Hidayah Buat Katherina

0
31

Inspiratifnews.com Nama saya Katherina. Teman-teman saya biasa memanggil saya Kat. Saya warga negara Amerika, lahir di negara ini. Tapi orang tua saya berasal dari Colombia, salah satu negara-negara Latin.

Setamat dari salah satu universitas di New York, saya diterima bekerja di sektor perbankan. Alhamdulillah hingga saat ini saya masih bekerja di perusahaan Chase (Chase Corporation) sebagai salah seorang vice president.

Saya tertarik dengan Islam sejak masih mahasiswi. Salah satunya karena waktu itu salah satu mata pelajaran yang saya pilih untuk ilmu sosial saya adalah agama. Dan dari agama-agama itu Islam ternyata menarik perhatian saya.

Suatu hari saya diberitahu oleh seorang teman kalau di Islamic Center of New York, 96th Street mosque, ada kelas khusus untuk non Musim. Saya ketika itu ragu awalnya. Karena saya tidak terlalu menyukai masjid yang dikelolah oleh orang-orang Arab. Bukan rasis. Saya hanya tidak suka opini yang kaku.

Ternyata ketika hadir di kelas itu saya bertemu dengan seorang guru yang berbeda. Berbeda karena dia bukan orang Arab. Tapi yang paling penting ide-idenya “enlightening” dan wawasannya luas. Dialah Imam Shamsi Ali. Seorang guru yang hingga detik ini saya masih anggap guru, selalu dengar dan kerjasama. Bahkan bersama-sama mendirikan Nusantara Foundation di kota New York.

Saya belajar Islam cukup lama sebelum akhirnya memutuskan untuk menjadi seorang Muslimah. Alhamdulillah di suatu hari yang tidak saya sangka saya memutuskan menerima Islam. Saya katakan tidak sengaja, karena waktu itu saya belum siap. Tiba-tiba saya ketemu dengan Syeikh Yusuf Estes, seorang ulama yang sering saya dengarkan di youtube.

Tanpa sengaja Imam Shamsi mengenalkan saya ke beliau. Bahwa saya sudah lebih 3 tahun belajar Islam tapi juga belum bersyahadat. Bahkan Imam Shamsi membuka rahasia kalau saya seringkali mengajak orang belajar Islam tapi saya sendiri belum Islam.

Mendegar itu Yusuf Estes bertanya kepada saya beberapa pertanyaan:

Kamu percaya kalau hanya ada satu Tuhan? Saya jawab iya.

Kamu percaya kalau Muhammad adalah rasul Allah? Saya jawab iya.

Kamu percaya kalau Al-quran itu kalam Allah? Saya jawab iya.

Sheikh Yusuf kemudian minta saya mengikutinya: As-hadu an laa ilaaha illa Allah wa ash-hadu anna Muhammadan Rasulullah.

Dan semua orang meneriakkan Allahu Akbar.

Ternyata dengan itu saya sudah menjadi Muslimah. Saya awalnya agak kecewa. Pertama karena saya ingin keluarga saya hadir kalau saya bersyahadat. Dan yang paling penting, saya mau Imam Shamsi yang membimbing.

Tapi alhirnya saya menerima setelah Imam Shmasi menjelaskan bahwa saya sebenarnya sudah lama Muslim. Karena menurutnya menjadi Muslim itu yang terpenting adalah keyakinan. Dan saya memang sudah lama yakin, bahkan sholat dan puasa. Hanya belum bersyahadat.

Alhamdulillah sejak itu saya merasa lebih tenang dalam hidup. Saya juga cukup aktif dalam kegiatan dakwah yang dikelolah Imam Shamsi, baik lewat Nusantara maupun Islamic Center di New York.

Saya kira sisi Islam yang paling menarik bagi saya adalah bahwa Islam memberikan “sense of clarity in life” (ada rasa kejelasan dalam menjalani hidup).

Saya sangat rasional. Dan salah satu hal yang juga saya sukai mengenai Islam adalah kejelasan logika dalam aspek-aspek ajarannya, khususnya mengenai konsep Tuhan.

Terus terang saya belum memakai jilbab secara permanen. Tapi saya sangat yakin jika jilbab memang kewajiban Islam. Juga saya yakin jika jilbab adalah pakaian yang menjaga, dan lebih penting menjadi identitas Muslimah. Insya Allah kalau lingkungan sekeliling saya lebih kondusif, termasuk keluarga saya, akan saya memakainya permanen.

Nasehat saya kepada Muslimah agar menyadari posisinya. Muslimah itu punya kedudukan yang terhormat, baik di lingkungan kekuarga dan masyarakat. Kata Rasulullah: “jika wanita dalam sebuah kaum baik maka baiklag bangsa itu”.

Saya kira itu saja yang ingin saya tuliskan. Salam untuk saudara-saudara seiman di Indonesia.

loading...
BAGIKAN

Komentar Pembaca