Curhat diMedsos,Penyakit Masa Kini

0
118
Nurfadilah Bahar/Mahasiswi UIN Alauddin Makassar
Penulis : Nurfadilah Bahar/Mahasiswi UIN Alauddin Makassar

 

Inspiratifnews.com-opini, Dalam beberapa kajian tentang teori komunikasi, tak pernah lepas dari teori Johari Window. Teori ini diperkenalkan oleh Joseph Luth dan Harrington Ingham. Sementara window (jendela) merupakan sebuah kaca jendela yang terbagi dalam beberapa kuadran. Kuadaran tersebut berisi tentang kemampuan seseorang dalam memahami dirinya sendiri baik perilaku, perasaan, dan pikirannya sendiri. Yakni, open area (diketahui diri sendiri dan orang lain), blind area(tidak diketahui oleh diri sendiri tapi diketahui orang lain), hidden area(diketahui diri sendiri tapi tidak diketahui orang lain), dan unknown area (tidak diketahui diri sendiri maupun orang lain).

Self disclosure atau disebut pengungkapan diri merupakan komunikasi interpersonal dengan berbagi perasaan dan informasi kepada orang lain. Pengungkapan diri termasuk ke dalam kuadran pertama(open area) dalam teori Johari Window. Setiap individu akan mengungkapkan pesan pribadi masing-masing yang disertai perasaan. Apakah lawan bicara akan menerima atau menolak pesan tersebut, apakah seseorang ingin lawan bicaranya mengetahui tentang dirinya, itu semua ditentukan oleh bagaimana individu dalam mengungkapkan dirinya.
Pada zaman sekarang, di mana kemajuan teknologi sangat pesat, pengungkapan diri seseorang khususnya remaja menghadapi tantangan yang cukup berat karena pengaruh gaya hidup remaja dan perkembangan teknologi yang semakin mempersempit peran orang lain dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam jurnal Retno Puspito Sari, dkk tentang pengungkapan diri mahasiswa tahun pertama Universitas Diponegoro yang ditinjau dari jenis kelamin dan harga diri, menyebutkan bahwa pada kenyataannya saat ini banyak mahasiswa yang mengalami individualisasi atau lebih senang melakukan segala sesuatu sendirian dan mulai mengabaikan peran orang-orang di sekitarnya. Sikap egois mengakibatkan seseorang remaja merasa asing dengan lingkungannya sehingga enggan untuk terlibat dalam pembicaraan yang mendalam dengan orang lain.
Media sosial seperti facebook, blackberry massenger, twitter, instagram, dan lainnya merupakan alat komunikasi yang paling efesien untuk mengungkapkan isi hati seseorang. Individu baik secara sadar maupun tidak sadar mampu mengungkapkan pribadinya dengan orang lain.
Pada dasarnya, wanita lebih banyak mengungkapkan dirinya dibandingkan pria. Berdasarkan hasil wawancara dari beberapa narasumber, hal tersebut disebabkan karena wanita lebih banyak bicara dan suka berbicara dengan orang lain. Wanita lebih suka bercakap-cakap bersama orang lain dan dalam percakapan tersebut terkadang disertai perasaan yang mendalam dan keinginan terhadap sesuatu. Sedangkan pria, lebih suka menyembunyikan perasaannya kepada orang lain. Karena menyampaikan perasaan yang mendalam dianggapnya sebagai kelemahan seorang pria.
Hal ini juga berlaku di media sosial. Wanita, khususnya remaja cenderung lebih suka berceloteh di media sosial. Segala perasaan yang muncul dalam hatinya dituangkan ke dalam tulisan lalu dipublikasikan ke media. Hal ini menimbulkan feedback luar biasa dari orang lain yang turut merasakan apa yang dialami oleh individu tersebut. Sehingga seorang wanita merasa dihargai dengan munculnya respon yang datang untuknya.
Sementara pria, masa-masa remaja adalah masa yang sangat rentan baginya untuk mencurahkan isi hati ke media. Namun, setelah muncul titik jenuhnya, mereka sudah meninggalkan kebiasaan tersebut.
