Film Silariang, Kisah Muda Mudi Bugis Makassar

0
919

 

Inspiratifnews.com – Makassar, Pemandangan menggetarkan menjelang senja di pantai Losari menjadi saksi kesungguhan cinta dari Yusuf [25] kepada Zulaikha [22]. Setelah berpacaran lama, Yusuf memberanikan diri melamar kekasihnya. Namun kisah cinta yang manis itu mengalami hambatan dari orang tua kedua belah pihak, Ayah Yusuf dari keluarga jelata yang pernah ditolak oleh wanita bangsawan, dan Ibu Zulaikha, yang teguh menjaga kelestarian darah biru keluarga mereka.

Cinta yang sudah mengakar pada diri Yusuf dan Zulaikha, sehingga keduanya bersepakat memilih jalan pintas: Silariang [bahasa Makassar yang berarti Kawin Lari]. Mereka berdua sadar bahwa pilihan Silariang berarti mengusik siri’ (harga diri dan martabat) keluarga besar keduanya, terutama dari pihak Zulaikha. Namun keduanya nekat.

Yusuf dan Zulaikha sesungguhnya tak punya ide bagaimana menjalani hidup nan terasing. Yusuf yang berasal dari keluarga kaya tak pernah mengerjakan pekerjaan kasar. Zulaikha juga tak pernah dibiarkan mengerjakan pekerjaan rumah tangga.

Namun pilihan Silariang telah mengubah kehidupan mereka. Hidup yang selalu kekurangan uang, harus bekerja keras dan kasar, dan berbagai kesulitan yang harus dihadapi. Tapi mereka mencoba bertahan dalam keteguhan cinta, yang juga mendapat ujian. Berhasilkah mereka melewati ujian demi ujian yang seperti datang tak habis-habisnya?

Film SILARIANG yang diproduksi hasil kerjasama Inipasti Communika dan Indonesia Sinema Persada ini hadir dengan konten lokal Makassar, Sulawesi Selatan yang sarat dengan keteguhan budaya.

Diproduseri oleh Ichwan Persada [Hijabers in Love, MIRACLE: Jatuh Dari Surga], film ini tak hanya menampilkan sisi budaya Bugis–Makassar, tetapi penonton akan disuguhi pemandangan alam luar biasa di Rammang-Rammang, Maros, Sulawesi Selatan sebagai lokasi syuting.

Ichwan Persada sendiri sudah memiliki pengalaman yang mumpuni sebagai seorang produser dalam masa 10 tahun karirnya di perfilman nasional. Diantaranya pernah menjadi produser nomine Film Dokumenter Terbaik Festival Film Indonesia 2011. Film SILARIANG akan menjadi karyanya yang ketujuh. Setelah syuting film di Jakarta, Bandung, Solo, Entikong hingga Jepang, kini dia memilih Makassar, kampung halamannya sendiri, untuk menghasilkan karya seninya itu.

Bagi Ichwan, tema Silariang sangat unik karena cukup sulit dilakukan oleh pasangan muda yang mengalami hambatan dalam cinta, karena nyawa menjadi taruhannya. Ini menjadi diferensiasi dari film Indonesia kebanyakan. Ia pun mengakui bahwa sesungguhnya sejak dulu ia ingin menggarap tema ini namun baru terwujud sekarang. “Silariang itu menarik karena punya banyak dimensi. Ceritanya juga masih bisa diolah menjadi sesuatu yang segar dan mengejutkan. Dan yang terpenting adalah ia masih bisa relevan dengan khalayak penonton bioskop masa kini, “ ujarnya.

Didukung oleh penulis skenario, Oka Aurora, Ichwan merasa yakin bisa menggarap film ini dengan apik. Dia juga sudah berpartner dengan Oka dalam film Hijabers in Love. Penulis skenario terpuji dalam Festival Film Bandung 2014 itu mengaku deg-deg-an menggarap naskah film ini. “Silariang memang menantang tapi juga bikin deg-degan. Karena film ini tak sekedar kisah cinta, juga ada unsur budaya yang cukup kental. Sebagai orang yang bukan berasal dari Makassar, saya harus sangat berhati-hati ketika merangkai adegan demi adegan. Riset dan konsultasi dengan banyak pihak menjadi wajib agar skenario yang kami susun juga menjadi semakin matang, “ ujar perempuan berjilbab ini.

Kini film SILARIANG sudah memasuki tahap pra-produksi. Pengambilan gambar akan dilakukan di Makassar, Maros dan Pangkep, dan direncanakan berlangsung pada minggu ke-3 Oktober 2016.

Kasting yang dilakukan di Makassar untuk mendapatkan pemain pendukung, disambut respon yang sangat baik oleh masyarakat. Hasil open casting yang sudah dilakukan telah menjaring 1000 talent yang antusias ingin ikut serta bermain di film SILARIANG ini.

Wisnu Adi yang bekerjasama sebelumnya dengan Ichwan di Cerita Dari Tapal Batas dan MIRACLE: Jatuh Dari Surga didapuk sebagai sutradara. Sementara Bisma Karisma [Juara] dan Andania Suri [Rumah di Seribu Ombak, Hijabers in Love, Beauty and the Best] akan menjadi pemeran utama yang diperkenalkan secara resmi via konferensi pers pada Kamis, 15 September 2016 bertempat di Kemang, Jakarta Selatan. (*)

Komentar Pembaca