Bincang Kebudayaan “Refleksi Kearifan, Masikah Kita berbudaya ?”

0
71

Inspiratifnews.com,Makassar-Bincang Kebudayaan yang diselenggarakan di Studio Mini, Redaksi Fajar Lantai 4 (27/1/2016)

Dengan menghadirkan empat narasumber yakni Drs. H. Jufri Rahman, M.Si (Kepala Dinas Kebudayaan dan Parawisata SUL-SEL), Dr. Halilintar Latief (Antropolog), Muh. Faisal Mra (Antropologi Seni) dan Wawan Mattaliu (Budayawan dan Anggota DPRD SUL-SEL).

Bincang ini begitu hidup sebab para narasumber memiliki kapasitas dibidangnya untuk membicarakan tentang kebudayaan. Acara ini terlaksana berkat kerja sama antara Karaengta Institut dan Redaksi Fajar.

Salah satu hal yang begitu menarik yang diberikan ulasan oleh Wawan Mattaliu bahwa budaya orang Bugis-Makassar yang senantiasa memegang prinsip yang namanya siri na pacce yang merupakan identitas dan value (nilai) dalam menjalani kehidupan. Menurut Wawan Mattaliu lebih lanjut ketika dirinya duduk sebagai anggota DPRD SUL-SEL ketika berada di Jakarta senantiasa menyebut dirinya sebagai orang Bugis-Makassar yang sangat terkenal dengan sikapnya yang keras ketika memegang sebuah prinsip.

Lain halnya dengan Dr. Halilintar Latief yang menjelaskan bahwa orang Bugis tersimbolkan air dan angin yang menjadi sebuah penanda bahwa orang Bugis mampu hidup dimana saja dalam artian memiliki tingkat penyesuaian lingkungan yang tinggi tempat mereka berada, selanjutnya Makassar yang tersimbolkan dengan tanah dan api yang senantiasa memiliki sikap yang kuat dan tidak mudah goyah. Semua sikap itu tercermin dalam kehidupan sehari-hari orang Bugis-Makassar yang senantiasa mempengaruhi sikap dan tingkah laku mereka.

Tetapi, ada hal yang menjadi kegundahan pada era modern ini sebab kebudayaan seolah telah hilang atau tergantikan dengan budaya baru yang jauh dari karakter berbudaya. Sebagaimana disebutkan oleh perwakilan dari Dinas Kebudayaan dan Parawisata bahwa praktek-praktek korupsi yang melanda itu sangat jauh dari nilai budaya, sebagaimana seorang Nenek Mallomo yang mengeksekusi anaknya sendiri karena terbukti mencuri. Pada hal seandainya Nenek Mallomo menggunakan kekuasaannya maka tentu hukuman yang diberikan kepada anaknya bersifat hukuman ringan bukan hukuman mati. Bagi Nenek Mallomo adat atau hukum tidaklah mengenal anak dan keluarga. Mungkin hal-hal seperti itulah yang kemudian tercabut dari nilai kebudayaan kita sebagai orang Bugis-Makassar.

Pada sesi terakhir para narasumber memberikan penekanan pada dua hal yakni strategi kebudayaan dan revolusi kebudayaan, tentu untuk mewujudkan semua itu diperlukanlah langkah-langkah dengan kajian, diskusi dan berbagai upaya untuk kembali menata kehidupan kita sebagai orang Bugis-Makassar.(AHD)

Komentar Pembaca