DALAM PANTOMIM PUN ADA LOGIKA

0
286

DALAM PANTOMIM PUN ADA LOGIKA
(Menanggapi Catatan Sayyid Ruslan Abdullah Al-mahdaly)

Oleh : Badaruddin Amir*

Sangat menarik membaca catatan cantik dari rekan Sayyid Ruslan Abdullah Al-mahdaly (selanjutnya saya singkat saja SRAA) –seorang sahabat saya– seniman teater dan pelatih pantomin—yang dimuat di dinding medsos berjudul “CATATAN PERLOMBAAN PANTOMIM PADA PLS2N DI KABUPATEN BARRU” (juga saya singkat “CPPPPKB” untuk memudahkan pembahasan). Tulisan ini bagi saya memiliki dua makna. Pertama, sebagai salah seorang dewan juri dari lomba yang dimaksud, saya memaknainya sebagai evalusi terhadap kinerja dewan juri secara keseluruhan. Dan kedua, sebagai seorang sahabat SRAA yang memiliki banyak kenangan bersama dalam berkesenian khususnya di kabupaten Barru, saya memaknainya sebagai sebuah isyarat untuk kembali berdiskusi sebagaimana yang sering kami lakukan dengan beliau baik secara tertulis maupun diskusi-didkusi langsung. Dan ajakan diskusi dari SRAA kali ini adalah mengenai pokok soal penilaian pantomim. Semogalah diskusi ini bernilai ilmiah.

Dalam tulisan “CPPPPKB” tersebut setidaknya ada tiga strong point yang dicoba ungkap oleh SRAA. Pertama SRAA menilai (tepatnya “mempertanyakan”) objektivitas dewan juri yang menurutnya kurang serius memperhatikan beberapa adegang penting dalam sebuah pantomim. Memperkuat dugaan SRAA ia mengatakan:

“…dengan menonton youtube disaat lomba tentu akan menghadirkan kontrofesi (maksud beliau mungkin “kontroversi” –BA) untamanya bagaimana menghadirkan penilain yang universal dan obyektif. Saya pastikan ada beberapa adegan yang terlewatkan…”. (kesalahan ketik pada kutipan ini tidak saya ganggu-gugat -BA).

Universal dan objektif seperti apa yang dimaksud SRAA kurang saya pahami, karena acuan “universal” yang merupakan warisan Plato sudah lama terbantahkan. Sebagai seniman seharusnya SRAA mengetahui bahwa teori dan filsafat seni sudah sangat berkembang. Dalam kesadaran kenyataan tidak ada satupun nilai yang bersifat “universal” lagi, tapi yang ada adalah nilai-nilai “kontekstual” karena segalanya memiliki konteks. Kitab Lagaligo yang dinilai secara universal memiliki gaung demikian mendunia, pun sesungguhnya dalam konteks nilai tidak lebih dari hanya mengaktualisasikan nilai-nilai budaya Bugis.

Demikian juga tidak jelas apa yang dimaksud SRAA dengan “objektif” sebagai cara pandang kesenian kita. Sejak Plato pula –kemudian turun ke muridnya Aristoteles, kontroversi cara pandang “objektivitas” dan “subjektivitas” dalam kesenian telah menjadi perdebatan yang renyah. Dan dalam kritik seni modern teori atau filsafat seni klasik ini juga telah lama ditinggalkan. Kecuali jika para pengeritik masih memahami objektivitas dan subjektivitas dalam maknanya yang salah kaprah. Tapi saya kira saya tidak perlu mengulang uraian ini karena SRAA sudah me-like tulisan saya sebelumnya berjudul “Catatan Ringan Pra Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) Kabupaten Barru : MENYOAL SUBJEKTIVITAS PENILAIAN DEWAN JURI” yang dimuat pada dinding Forum Kreatif Pendidikan Seni dan Budaya.

Strong point kedua SRAA mengatakan bahwa pantomim adalah teater yang menggunakan gerak dan mimik sebagai pengganti bahasa verbal, sambil mengakui pula bahwa make up adalah pendukung yang penting untuk menciptakan atmosfir suasana dan peran dalam pantomim. Saya sependapat SRAA dengan pernyataan tersebut, tapi sayangnya SRAA tak menjelaskan atau menunjukkan gerak dan mimik (serta make up) yang baimana yang dapat mewakili percakapan verbal untuk menunjukkan sesuatu yang bernilai absurd dan melawan logika. Ini sangat penting karena kritikan SRAA berpangkal pada sebuah pantomin “absurd” berjudul PELAUT yang dipentaskan oleh anak-kita dari SD Kecamatan Barru malam itu, yang merupakan pantomim binaannya sendiri itu. Absurditas tersebut saya ketahui setelah membaca dengan cermat argumen SRAA sebagaimana yang akan saya kutif di bawah ini nanti. Tudingan SRAA bahwa ada beberapa adegan terlewatkan (tidak diperhatikan oleh dewan juri-BA) yang tentunya oleh SRAA dianggap sebagai adegan kunci, rupanya juga pada strong pint ini.

Strong point ketiga yang diungkap SRAA –dan ini yang sangat krusial, mengenai interpretasi yang berbeda. Ini berkaitan pula dengan strong point pertama tadi yang menyinggung kelalaian dewan juri sehingga konon tidak memperhatikan beberapa adegan penting dari pantomim binaannya. Pantomin tersebut berjudul “Pelaut” (demikian yang bisa saya ingat). Dalam sinopsis singkat pantomim tersebut menceritakan tiga orang pelaut yang pergi mencari ikan di laut dengan menggunakan cara-cara yang yang paling tidak ramah lingkungan dan dilarang oleh pihak yang berwajib, yaitu menggunakan “bom”. Adegan meledakkan “bom” ini ditunjukkan dengan jelas oleh gerakan, mimik maupun suara yang menggelegar dari sound sistem yang mendukung pertunjukan itu. Imajinasi kita yang berada di luar adegan itu tentulah membayangkan jutaan ikan besar-kecil bergelimpangan di laut dan akibat dari tindakan itu adalah biota laut menjadi rusak. Para pelaku yang ditunjukkan melalui mimik dan gerakan tampak gembira dengan hasil yang demikian banyak. Terbukti dari tak seorangpun pelaku yang merasa perlu menunjukkan gerak dan mimik sedih atau menyesali perbuatannya. Semua menunjukkan gerak dan mimik gembira dan bahkan cenderung “konyol”.

