Disebut Lindungi Teroris, Anton CH dikecam Angkatan Muda Muhammadiyah

0
52

Inspiratifnews.com – Makassar, Kapolri Jenderal Badrodin Haiti kembali merotasi jabatan strategis terhadap perwira menengah (Pamen) dan perwira tinggi (Pati) berdasarkan telegram rahasia (TR) Nomor: ST/936/IV/2016 tertanggal 14 April 2016.

Dalam surat tersebut, Kapolda Banten Brigjen Boy Rafli Amar kembali lagi ke Humas Polri dengan menjabat sebagai Kepala Divisi Humas Polri menggantikan posisi Irjen Anton Charliyan. Sementara, Anton Charliyan menjabat sebagai Kapolda Sulsel menggantikan Irjen Pudji Hartanto.

Seperti diketahui pada media cetak, elektronik dan online, bahwa Muhammadiyah memberikan Advokasi pada terduga teroris oleh Densus 88 almarhum Siyono, dan sesuai hasil visum oleh tim dokter forensik muhammadiyah yang menyatakan ada luka kekerasan yang dilakukan Densus 88, kala itu Anton CH berikan keterangan Pers yang mengatakan Ada Ormas yang berupaya lindungi teroris, hingga Anton CH dimutasi ke Polda Sulsel.

Menanggapi kepindahan Anton CH di Sulawesi Selatan, sejumlah Pimpinan Organisasi Otonom (Ortom) Muhammadiyah yang tergabung Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) Sulawesi Selatan menolak kehadiran Anton CH menjabat Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Sulawesi Selatan.

AMM Sulsel berdalih, statemen Anton CH dihadapan awak media membuat warga Muhammadiyah geram dan merasa dilecehkan terhadap pernyataan Anton CH, Ketua Pemuda Muhammadiyah Sulawesi Selatan, Mahyuddin sangat menyayangkan statemen Anton CH yang menyebut Muhammadiyah lindungi teroris, Sikap Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah sudah sangat tegas memberikan pencerahan menangani teroris dalam bentuk advokasi seutuhnya pada keluarga siyono, ujarnya.

Jauh sebelum Republik ini ada, Muhammadiyah senantiasa memberikan pencerahan sesuai tuntutan zaman, sehingga meminta Anton CH untuk segera bertaubat atas tudingan tersebut, sebab Anton CH dinilai tidak memahami kondisi kekinian dan keberagaman yang ada di Indonesia, ujar Mahyudin saat dihubungi via telepon oleh inspiratifnews.com, kamis (14/4).

Hal senada juga disampaikan Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah (2005-2015) Din Syamsudin meminta masyarakat,  pemerintah khususnya Polri untuk memahami langkah yang diambil PP Muhammadiyah guna mendampingi keluarga terduga teroris, Siyono.

“Sebagai mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, saya meminta masyarakat dan pemerintah memahami langkah Muhammadiyah dalam melakukan advokasi dengan keluarga Siyono,” katanya setelah meresmikan Fakultas Kedokteran di Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMS), seperti yang dilansir sangpencerah.com, Kamis (14/4/2016).

Din Syamsuddin mengatakan keluarga Siyono meminta pendampingan kepada Muhammadiyah untuk melaporkan kematian Siyono ke Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) karena sebelum meninggal, Siyono terlebih dahulu ditangkap tim Detasemen Khusus (Densus) 88/Antiteror.

“Langkah Muhammadiyah merupakan sesuatu yang wajar dan harus diambil. Keluarga Siyono menanyakan penyebab kematian Siyono karena adanya perbedaan versi dari hasil visum Polri dengan tim independen PP Muhammadiyah,” jelasnya.

Menurut hasil visum Polri, Siyono tewas setelah terkena benda tumpul di kepalanya akibat melakukan perlawanan, namun tim forensik independen dari PP Muhammadiyah menyimpulkan Siyono tewas karena patah tulang di bagian dada yang mengarah ke jaringan jantung. (ish)

BAGIKAN

Komentar Pembaca