Golkar, SYL, dan Machiavelli

0
67

Golkar, SYL & Machiavelli

Oleh : Hadisaputra*

Beberapa hari terakhir, media massa di Makassar ramai memberitakan keseriusan Syahrul Yasin Limpo (SYL) untuk ikut berkompetisi dalam perebutan kursi Ketua Umum Parta Golkar. Tulisan ini ingin melihat posisi SYL dalam kontestasi tersebut, dengan menggunakan beberapa pokok pikiran dari seorang pemikir politik klasik, Niccolo Machiavelli.

Machiavelli-lah mungkin tokoh yang paling sering dikutip, dalam tulisan ataupun secara lisan, baik oleh ilmuwan pollitik (politolog), praktisi politik (politisi), hingga penikmat politik (pengamat dan masyarakat pada umumnya). Meski mungkin tak banyak orang yang pernah membaca langsung karya-karyanya. Saya pun hanya membaca buku terjemahan “il Principe“, yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama dengan judul “Sang Penguasa: Surat Seorang Negarawan Kepada Pemimpin Republik” (1991). Namun otoritas penerbit ini, setidaknya menjadi jaminan mutu kualitas terjemahan. Selain itu, saya banyak belajar tentang Machiavelli dari cendekiawan Daniel Dhakidae, melalui buku terbarunya “Menerjang Badai Kekuasaan” (Penerbit Kompas, 2015).

Menurut Dhakidae (2015), ada tiga gagasan utama dari Machiavellli tentang politik, yaitu Fortuna, Neccesita, danVirtue. Ketiga gagasan tersebut, kata Dhakidae adalah asumsi, strategi dan aksioma dasar teori Machiavellian.Fortuna makna dasarnya adalah pemberian atau hadiah.Fortuna adalah kekuasaan yang didapatkan karena pemberian, baik berupa keturunan, uang, atau titisan dewata. Bahaya fortuna bagi kekuasaan adalah, ia berubah-ubah, tak dapat dikendalikan oleh siapapun. Selain itu, fortuna adalah “hukum keharusan ilahi”, yang tidak memungkinkan adanya intervensi manusia.Fortuna adalah kekuasaan sewenang-wenang dari suatu kebetulan yang irasional (Dhakidae, 2005:36).

Dalam gerak fortuna yang tidak bisa dikendalikan itulah, kita bisa menangkap sebuah pola yang disebutneccesita. Secara sederhana, neccesita adalah tindakan yang harus diambil oleh seorang pemimpin sesuai dengan konteksnya. Machiavelli mengajarkan kapan harus menggunakan kekerasan, dan kapan mesti menggunakan kelemah-lembutan. “Penting bagi seorang penguasa, bila ia ingin tetap berkuasa, belajar untuk tidak menjadi baik, dan memakai atau tidak memakai pengetahuannya sesuai dengan kebutuhan” (Machiavelli dalam Dhakidae, 2015:38).

Virtu adalah keutamaan, atau kualitas yang membuatnya “berguna untuk sesuatu”. Virtu adalah semcam moral politik bagi Machiavelli, namun jangan membayangkan moral politik dihubungkan dengan moral gereja, seperti integritas, cinta kasih, atau rendah hati. Virtu dimaknai kualitas manusia seperti pengetahuan, keberanian, siasat, kebanggaan, dan kekuatan yang diperlukan dalam arena kekuasaan (Dhakidae, 2015:38).

SYL Machiavellian?

Kenapa saya tertarik mengaitkan Machiavelli dengan Syahrul? Bagi Machiavelli, kemampuan untuk merengkuh fortuna, neccesita, dan virtu adalah prasyarat menjadi negarawan. Bagi SYL, memilih untuk berjuang menjadi Ketua Umum Golkar adalah jalan menunjukkan kualitas kenegarawanannya dalam pentas nasional.

