Deng Ical dan Datu Yahya Saling Balas Pantun

0
101

Inspiratifnews.com – Makassar – Wakil Walikota (Wawali) Makassar DR Syamsu Rizal menggelar malam ramah-tamah (Marta) menyambut tamu dari Negeri Jiran. Tamu asal Malaysia itu disambut di Baruga Anging Mammiri, Rumah Jabatan Walikota Makassar, Sabtu (26/3/2016).

Sambutan tersebut digelar dalam rangka kerja sama penelitian kolaboratif antara Universitas Sultan Zainal Abidin (Uniza) dengan Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin. Diketahui, Uniza berada di Trengganu, Malaysia.

Mengenai penelitian kolaboratif itu sendiri, Wakil Walikota Makassar yang akrab dipanggil Daeng Ical ini menyerukan, “Kita menapaki lagi sejarah yang akan menentukan peradaban antara Trengganu dan kota Makassar.”

Dari kerja sama intelektual tersebut telah terbit dua buah buku. “Itu menunjukkan hasil budaya intelektual antara UIN dan Uniza yang akan sangat penting artinya bagi peradaban,” ujar Daeng Ical.

Daeng Ical memprihatinkan bagaimana situasi pragmatis yang bisa saja menggerus budaya di Makassar dan kota-kota di Indonesia.

“Dulu, banyak mahasiswa Malaysia belajar ke Makassar. Sekarang kebalikannya. Mungkin karena dunia pendidikan atau literasi di Makassar sedikit ketinggalan dari Trengganu,” kata Daeng Ical.

Menurut Daeng Ical, harus muncul upaya mengembalikan ghirah peradaban di Makassar dengan mengaktualkan lagi budayanya sehingga Makassar dapat kembali sejajar dengan pusat-pusat peradaban maju lain.

Sementara Ismail Suwardi Wekke, Ph.D. pengurus Masika ICMI selaku penyelia kerja sama penelitian kolaboratif antara Uniza dan UIN Alauddin memaparkan beberapa hal.

“Sepuluh peneliti Universitas Sultan Zainal Abidin dan sepuluh peneliti UIN Alauddin selama setahun ini sudah melakukan penelitian kolaboratif. Sudah menghasilkan dua buku yang akan dipamerkan di Frankfurt Book Fair mendatang,” ucap Ismail.

Diungkapkan Ismail bahwa penelitian kolaboratif ini diinisiasi Prof Dr Datu Yahya Ibrahim, Knight Conselor (Rektor) Univ Sultan Zainal Abidin.

“12 tahun lalu pertama kali saya ke Makassar sampai ke Tanjung Bira di Bulukumba. Saya membuat dua film dokumenter bertajuk ‘Sosial Budaya Bugis, dan tentang pembuatan kapal Phinisi,” kata Datu Yahya.

Malam ramah-tamah diakhiri dengan indah. Dua pantun dilantunkan tamu dan tuan rumah.

“Pergi berlayar menaiki Phinisi
singgah sebentar di Tj Bira
kita belajar sambil berbudi
agar hidup menjadi sejahtera,” pantun Datu Yahya.

Pantun itu dibalas Daeng Ical.

“Ayam betina ayam jantan
burung nuri burung ketilang
sekali datang ke kota Mks
rasanya tak mungkin kita lupakan,” lantun Daeng Ical berpantun.

 

Komentar Pembaca