Selain dipengaruhi oleh jenis kelamin, pengungkapan diri juga dipengaruhi harga diri. Seseorang yang memiliki harga diri yang tinggi, menganggap dirinya setara dengan orang lain. Sehingga mampu mengungkapkan dirinya kepada orang lain, baik yang baru dikenal maupun yang sudah lama dikenal.
Orang yang memiliki harga diri yang tinggi, cenderung lebih aktif di media sosial dibandingkan orang yang harga dirinya rendah. Mereka tidak merasa canggung jika berbicara di depan orang lain dan mampu bertukar informasi yang sifatnya pribadi. Pengungkapan diri yang tinggi pada orang dengan harga diri tinggi juga disebabkan karena adanya sikap jujur, terbuka dan percaya pada kemampuan sendiri.
Seseorang dengan harga diri rendah, pengungkapan dirinya melalui media sosial tidak terlalu sering. Ia merupakan seseorang yang tertutup dan tidak terlalu aktif dalam pembicaraan, melainkan hanya menjadi pendengar yang aktif. Sehingga komunikasi hanya berjalan satu arah.
Seseorang juga merasa enggan untuk mengungkapkan diri apabila orang lain menilai perilakunya buruk. Pengungkapan diri dapat dilakukan jika seseorang mau membuka daerah tersembunyi dengan cara memberikan informasi yang bersifat pribadi dan rahasia kepada orang lain. Sementara kesediaan untuk membuka diri berawal dari adanya penilaian positif terhadap orang lain.
Faktor lain yang mengakibatkan rendahnya pengungkapan diri seorang individu ialah ketika seseorang memisahkan diri dari lingkungan lamanya ke lingkungan yang baru. Seperti keluarga atau teman dekat. Perpisahan tersebut menimbulkan turunnya frekuensi pertemuan terhadap keluarga atau teman dekat sehingga hubungan dengan mereka pun mengalami penurunan. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Sarwono (1997, h. 197) bahwa kedekatan fisik merupakan faktor penting untuk peningkatan hubungan.
Belum tingginya pengungkapan diri seseorang menurut jurnal Retno Puspito Sari, dkk turut dipengaruhi oleh adanya norma budaya masyarakat, yang menganggap bahwa orang yang terlalu banyak menceritakan segala hal tentang dirinya terutama tentang kelebihan dan keberhasilannya, adalah orang yang sombong. Individu yang demikian akan kurang mendapat penerimaan dari lingkungan, bahkan cenderung dijauhi.
Selain itu, pengungkapan diri melalui sosial media juga dipengaruhi oleh kedewasaan berpikir seseorang. Seseorang dengan pikiran yang lebih matang akan beranggapan bahwa melakukan pengungkapan diri melalui media sosial akan lebih banyak membuang waktu dan membuat manusia hidup menyendiri dan asik dengan dirinya sendiri atau bahkan mengakibatkan berkurangnya interaksi di dunia nyata.
Perubahan pola hidup remaja yang cenderung lebih nyaman di dunia maya tersebut mengakibatkan renggangnya interaksi sosial dengan teman sebaya, keluarga, atau teman lainnya secara langsung dan tatap muka.
Menurut hasil survei, tujuh dari sepuluh orang menggunakan media sosial sebagai tempat mencurahkan isi hati. Media sosial dinilai sebagai cara terbaik untuk mendapatkan perhatian. Saat seseorang memperbaharui status, sebenarnya mereka hanya ingin mendapatkan simpati dari orang lain.
Dari pengamatan tersebut, pengungkapan diri melalui media sosial besar pengaruhnya terhadap pola hidup remaja. Dengan pengungkapan diri yang berlebihan, dapat menimbulkan efek negatif dan positif baik dirasakan secara sadar maupun tidak sadar.

Jadi, agar mampu melakukan pengungkapan diri yang tinggi, seseorang harus memiliki harga diri yang tinggi pula.  Sementara, seseorang yang pengungkapan dirinya rendah, bergantung pada faktor harga diri rendah, kedewasaan berpikir yang kurang matang, faktor pemisahan diri dari lingkungan, serta norma budaya masyarakat yang takut mendapat citra buruk dari masyarakat disekitarnya.

 

Komentar Pembaca