Ada beberapa isu yang digulirkan SYL dan tim suksesnya menjelang suksesi Ketua Umum Partai Golkar. Misalnya, penolakannya tentang politik uang. Beberapa pemberitaan melansir, di sejumlah pertemuan dengan para pemegang suara di Munaslub Golkar, SYL selalu menekankan bahwa salah satu yang mengoyak prinsip demokratisasi di Golkar, karena para pengambil kebijakan di DPP sering berpikir dengan menggunakan logika uang. Akibatnya, banyak kader-kader Golkar sendiri, yang tidak bisa mengendarai partainya dalam Pilkada. Jika Machiavelli menyebut “uang” juga sebagaifortuna, maka SYL sedang berupaya melawan fortunaitu.

Namun betulkah SYL sedang melawan fortuna uang? Bukankah dengan demikian, SYL sedang mengumandangkan kepada kompetitornya bahwa ia tidak punya uang? Ataukah kita harus meminjam cara membaca yang dianjurkan oleh Pramoedya Ananta Toer, membaca pernyataan pejabat itu harus dibaca secara terbalik. Kalau ia bilang, tidak akan melakukan politik uang, hal itu juga bisa dibaca “SYL juga siap melakukan politik uang”.

Fortuna lainnya adalah keberanian SYL untuk melawan stigmatisasi oposisi biner antara pemimpin “Jawa-Luar Jawa”. Sebenarnya wacana ini secara internal Golkar telah sirna sepanjang tumbangnya Orde Baru. Akbar Tanjung dan ARB adalah putera Sumatera, JK juga putera Sulawesi. Jika menggunakan logika “jawa luar jawa”, sebenarnya fortuna ini pun sudah ditinggalkan Golkar dalam memilih Ketum.

Berbeda dalam pertimbangan penetapan Capres, menjadi seorang putera Jawa, akan menjadi sebuahfortuna yang menguntungkan. ARB pun ketika berkampanye sebagai Balon Presiden, sempat mengumandangkan kedekatannya dengan kebudayaan jawa. Artinya, ia menyadari bahwa figur yang layak jual di pentas pilpres adalah putera jawa. Apakah isu ini dapat mengganjal SYL jadi Ketum Golkar?

Terkait dengan neccesita, SYL tahu bagaimana memosisikan diri. Sebelum wacana Munaslub sebagai jalan keluar bagi kemelut Golkar, SYL lebih banyak diam. Ia punya segudang kritik untuk ARB, namun ia memilih tak bersuara. Kini ketika ARB “lempar handuk”, SYL mulai melancarkan manuvernya. Bukankah wacana “penolakan politik uang” secara tidak langsung menohok ARB? Bukankah isu “memprioritaskan kader dalam Pilkada” juga kritikan tajam bagi DPP rezim ARB? Dalam memimpin Golkar di Sulsel pun, SYL tahu memosisikan diri sebagai Ketua Partai, dan sebagai seorang patron politik bagi kerabat dan sahabatnya. Ia tahu memainkan peran, kapan mesti memihak ke calon yang diusung oleh Golkar, dan kapan memihak ke kandidat yang lebih dekat secara personal dengan dirinya.

Lalu bagaimana dengan Virtu? SYL memiliki sejumlahvirtu yang bermanfaat bagi kekuasaan. Ia memiliki pengetahuan, keberanian, skill kepemimpinan, retorika yang memukau, dan sejumlah keunggulan yang dapat menopang kekuasaan. Semua itu dimilikinya setelah melalui perjalanan kepemimpinan yang panjang, baik melalui organisasi kepemudaan, maupun pengalaman kepemimpinan di tingkat pemerintahan paling bawah (kelurahan), lalu duduk sebagai Camat, Bupati, Wakil Gubernur, dan Gubernur. Selama menjalani jabatan-jabatan tersebut, ia bisa menunjukkan kiprahnya sebagai pemimpin yang prestatif, setidaknya dibandingkan pemimpin-pemimpin sezamannya.

Apakah SYL seorang Machiavellian? Jika merujuk pada tiga ajaran Machiavelli; fortuna, neccesita, dan virtu,nampaknya demikian. Dengan demikian, SYL telah memenuhi kriteria untuk menjadi seorang negarawan versi Machiavelli. Ia sudah tepat memimpin partai besar seperti Golkar. Bukankah demikian?

*) Peminat Kajian Antropologi Politik

Komentar Pembaca