Goresan Luka

0
89

Goresan Luka

Oleh : Muniruddin*

“Mungkinkah melupakan cinta yang telah pergi? Relakah kita melepaskan untuk orang lain? Lalu mungkinkah ada maaf untuk dia yang telah menorehkan luka di hati?.” Perjalanan cintaku dengan seorang gadis belia yang seumuran denganku, membuat hari-hariku begitu berwarna, semua seolah hidup, setiap detik bersamanya terasa indah.

Wajahnya, senyumnya, sikapnya terpatri dalam pikiran dan ragaku. Namun masa itu tidaklah kekal, cintaku padanya telah kulupakan, dia telah aku lepaskan untuk orang lain, hanya kata maaf dan ikhlas yang telah membuatku bangkit dari sakit yang ia torehkan. Kisah cinta aku bersama Fira biarlah menjadi kenangan.

Fira, sosok wanita yang penah aku cinta dengan sepenuh hati, pernah ada dalam hidupku dan mewarnai hari-hariku. Tapi semua tinggal kenangan setelah komunikasiku malam itu. Malam yang dingin beserta derasnya hujan ketika ku duduk di sebuah gubuk pinggir jalan, berteduh dari derasnya hujan. Telponku tiba-tiba berdering. Kulihat, ternyata panggilan dari Fira dengan sigap ku angkat. “hallo” jawabku. Halo, ka Firman ? “Kenapa menelpon malam begini ?” Tanyaku. “Sepertinya kita sudah tidak bisa bersama lagi ka!” Jawaban singkat darinya, membuatku kaget dan bertanya-tanya. Ada apa ? Ku coba minta penjelasan namun dia hanya diam, mematikan telponnya. Halo,halo,halo. Sial ucapku dalam hati. Dengan cepat kucoba memanggil kembali namun nomornya disibukkan, bahkan berkali-kali aku memanggil nomornya tetap disibukkan.

Emosi merasuki jiwaku, ku terobos hujan dan dinginya malam, lalu tiba di rumah dengan basah kuyub. Ayah, ibu dan adikku sudah pada tidur. Kubuka perlahan pintu lalu masuk rumah dengan hati-hati agar mereka tak terbangun. Bajuku yang basah kuganti, kukeringkan tubuhku dengan handuk, selanjutnya membaringkan badan. Ucapanya di telpon masih membayangiku, membuatku tak bisa memejamkan mata. Dalam resahku, berkecamuk dan bertanya-tanya. Ada apa ? Kenapa ? Apa salahku ? Apakah aku telah berbuat hal yang dibencinya ? Semua pertayaan itu mengiris seakan membayangi pikiranku.

Esoknya dengan wajah lesu karena kurang tidur. Aku beraktivitas seperti biasanya. Bergabung dengan teman-temanku di warung kopi tempat biasa kami ngumpul. Eh Firman dari mana saja akhir-akhir ini baru muncul ? “Tidak, sibuk kuliah saja” jawabku. “Kok mukanya lesu begitu ?” Habis diputusin ya.? Candaan mereka betul-betul mengena ke aku. Ku jawab, tidak kok cuma kurang tidur. Masa sih? Iya betulan. Oia duduk dulu lah, pesan kopi, terus kita ngobrol.

Setelah ngobrol dan seru-seruan beberapa jam berlalu. Kami bubar dan kembali malanjutkan kesibukan masing-masing. Kumpul bareng mereka membuat rasa sedihku sejenak terlupakan. Tetapi seiring aku berpisah dengan mereka, kembali aku memikirkan apa yang dia lakukan ? Dengan siapa ? Masihkah ia juga mengingatku ? Setelah kata terakhir darinya malam itu lewat telpon ku tak lagi pernah berbicara dengannya. Baik lewat telpon maupun bertemu. Ku ingin menuju ke desanya untuk menemuinya namum aku tak punya keberanian. Aku hanya diam dengan bayangnya, serta selalu menuggu kabar yang tak pasti darinya.

Masih terbayang janji-janji dan cerita-cerita kami bersama malam itu, saat duduk berdua di taman kota. “Ka Firman, apakah kak betul cinta, sayang sama aku ?” Tanyanya serius. “Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu ?, Apakah selama ini aku meragukan ?”. Tidak ka, aku hanya ingin hubungan kita lebih serius !, “Tentu saja”. Jawabku. Sebuah keluarga bahagia dan sederhana akan tercipta, anak yang berbakti terhadap orang tua, semuanya akan kita wujudkan bersama. “Kapan ka ?”. Secepatnya, setelah kita selesai kuliah lalu kerja. Aku akan datang melamar ke rumahmu. “Akankah engkau bersedia menungguku ?”. “Tentu saja ka” jawabnya dengan senyum gembira. Malam semakin larut, lalu kuantar ia kembali ke rumahnya. Masa-masa itu, janji-janjinya, masih begitu kental dalam ingatan. Namun semua itu tingal janji dan kenangan.

Seiring berjalannya waktu, perlahan aku melupakannya, aku harus bangkit. Masa depanku harus ku kejar, mimpi-mimpiku harus diwujudkan. Aku harus lebih baik. Aku tak boleh terlarut dalam kesedihan. Kini tiga bulan sudah terlewatkan sejak malam itu. Aku telah kembali bersemangat dengan hari-hariku, aktivitasku dan teman-temanku serta lingkungan sekitarku sedikit mengurangi rasa kehilangan itu. Saat aku duduk bareng dengan teman kampusku, tiba-tiba handphone saya berdering, ada pesan masuk. kulihat ternyata dari Fira, lalu ku buka dan kubaca. Tertulis, “datang ya di pesta pernikahanku”. Pesan itu sentak mengiris relung hati. Tapi aku abaikan. Dan hanya aku baca tanpa saya balas. Walaupun dalam aganku kenangan-kenangan tentang dia kembali teringat namun bagiku itu hanya kenangan. Aku kini dengan hidupku dan dia dengan hidupnya yang baru.

Semua telah aku ikhlaskan, dia dengan calon suaminya yang belakangan aku tahu ternyata adalah temanku sendiri. Namun apa daya semua telah di atur oleh yang maha kuasa, aku hanya bisa berdoa, semoga ia bahagia dengan pilihanya. Dan aku yakin kelak tuhan akan memberikan yang terbaik untukku.
Serpihan-serpihan cinta yang telah ia torehkan, saya anggap sebagai pembelajaran bagiku. Aku telah memaafkan segalanya, aku telah mengikhlaskannya, aku telah melupakannya dan aku telah kembali dengan hidupku yang lebih bahagia. Terima kasih untuk segalanya. Semoga saja cinta ini bukanlah sebuah nasib.

*Alumni Mahasiswa Fak. Teknik Unismuh Makassar

Komentar Pembaca