Benturan Otak Bukan Otot

0
56

“Benturan Otak Bukan Otot”

Oleh : Ahmad*

Inspiratifnews.com Ketika jaman penjajahan yang melanda Indonesia, deretan sejarah terukir pada wajah Indonesia tentang garis perjuangan para “founding father” republik ini. Mereka diukir dalam pahatan sejarah dan tinta emas akan arti dan kehadiran mereka dalam membangun harapan, serta cita-cita kemerdekaan dengan segala kemampuan dan semangat menjadi pemacu untuk bebas dari keterpurukan atas penjajahan yang melanda Indonesia. Mereka terukir dalam sejarah yang tidak dapat dirunut satu persatu karena memang mereka tidak mau disebut-sebut dan dipuja-puja atas pengabdian serta pengorbanan yang mereka persembahkan untuk Indonesia tercinta.

Soekarno, Sutan Syahrir, Muh. Hatta, Moh. Natsir, Agusalim dan sederetan nama lainnya mengambil bagian dari percaturan republik ini. Mereka bertengkar dengan mengadu “Otak” dengan gagasan cerdas dan visioner langkah diplomatis diambil untuk mengakhiri ketegangan “Otot” dan kadang kala harus mengorbankan diri untuk kemaslahatan.

Pertengkaran mereka begitu dinamis melahiran corak yang berbeda tentang keindonesiaan, tentang arah Indonesia, tentang nasib bangsanya, tentang identitas bangsanya dan semua hal tentang NKRI berkecamuk dalam pikirian dan sikap mereka akan sebuah “kemerdekaan”. Kemerdekaan akan jati diri bangsa yang mereka perjuangkan kala itu, bukan “keakuan” tapi demi kemaslahatan bersama.

Sederetan nama-nama itu telah pergi dan meninggalkan pikiran, gagasan, konsep dan wacana yang setiap hari kita rindukan bahkan menjadi dambaan akan lahirnya satu perdebatan tentang “Otak” yang diilhami dengan ketinggian budi. Perdebatan mereka melahirkan konsep, visi jauh kedepan tentang suatu tatanan yang kompleks karena lahir dari kemajemukaan.

Pemimpin dulu berdebat dengan akal sehat sehingga melahirkan “Konsep” gagasannya cerdas dan bersahaja bukan emosional. Kalau Otot menggantikan fungsi Otak maka yang terjadi adalah emosional, letusanya adalah destruktif.

Menyikapi setiap persoalan yang muncul, mesti dengan Otak sehingga melahirkan “gagasan” bukan “gagahan” untuk mengetahui kualitas kemanusiaan kita. Mestinya wacana tandingannya dengan wacana, bukan cacian dan makian karena itu dapat menunjukan betapa “Otot” menguasai “Otak”. Cara primitif ini kadang menghinggapi para pemimpin kita sehinggah yang dipertontonkan bukan isi kepala tapi isi tas dan isi “otot”.

Dalam peperangan memang terkadang harus melibatkan Otot karena dengan itu prinsip dipertahankan, dengan itu kehormatan dijaga dan dengan itu kebenaran dipertaruhkan.

Kalau hal ini yang menjadi tontonan maka kita akan kembali pada “jaman primitif” dimana republik ini tidak pernah merdeka.  Dimana pimpinannya telah merusak dan menodai perjuangan serta melakukan distorsi sejarah tentang semangat para “Founding Father” republik ini.

*Ketua Umum DPD IMM Sulsel

Komentar Pembaca