Hari Film Nasional, Sineas Makassar deklarasi Masyarakat Pemantau Film

0
81

Inspiratifnews.com – Makassar, Memperingati Hari Film Nasional (HFN) pada hari rabu (30/3), telah terbentuk Masyarakat Pemantau Film (MPF), forum ini lahir dari nasionalisme akan peran penting kehadiran lembaga film yang dapat menjadi pendorong dan pengarah lajunya film lokal dikancah nasional bahkan internasional, sekaligus menjadi lembaga film yang independen.

 

Ketua MPF AB Iwan Aziz katakan pengguntingan seluloid sebagai simbol dan sikap proaktif MPF yang akan lakukan pengawasan terhadap perfilman, utamanya industri perfilman lokal seperti film bombe, dumba – dumba, dan uang panai, kurang mendapat perhatian untuk diorbitkan pada bioskop – bioskop secara nasional seperti XXI dan Cinema 21, Menurut Iwan bangsa Indonesia saat ini lebih konsentrasi pada isu – isu politik dan narkoba, sementara ada masalah kecil yang mesti diperhatikan pada industri film.

 

Kata Iwan, tayangan – tayangan tidak mendidik dan tidak sehat sedang marak dillakukan oleh pertelevisian yakni konten – konten film yang tidak sesuai dengan budaya makassar, kekecewaan terhadap industri film nasional yang notabene didominasi jakarta sementara film lokal didiskriminasi, padahal sineas – sineas muda berbakat tidak hanya ada dijakarta, ujarnya saat prescon dikedai dan kopi Papa Ong, kemarin (30/3).

 

Sementara itu, kata Pembina MPF Nebhraj Al Nicky RV bahwa film – film saat ini tidak terdidik, olehnya itu MPF punya pandangan dan mendasari hadirnya forum ini, selain itu kata Nicky, ada era dimana film nasional mendominasi begitupun juga film lokal.

 

Maka dari itu, ¬†bioskop – bioskop konvensional saat ini telah menjadi ‘racun’ di industri perfilman tanah air, padahal diera tahun 80an – 90an menjamur bioskop – bioskop lokal beberapa daerah di sulsel, ujar nicky.

Disisi lain, MPF hadir tidak hanya memantau perfilman juga mendorong generasi muda untuk budayakan literasi tentang film – film terdidik dan sehat, serta memberikan edukasi film, juga mendorong pemerintah untuk merevisi UU Perfilman yang cenderung diskriminasi pada sineas lokal, dalam lembaga MPF ini diwakili dari unsur pelaku film, pelaku industri film, lsm, akademisi, politisi dan jurnalis. (ish)

Komentar Pembaca