Di Kokas Tersimpan, 4 Situs Unik dan Sejarah Perang Dunia II

0
281

Inspiratifnews.com-Kokas, Kokas atau Kokah menurut bahasa orang asli sana yang artinya isi, karena Kokas menyimpan berbagai hasil di peruk Bumi, Kokas juga merupakan Distrik tertua di Kabupaten Fakfak semenjak Mimika dan Kaimana berdiri sendiri menjadi Kabupaten, Distrik tertua yang sedang diperjuangkan menjadi suatu Kabupaten baru yang terpisah dengan Kabupaten Fakfak ternyata menyimpan situs sejarah yang pantut di kelola sebagai potensi Wisata di daerah ini. Berikut ikuti tulisan Enrico R.Letsoin.

Kokas atau Kokah yang berarti “Isi”, sesuai dengan namanya memang benar kalu Distrik tertua di Kabupaten Fakfak menyimpan berbagai kekayaan alam yang tersimpan dan dapat dikelola menjadi sumber objek wisata yang terpendam. Untuk mengunjungi situs sejarah di Kokas, anda hanya menempuh waktu 2 jam melalui jalan darat dengan jarak tempuh 50 kilo meter, kalau menggunakan kendaraan angkutan umum anda hanya mengeluarkan biaya sebesar Rp. 25.000,- dari Kota Fakfak.

Dalam perjalanan darat dari Fakfak ke Kokas yang menempuh jarak 50 kilo meter anda akan dibawah mendaki hingga ketinggian sehingga anda akan merasa sejuk tanpa Air Conditioner (AC) bahkan pemandangan alam yang indah dengan hutan yang masih perawan. Bila sudah tiba di Kokas dan untuk mengunjungi situs sejarah peninggalan Perang Dunia ke – II, Masjid Tua, Situs Purbakala Tapurarang maupun kerangka manusia yang tersimpan di dalam gua anda harus mencari gaet lokal yang dapat menunjuk jalan mengunjungi lokasi situs tersebut.

Dan bila tiba di ibu Kota Disrik Kokas, lebih dulu akan bertemu situs sejarah perrang dunia ke – II berupa benteng pertahanan Jepang melawan sekutu pada tahun 1942 – 1945, goa dibawah kaki bukit gunung yang dijadikan sebagai tempet pesembunyian sepanjang 138 meter dengan 3 bunker pengintai militer Jepang berukuran 4 meter persegi.

Bila melihat goa yang terletak di perut bukit akan membuat penasaran untuk memasuki goa yang gelap gulita, untuk menelusuri gua jepang yang menghadap kelaut guna memantau kapal sekutu yang melintasi perairan Kokas, dibutuhkan alat penerang beupa pelita atau senter untuk penyusuan. Gua benteng pertahanan militer Jepang di perang dunia ke – II benar benar gelap gulita. Cahaya mataharii hanya memandu dari bibir gua.

.Namun, justru di sinilah letak sensasi menyusuri goa berada. Rasa penasaran tidak akan serta merta terjawab saat memasuki goa. Dalam minusnya cahaya, Anda masih harus meraba dan mencari ‘kejutan’ di setiap sudut goa yang di lalui. Rasanya terlalu sayang untuk melewatkan setiap detail kemewahan lorong di dalam goa. Anda akan menjumpai banyak ruangan yang disekat menyerupai kamar tidur.

Setelah menelusuri gua benteng pertahanan militer Jepang dan bila ingin menelusuri sensasi situs sejarah yang lain anda dapat mengunjungi gua tengkorak manusia yang berada di Kampung Andamata Distrik Kokas, Untuk mencapai situs sejarah ini anda harus mengunakan kendaraan laut loang boath. Tulang belulang manusia yang menumpuk di tebing dan gua di yakini sebagai kerangka leluhur masyarakat Kokas. Zaman dahulu masyarakat di sini memiliki kebiasaan meletakkan jasad leluhur yang meninggal di tebing batu, gua, tanjung ataupun di bawah pohon besar yang dianggap skral, sehingga bila mengunjungi tengkorak manusia di gua atau tebing batu akan terasa merinding bulu kuduk anda.

Selain tengkorak manusia, situs sejarah purbakala yang bisa dikunjungi adalah situs purbakala Tapurarang, peninggalan sejak zaman prasejarah ini bisa dijumpai di Andamata, Fior, Forir, Darembang, dan Goras. Keunikan lukisan berupa gambar telapak tangan manusia dan binatang di dinding tebing tersebut? Meski sudah berabad-abad lamanya, lukisan yang dibuat dengan pewarna dari bahan-bahan alami tersebut masih tetap terlihat jelas hingga saat ini. Warna merah pada lukisan tebing ini juga menyerupai warna darah manusia. Karenanya masyarakat setempat juga sering menyebut lukisan tersebut sebagai lukisan cap tangan darah.

Bagi masyarakat setempat, lokasi lukisan tebing ini merupakan tempat yang disakralkan. Mereka percaya lukisan ini adalah wujud orang-orang yang dikutuk oleh arwah seorang nenek yang berubah menjadi setan kaborbor atau hantu yang diyakini sebagai penguasa lautan paling menakutkan. Nenek ini meninggal saat terjadi musibah yang menenggelamkan perahu yang ia tumpangi. Cap-cap tangan yang berada didaerah itu mempunyai kemiripan dengan beberapa lukisan dinding seperti yang terdapat di Sangkulirang (Kutai Timur, Kalimantan Timur) atau di Gua Leangleang (Maros, Sulawesi Selatan).

Situs sejarah lainnya yang dapat dikunjungi adalah Masjid Tua Patimburak yang dibangun pada tahun 1870 oleh imam Abuhari Kilian. Pada masa penjajahan, masjid ini bahkan pernah diterjang bom tentara Jepang. Buktinya kejadian tersebut dapat terlihat dipilar Masjid yang terdapat lubang bekas peluru. Aura tradisional muncul saat menyambangi lokasi masjid tua ini. Di kampung yang dihuni tak lebih dari 35 kepala keluarga tersebut didapati kesederhanaan yang menyatu dari bangunan masjid dan kehidupan masyarakatnya.

Masjid ini memiliki keunikan pada arsitekturnya, yaitu perpaduan bentuk masjid dan gereja. Musa Heremba, imam Masjid Tua Patimbuak ini telah mengalami beberapa kali renovasi namun tetap mempertahankan bentuk aslinya seperti empat buah pilar penyangga yang terdapat di dalam masjid. Masjid Tua Patimburak, merupakan salah satu bukti sejarah penyebaran Islam di Kokas dari pengaruh kekuasaan Sultan Tidore.

Sumber : Indopos

Komentar Pembaca