Berkunjung ke Norwegia, Inilah Catatan Penting Legislator DPR RI

0
60

Inspiratifnews.com, Norwegia- Setelah menempuh perjalanan panjang selama kurang lebih delapan belas jam dari Jakarta menuju Oslo Ibukota Norwegia, lelah tak terasa. Norwegia adalah negara yang kesegaran alaminya sungguh terasa. Negara makmur ini sangat menjaga kelestarian alamnya. Demikian ungkap anggota Fraksi Hanura DPR RI Mukhtar Tompo, yang ikut dalam rombongan Kunjungan Muhibah DPR RI ke Norwegia.

Rangkaian muhibah DPR ini dipimpin langsung Wakil Ketua DPR Fadli Zon. Rombongan lainnya terdiri dari Tuti Roosdiono dari Fraksi PDI Perjuangan, Darori Wonodipura dari Fraksi Gerindra, Darizal Basir dari Fraksi Demokrat, Yandri Susanto dari Fraksi PAN, serta Wakil Rektor Universitas Indonesia Bambang Wibawarta. Turut mendampingi dalam muhibah ini Duta Besar RI untuk Norwegia Yuwono A Putranto. Kunjungan ini berlangsung Senin-Jumat, 5-9 September 2016.

Mukhtar mengungkapkan bahwa Norwegia adalah negara dengan luas wilayah 323.802 km2, dengan jumlah penduduk hanya 5.223.256 jiwa. Artinya, dalam tiap 15 km, hanya dihuni 1 orang penduduk. Tidak ada lonjakan penduduk, dalam dua tahun, hanya 1 persen pertambahan penduduk dari jumlah angka kelahiran. Selain itu, Norwegia adalah negara makmur dengan udara yang sejuk, pohon-pohon yang menghampar hijau, lingkungan yang seimbang, serta pemandangan bentangan alamnya yang apik sangat menawan.

“Namun pada bulan Oktober-Maret, semua yang kita lihat akan berubah menjadi salju. Bagi kelompok masyarakat yang  berkelebihan dari sisi ekonomi, akan meninggalkan negerinya dan melancong ke berbagai negara. Hal itu mereka lakukan guna mempertahankan hidup sekaligus liburan karena stres yang tinggi,” urai Mukhtar.

Sebaliknya, lanjut Mukhtar, bagi masyarakat yang berpendapatan rendah, akan berjuang setengah mati melewati cuaca dingin yang ekstrem itu dengan pasokan pangan terbatas. “Tak jarang di antara mereka menderita penyakit hiper depresia yang berujung pada kematian. Sungguh indah sekaligus ngeri. Saya bersyukur hidup di Indonesia, Surga Dunia namun hanya salah kelola,” pungkas legislator Daerah Pemilihan Sulawesi Selatan 1 ini.

Mukhtar menambahkan, negara Skandinavia ini mengedepankan estetika dalam pembangunan. Semua produk sejarah ditata begitu apik, sehingga dapat menjadi ikon peradaban negara itu. “Di Norwegia, bangunan lama dipertahankan, benda sejarah sangat dihargai. Visi pembangunannya mempersatukan nuansa filosofis, fungsi dan estetika. Sungguh benar kata Bung Karno, bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa menghargai pahlawan dan sejarahnya,” jelas Anggota Komisi VII DPR RI ini.

Indonesia juga dapat belajar banyak dalam manajemen transportasi massal dan pembangunan infrastruktur jalan. Norwegia banyak memanfaatkan bus elektrik dan kereta api sebagai moda transportasi dalam kota maupun antar kota. “Dalam perjalanan keluar Kota Oslo, sepanjang jalan kecepatan mobil sangat stabil, jalannya yang mulus, datar dan jauh dari kemacetan. Bukit dan gunung yang membentang tidak mengharuskan mobil menanjak, karena dibuat terowongan bawah tanah, ini adalah cara unik dan cerdas perencana jalan. Selain menghasilkan lalu lintas transportasi nyaman dan aman, juga tdk mengganggu fungsi bukit sebagai penyeimbang kehidupan,” jelas Mukhtar.

Hal unik lainnya, ungkap Mukhtar, adalah massifnya penggunaan sepeda di kalangan warganya. “Masyarakat Norwegia menjadikan sepeda sebagai kendaraan personal ke tempat kerja atau aktifitas lainnya. Di sepanjang jalan kita jumpai pengendara sepeda dari semua level usia dan kelas masyarakat. Area parkir sepeda menjadi pemandangan di banyak titik sudut kota, para pelancong juga bisa menyewa sepeda yang memakai sistem aplikasi.  Area pedestrian juga begitu dimaksimalkan. Disini tak ada gengsi dan malu, semua menekankan pada fungsi sekaligus menciptakan budaya sehat,” tambah Mukhtar.

Pelajaran penting lain dari Norwegia adalah pemanfataan energi listrik bersih karena negara ini lebih banyak menggunakan listrik tenaga air dibanding minyak atau batubara. Tingkat elektrifikasi Norwegia yang mencapai 98% berasal dari tenaga air. Selain itu, mereka juga menggunakan tenaga angin dan gelombang laut sebagai sumber energi.

Menagih Komitmen Norwegia

Dalam pertemuan dengan Kementerian Luar Negeri Norwegia, sejumlah isu sempat menjadi bahan perbincangan hangat, seperti soal Imigran, terorisme, ISIS dan juga tentang lingkungan hidup. Dalam pertemuan tersebut, secara khusus Mukhtar Tompo mempertanyakan secara detail tentang komitmen Norwegia sejak tahun 2008 yang belum terealisasi. Norwegia adalah salah satu penyandang dana terbesar untuk menghentikan deforestasi di kawasan hutan hujan tropis Indonesia. Hal ini ada hubungannya dengan ancaman Global Warming, Norwegia berada paling ujung di kutub utara.

Akibat dari komitmen tersebut, sambung Mukhtar, 40 % dari 110 Ha luas hutan Indonesia tidak bisa dikelola oleh masyarakat untuk mengembangkan areal pertanian dan perkebunan. Infrastruktur juga tidak bisa dibangun karena sudah  ada pewilayahan hutan, seperti hutan lindung, hutan konservasi, hutan produksi terbatas, dan lain-lain.

“Anda tahu berapa besaran dana komitmen itu? 522 jt USD atau setara 6,7 Triliun per tahun. Angka ini cukup besar bagi Indonesia, tapi tidak ada artinya jika Norwegia tenggelam akibat Global Warming. Kesejahteraan petani pengguna hutan Indonesia dipertaruhkan dengan komitmen yang tak kunjung terealisasi. Ini sungguh tak adil bagi masyarakat kecil di Indonesia,” gugat Mukhtar Tompo, anggota Komisi VII DPR RI, yang juga membidangi persoalan lingkungan hidup dan kehutanan(*).

Komentar Pembaca