI yang telah berpuluh-puluh tahun mengabdi di sebuah sekolah dasar di pedalaman desa transmigrasi marano. Daftar ini, bisa saja bertambah panjang, jika anda mau datang ke makassar, bertemu dengan anak-anak muda HMI.

Di HMI lah, kita bisa melihat wajah Islam indonesia yang sebenarnya. Dengan segala ide-ide, dari yang puritan hingga yang progresif, bergulat dan bertarung tak pernah henti. Di HMI lah, pertanyaan-pertanyaan remeh temeh hingga pertanyaan besar, dari soal shalat lima waktu hingga pemilu, diulas dengan berbagai macam pendekatan ideologi, meski sebagian besar pertanyaan-pertanyaan itu tak pernah selesai.  HMI mungkin, adalah wajah Islam indonesia, dengan segala perdebatannya yang tak tuntas, juga dengan segala cacat dan boroknya. Juga dengan segala oknum-oknumnya.

Namun celakanya, yang kita temui di jalan-jalan yang macet karena demonstrasi, atau yang kita temui di televisi yang dipenuhi berita korupsi dan sensasi adalah wajah HMI yang penuh borok, wajah HMI yang jelas-jelas ada dan tak bisa dipungkiri. Tapi maukah kita menilai sebuah entitas yang tak satu dan penuh anomali itu dari apa yang kita lihat setengah-setengah dari media sosial dan televisi yang, jikapun tidak tendensius, setidaknya tidak mampu mewakili wajah HMI yang plural lagi heterogen itu? Maukah kita mendefinisikan sebuah himpunan—lebih tepatnya—kumpulan-anak-anak muda yang sesungguhnya tak pernah satu dan lebih banyak berdebat itu?

Jadi, wajah yang manakah yang sebenarnya mewakili wajah HMI? Wajah anak-anak muda yang gampang marah seperti yang kita lihat di televisi beberapa hari terakhir? Atau wajah anak-anak muda yang berdiri bersama petani-petani di Takalar saat mereka hendak digusur? Tentu anda tak bisa menemukan jawabannya di televisi dan koran yang kita sama-sama tahu mengabdi pada kepentingan siapa.

Penulis adalah Dokter Umum di Kab. Enrekang, masih aktif sebagai kader HMI

 

Komentar Pembaca