Halimah Yacob Jadi Presiden Wanita Pertama Di Singapura, Begini Kata Ketua Nasyiah Sulsel

0
258

Inspiratifnews.com-Makassar Sosok perempuan muslim Halimah Yacob menjadi ramai di perbincangkan di jagad sosial media. Hal ini di sebabkan perempuan berkrudung beretnis melayu tersebut akan dilantik menjadi presiden Singapura oleh Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong besok, Rabu (13/9/2017).

Menanggapi hal tersebut Ketua Nasyiatul ‘Aisyiah (Nasyiah) Sulsel Sumarni Susilawati, S. Pd., M. Pd beranggapan bahwa terpilihnya Halimah Yacob sebagai presiden bukanlah secara tiba-tiba, tetapi melalui perjuangan panjang.

“Halimah Yacob sebelumnya hanyalah seorang aktivis sosial yang memperjuangkan kehidupan perempuan dan kaum tersisih di Singapura. Sehingga kepeduliannya terhadap kaum tersisih mengantarkannya menjadi Menteri Muda Sosial dan Urusan Keluarga kemudian sebagai ketua parelemen Singapura yang juga tercatat sebagai ketua perempuan pertama di parlemen. Hingga sekarang ia menduduki jabatan orang o.1 di singapura” terangnya saat dimintai tanggapan redaksi inspiratifnews.com, Selasa (12/9/2017).

loading...

Ia menuturkan jika membaca perjuangan dan perjalanan panjang Halimah hingga mencapai kursi No.1 di Singapura sangat wajar jika beliau menjadi pemimpin dan dicintai banyak masyarakat Singapura.

 

“Sosok Halimah yacob akan sangat menginspirasi kaum perempuan di seluruh dunia. Sosok sederhana, dari etnis minoritas yg menunjukkan kekuatan dari kasih sayang, keadilan dan kesetaraan yg ia selalu ia tanamkan sebagai seorang muslimah” imbuhnya.

Waty menambahkan Meskipun di lansir beberapa media bahwa Halimah mengalami penolakan oleh sebagian warga singapura di sosmed dengan meggalakkan hastag #Notmypresident. Bahkan ada netizen yang mengaitkan issue teroris dan terpilihnya perempuan berkerudung sebagai presiden, hal itu merupakan tantangan awal bagi Halimah Yacob sebagai Presiden dari kelmpok minoritas.

“Mungkin sebagian masyarakat belum bisa menerima perempuan sebagai pemimpin. Apalagi seorang Muslimah dari etnis minoritas” tutup Waty yang juga merupakan Dosen di salah satu Perguruan Tinggi Swasta di Makassar ini. (uc2)

BAGIKAN

Komentar Pembaca