Kekonyolan tersebut sesungguhnya baru saya ketahui setelah SRAA mengungkapkannya sendiri bahwa ternyata ada pelaku yang demi mencegah temannya meledakkan “bom” berikutnya terpaksa nekad merampas dan menelan “bom” kedua dan ketiga yang sudah siap lempar tersebut dan kemudian meledak menjadi (maaf) …kentut !

Susah payah saya membayangkan bagaimana sebuah plot cerita yang dari awal berjalan secara konvensional, tiba-tiba berubah menjadi sebuah cerita absurd dan melawan logika yang sungguh-sungguh tak dapat diapresiasi oleh anak-anak seumur SD yang melakonkannya, kecuali jika ia memang dimaksudkan sebagai sebuah lawakan. Padahal dalam pantomim pun masih ada logika. Anak-anak bolehlah tertawa jikapun mereka menangkap adegan konyol itu, tapi apresiasi orang dewasa terus saja memancarkan penolakan karena telah merusak logika. Lain soal jika dari awal bertuk pertunjukan itu memang bergenre absurd seperti yang sering dipentaskan oleh teater yang dipimpin oleh SRAA.

Itulah sebabnya saat mewakili dewan juri untuk sebuah testimoni pada malam itu juga, saya menguraikan bahwa pantomim berjudul “Pelaut”, dari kreteria penilaian mimik dan gerakan, kekompakan para pelaku, sesungguhnya merupakan sebuah pertunjukan yang bagus. Hanya sayangnya, saat kacamata dewan juri mulai diarahkan pada tema –yang salah satunya harus konsekwen dengan pemeliharaan lingkungan hidup, harapan dewan juri longsor dan tak bisa merkata apa-apa. Bahkan salah seorang dewan juri yang juga seorang teaterawan dan pendongeng kelas internasional, yang telah mengusung pentas La Galigo keliling dunia bersama rombongannya, yaitu saudara Faisal Yunus awalnya mencak-mencak di samping saya mengatakan “Pelaut” adalah pantomin yang bagus. Ia sudah menunggu “ending” yang mendebarkan dan mecoba mendahului persepsi orang lain bahwa adegan yang bakal menutup pantomim tersebut adalah sebuah ledakan dahsyat yang akan membuat semua pelakunya terkapar di atas panggung dan menjadi pesan kuat tanpa kata-kata slogan bahwa menggunakan bom untuk menangkap ikan itu memang berbahaya dan merusak kehidupan. Seandainya itu yang terjadi maka semua dewan juri saya kira akan sepakat untuk mengunggulkan pantomim tersebut.

Tapi tidak ! Yang terjadi adalah adegan yang nyaris tak tertangkap karena kurangnya penguatan pada mimik dan gerakan di akhir pementasan tersebut. Yang terjadi konon sebagaimana yang diungkapkan oleh SRAA sebagai alasan konseknya pada lingkungan hidup ini adalah salah seorang pelakunya menelan bom-bom siap ledak itu. Saya kutif alasan yang bertentangan dengan logika ini agar kita dapat menikmati kembali narasi kekonyolan itu :

“… dalam sesi pertunjukan kita saksikan Aktor I menyalakan api dan membakar bom dan melemparnya ke laut dan meledak namun aktor-2 memberi isyarat itu tidak benar sehingga ia mengambil bom kedua lalu menelanya sehingga meledak menjadi kentut. Lalu aktor 1 lagi mengambil bom ke-3 dan menyalakannya dan ketika hendak melemparkan, aktor 2 menggagalkannya dengan merampas dari tangan aktor 1 lalu menelanya kembali dan lagi lagi berubah kentut.

Bagi saya (SRAA) pesan ini sangat jelas, PERTAMA bagaimana mungkin kita bisa tahu ini bom kalau sekiranya bom pertama tidak diledakkan. KEDUA sang pelatih ingin memberikan pesan kepada kita yang menonton bahwa pengeboman itu itu dilarang dengan peran aktor ke dua yang senantiasa mau menggagalkan pengeboman. KETIGA bahkan dengan tegas menilai orang yang mengebom ikan sama dengan kentut dengan bahasa keseharian kita Engka ETTU MUALA.”

Saya kira tidak perlu panjang-panjang menguraikan argumentasi ini karena khawatir akan menjadi argumen tak ilmiah. Saya menghormati setiap kritikan baik pada pribadi maupun selaku salah seorang dewan juri dari FL2 SN Tingkat Kabupaten Barru. Saya pribadi sangat respek pada SRAA karena beliau adalah bagian dari proses kretif saya selama ini. Kritikan SRAA saya kira adalah model ketidak puasan yang diungkapkan melalui jalur yang sudah benar dan saya menghargai itu. Lepas dari semua itu “polemik” kesenian yang argumentatif memang harus ditumbuhkan agar kita tak terjebak pada argumen-argumen picisan sebagaimana yang ditulis dalam komen-komen para jamaah fesbuk yang tidak mengetahui duduk persoalan sesungguhnya dan sok menjadi pahlawan.

*Tokoh Sastrawan Indonesia

 

Komentar Pembaca