Festival Film Disabilitas Buat Juri Tercengang

0
240

Inspiratifnews.com – Jakarta, Tahun ini banyak peningkatan dari segi kualitas filmnya,” kata Tomy W. Taslim pada saat pleno penjurian kompetisi film Festival Film Disabilitas #3 pada tahun 2016 ini. Tomy dan dua orang lainnya yaitu Budhi Hermanto dan Ananto Sulistiyo didapuk oleh panitia menjadi Dewan Juri pada festival kali ini. Mereka memilih karya-karya film terbaik baik dari pelajar maupun dari umum/ mahasiswa sebagai pemenang.

Ketiganya sepakat bahwa pada tahun ini terjadi peningkatan kualitas film yang signifikan. Pada festival sebelumnya, film-film yang muncul, terutama pelajar, masih banyak yang mencitrakan difabel sebagai the others/ liyan. Pendapat senada ini juga diungkapkan oleh dewan juri festival sebelumnya yaitu Zaki Habibi, Dosen Ilmu Komunikasi yang fokus pada kajian media dan budaya visual di Universitas Islam Indonesia.

Zaki mengatakan bahwa pada Festival Film Disabilitas #2 difabel tidak dilihat sama dengan entitas dan anggota masyarakat yang lain. Namun kini, pada festival tahun ini, kondisinya sudah berbeda. Artinya, ada peningkatan, seperti kata Tomy di awal.

Beberapa juri tahap I pada festival kali ini juga mengatakan bahwa film-film pada Festival Film Disabilitas kali ini banyak membuat tercengang. “Tidak terpikir aja idenya bisa seperti itu,” kata Nur Widya, aktivis difabel Sasana Integrasi dan Advokasi Difabel (SIGAB), saat penjurian tahap I dilakukan.

Senada dengan Nur Widya, Sutijono dari Sapda (Sentra Advokasi Perempuan, Anak, dan Difabel), mengungkapkan bahwa film-film pada festival ini, terutama film pelajar, sudah mulai membuat film yang inklusif. Maksudnya, film sudah melibatkan interaksi antara beda difabel dan yang bukan difabel. Interaksinya pun positif, saling bantu dan bukan merendahkan antar sesama.

Wening Fikriyati, Manajer Program Festival Film Disabilitas #3, juga menambahkan bahwa meskipun banyak film yang tidak sesuai kriteria teknis sinematografi, tetapi kesemuanya sudah memenuhi apa yang festival ini usung dengan sinema advokasi. Sinema advokasi merujuk pada istilah film yang punya daya lontar khusus untuk mengadvokasi difabel.

Mulai saat ini sudah harus kita tinggalkan pandangan dan stereotype bahwa difabel itu miskin, merepotkan, peminta-minta, mengiba, dikasihani. Sebaliknya kita harus mulai bergerak bersama difabel memenuhi hak setiap warga negara yang sering dicerabut, termasuk yang sering dialami pada difabel.

Artinya, film-film pada tahun ini, meski tidak semua, sudah banyak yang mengedepankan konsep masyarakat inklusi. Konsep inklusi yang melihat bahwa kondisi inklusi itu bukan saja pada pemenuhan hak difabel, melainkan juga semua elemen dalam masyarakat seperti perempuan, anak, dan kaum miskin. Peran-peran dan posisi perempuan difabel dalam film sudah dimunculkan tidak terjebak seperti stigma atau stereotype masyarakat pada umumnya terhadap difabel perempuan yang selalu dicitrakan miskin, peminta-minta, terhina, atau bahkan mengiba.

Kesemua film yang telah dipilih oleh juri tersebut akan diputar pada malam penganugerahan yang sekaligus mengambil momentum peringatan Hari Difabel Internasional (International People with Disability Day) yang jatuh pada 3 Desember lalu. “Festival ini dapat terwujud karena dukungan dari banyak pihak seperti @america, SAPDA, SIGAB, Infest Yogyakarta, Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) DIY dan Masyarkaat Peduli Media (MPM),” kata Anugrah P. W., Direktur Festival Film Disabilitas #3.

Festival Film Disabilitas #3 menganugerahkan penghargaan pada pemenang kompetisi ini di Jakarta pada 17 Desember 2016 di @america (Pacific Place Mall, Lantai 3, Jakarta). Kegiatan ini secara umum bertujuan untuk mengarusutamakan isu disabilitas/difabel dalam keseharian kita. Masih banyak orang yang “bergidik” dan mengiba ketika melihat difabel.

Padahal difabel sendiri hadir tidak meminta untuk dikasihani, tapi dihargai dan dipenuhi haknya. Maka dari itulah masyarakat yang inklusi adalah impian dari tujuan itu. Inklusi sosial, inklusi untuk difabel, perempuan, anak, dan segala macam golongan. Penghargaan pada semua.

Menariknya, festival kali ini bukan sekadar seremoni penghargaan, festival kali ini juga menggelar Workshop (masterclass) film dan gerakan sosial difabel pada hari yang sama. Jason Zeldes (sutradara film dokumenter), Donte Clark (Seniman Literatur), dan Nurul Saadah (Direktur Sapda) bergantian bicara tentang film dan perubahan sosial.

Zeldes berbagi tentang pengalamannya memproduksi film dokumenter Romeo is Bleeding yang berusaha melakukan perubahan sosial dan menghentikan perang antar daerah di Richmond California. Donte Clark lah si aktor yang menceritakan usahanya dalam melakukan perubahan sosisal di Richmond.

Sedangkan Nurul Saadah dan Zeldes juga mendiskusikan bagaimana film dapat mengadvokasi difabel dan kaum marginal lainnya.

Lalu bagaimana seni pada khususnya dapat digunakan untuk mengarusutamakan isu disabilitas/difabel sehingga mendorong kesadaran banyak orang bahwa masyarakat yang inklusi itu adalah kewajiban. Difabel atau bukan adalah sama dan perubahan sosial lewat film itu mungkin dan wajib. (*)

Komentar Pembaca