Full Day School, Solusi atau Masalah?

0
6920

Full Day School, Solusi atau Masalah ?

Oleh : Ilmiawan*

Inspiratifnews.com Program Full Day School merupakan wacana baru yang dikemukanan dalam dunia pendidikan oleh Kemdikbud yang baru bapak Muhajir Efendy. Wacana ini sangat buming diperbincangkan oleh masyarakat, terkhusus orang yang bergelut di dunia pendidikan. Bagaimana tidak, pendidikan merupakan hal yang sangat sentral bagi keberlansungan suatu bangsa. Segala kebijakan yang berkaitan dengan pendidikan itu sangat mempengaruhi keberlangsungan tatanan kehidupan kedepannya.

Program Full Day School ini sebuah solusi pendidikan ataukah justru menjadi masalah baru?. Pertanyaan ini menjadi pertanyaan yang akan bermunculan disetiap perbincangan masalah pendidikan. Bahkan asumsi-asumsi bermunculan sangat banyak. Terus bagaimana dengan siswa nantinya? Tidakkah ia menjadi orang yang stres karena diformat menjadi seperti robot yang harus belajar satu hari full?

Ya, Full Day School bukanlah sebuah program pendidikan yang sehari full berada disekolah namun ini merupakan konsep dimana sekolah menjadi rumah kedua bagi peserta didik. Hal ini bertujuan agar siswa nantinya tidak terjebak pada kegiatan yang kurang bermanfaat seperti ke warnet main game, keluyuran ke mall, dan bahkan sesuatu yang sangat menyimpang seperti tawuran antar siswa.

Kegiatan belajar yang dilakukan nantinya sama seperti biasanya, namun bedanya hanya pada tambahan jamnya. Ya, kalau biasanya setengah hari siswa belajar maka konsep Full Day School ini juga seperti itu, namun sisa waktunya sampai sore itu digunakan untuk kegiatan pembentukan karakter. Konsep kegiatan pembetukan karakter itu diisi dengan kegiatan yang bermanfaat dan menyenangkan siswa. Hal ini juga bertujuan untuk menjalin keakraban sesama siswa dan siswa dengan gurunya. Kegiatan tambahan ini berupa kegiatan ekstrakurikuler.

Konsep ini juga sangat mebantu Orang Tua siswa itu sendiri. Ketika orang tua sibuk kerja pagi sampai sore, maka sekolahlah menjadi rumah kedua siswa tersebut. Konsep pendidikan di sekolah berlangsung selama lima hari dalam satu pekan, jadi ada dua hari bisa digunakan untuk refresing bagi siswa. Waktu sabtu dan ahad menjadi hari keluarga yang bisa digunakan orang tua bersantai bersama anak-anaknya.

Namun, coba kita lihat dari sudut pandang kesiapan di lapangan menerimah konsep ini. Apakah infrastruktur suda mumpuni? Tidak semua sekolah yang ada di Indonesia memilki infrastruktur yang layak, apalagi ketika kegiatan ektrakurikuler menjadi pelajaran tambahan. Realitas sekolah di pedalaman, kegiatan ektrakurikuler sangat minim. Kebanyakan siswa setelah selesai sekolah mereka membantu orang tuanya di kebun, di sawah, dan di rumah. Ini juga harus menjadi pertimbangan yang matang dalam penerapan konsep ini.

Belum lagi kita melihat dari kesiapan tenaga pengajar. Apakah semua tenaga pengajar yang ada di Indonesia suda mumpuni? Tentu tidak semuanya. lagi-lagi daerah pedalaman menjadi permasalahan, karena tenaga pendidikan kurang mumpuni dan tidak seimbang. Hal ini tidak memungkinkan untuk dipaksakan melakukan pembinaan selama seharian full.

Tapi tidak menutup kemungkinan ini bisa saja diterapkan dibeberapa sekolah yang sudah memilki standar yang mumpuni. Dan adapun sekolah yang masih belum mumpuni dari segi infrastruktur dan tenaga pengajar bisa kemudian dibuatkan siasat baru, namun tidak lepas dengan subtansi yang ada. Melihat juga banyaknya sarjana pendidikan yang menganggur setiap tahunnya dan saya rasa itu bisa diperdayakan untuk untuk kemajuan pendidikan kita sekaligus mengurangi angka pengangguran di Indonesia.

Hal ini masih perlu pengkajian lebih mendalam mengenai penerapannya. Namun, saya sangat mengapresiasi kemdikbud bapak Muhajir Efendy yang sangat progres dalam melakukan gebrakan baru dalam dunia pendidikan. Dan tidak bisa dipungkiri pendidikan Indonesia sangat perlu sebuah pembaharuan untuk membentuk generasi yang tercerahkan yang lahir dari gagasan yang mencerahkan.

*Ketua Umum IMM FKIP Unismuh

Komentar Pembaca