IMM DAN KEMATIAN TEORI

1
285

IMM DAN KEMATIAN TEORI

 Oleh: Erhindi*

Pikiran datang dari sisi luar. Dapatkah pikiran berjalan tanpah tubuh? Adakah seksualitas pikiran tanpa dorongan dari luar? Apakah yang dilakukan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) jika tidak ada (kematian) teori?

Seksualitas ada dimana-mana. Sesuatu yang lebih seksual dari yang seksual (pornografi). Pornografi memasuki sel-sel yang lebih kecil dan menyebar. Pornografi ekonomi, pornografi birokrasi, pornografi politik, pornografi konsep, dan pornografi sosial melampaui kecabulan yang berlangsung secara “panas” dan tanpa melalui “persetubuhan”.

Pornografi bersifat menggoda, meluluhkan dan menantang. Titik kelenyapan realitas dipertajam hiperealitas seksual. Pornografi merupakan sumber hilangnya keindahan, akhirnya tidak ada lagi kenikmatan, kesenangan dan kegairahan, kecuali kepuyengan dan kekaguman.

Seksualitas memiliki keragaman sel melalui pasangan, keluarga, pribadi, dan obyek. Seksualitas bukanlah masalah masalah moral, melainkan masalah permainan, penjelajahan dan pengulangan. Memang seks adalah kebenaran yang tertunda untuk ditertawakan.

Sang nyata datang begitu terlambat. “Mereka makan bersama pria seksi dengan dada berbulu”, “dia dianugerahi kulit putih mulus”, “kami mencicipi hidangan cepat saji yang lezat” terjalin secara bolak-balik dan teracak melalui relasi hasrat, tubuh modal dan tubuh seksual.

Birahi melawan logos, kamus melawan ensiklopedia, aksioma melawan takhyul, konsep melawan alam. Tidak ada lagi metafora, melainkan peristiwa nyata.

Banyakkah fakta atau ilusi yang hadir? Kegoncangan ekonomi, kriminalitas, terorisme (asli), dan peristiwa politik tidak cukup menjadi analisis panjang lebar.

Teori bukan hanya menjadi bagian dari peristiwa, tetapi juga menempatkan dirinya sebagai sumber takhyul dan menjadi korban dari realitas yang tidak terlintas sebelumnya dalam benak sampai kematian menjemputnya. Kematian teori tanpa perkabungan.

Dalam konsumerisma, misalnya ideologi memiliki peranan dalam pembentukan relasi ekonomi dan nilai ilmiah, teori dan konsumerisme (ilmu kimia dan parfum).

Permasalahan ideologi adalah pemihakan yang timpang, pemihakan atas dirinya sendiri. Ia bukanlah sumber inspirasi ilmu pengetahuan, tidak mustahil teoritis dan ideolog ternyata dalam perjalanannya telah kehilangan jejak-jejak yang diperjuangkan.

Mereka (masyarakat luas dan mahasiswa) masih menjadi korban dari kekerasan citra dan bahasa, tatkala dunia nyata (hiperealitas, simulasi dan virtualitas) membunuh tanda (ruang suci, logos dan petanda transendental).

Kekuatan sang nyata dari dunia virtual, tanpa ilusi dan tiruan.

Suatu kekuatan baru tiba-tiba muncul dari dunia nyata yang membuat monster dingin (negara kapitalis) mulai kelinglungan menghadapi kecerdasan sang jahat sebagai residu kapitalisme. Kita melihat, teks ideologi dipuja-puja selama teks seksual mengintiminya. Sebagian yang lain, teks visual dan virtual menjadi teks ideologi negara (kuasa) dengan strategi pembujukan, pembatasan dan stabilitas (diantaranya melalui televisi dan internet).

Kesenangan dan hasrat apalagi yang melebihi teori (jika teori tersebut bukan lagi dari kecerdasan sang jahat)? Dimanakah kebenaran Trilogi IMM? Kebenaran tidak lebih dari permainan acak dan lelucon konyol. Bukan kesangsian (pada Trilogi IMM), tetapi kekaguman.

Pornografi, hiperealitas dan virtualitas sama merangsangnya dengan kemiskinan, pemanasan global, bahaya narkotika, dan korupsi; ia bukan untuk dihindari perbincangannya, melainkan ia menjadi obyek analisis pergerakan mahasiswa.

Seseorang dan bahkan secara kelembagaan memaksakan untuk berada dalam perubahan dari titik tolak diskursus teoritis sebelum beraksi, meledak keluar (menghindari tipologi kerumunan). Nilai ilmiah dimaksudkan bukan menunjukkan sebagai perangkap revolusi mahasiswa, mengubah gerakan secara linear warisan “cogito Cartesian” menjadi sesuatu yang bergerak secara acak dan seperti spiral.

Jika IMM berpikir tentang tema-tema baru dibentuk melalui relasi ilmu pengetahuan dan ideologi, maka perumusan konsep dimungkinkan selama IMM melihat dirinya sampai ia mampu untuk memainkan dan melintasi permainan besar.

Dapatkah ideologi diletakkan sebagai nilai ilmiah? Ataukah IMM jauh lebih terpikat daripada masyarakat terhadap sesuatu yang kasat mata (hiburan, busana, makanan, dsb). Sudah tentu, sesuatu yang merangsang dan menantang seperti pornografi datang dari kasat mata.

Bukan tanda ingatan dan teori yang merumuskan dan memprediksi akhir tatanan produksi, tetapi  kesenangan bukan kebutuhan, kenikmatan bukan kepuasan. Kesenangan dan kenikmatan inilah sebagai anugerah yang menciptakan dunia nyata melalui simulasi dan hiperealitas (supermall/hipermarket, cyberporn, cybercrime, video game, dsb).

IMM tidak bergerak dan bergantung pada kekuatan ideologis dan daya kritis-analisis yang diambil dari tidur panjang. Strategi perlawanan IMM pertama-tama ditujukan pada kepuasan diri, narsistik, inferior, dan ironi yang menghinggapi dirinya. Ia (IMM) tidak hadir karena tidak adanya tantangan dan tanggapan (Toynbeean), melainkan takdir dan panggilan sejarah. Ia tidak melawan kuasa (negara), tetapi membongkar kedok (Foucaultian) dan melucuti permainan topeng.

Takdir dan panggilan sejarah tidak dibentuk oleh relasi produksi (pasca-Marx), melainkan penaklukan dan kegairahan. Penggunaan teknik dan praktek tradisi keilmuan dan menjadi “homo intellectus” menjadi hukuman sejarah dan racun jika ia (IMM) tidak mengenal apa penyakitnya dan bagaimana keluar dari citra mental yang lemah, “menjadi binatang yang berpikir” sekedarnya.

Tidak ada rezim lain (diskursus, kebenaran, dsb), kecuali rezim itu sendiri. Setiap rezim diskursus dan kebenaran diambil-alih oleh kuasa (negara-kapitalis). IMM tidak memiliki cara lain, kecuali melakukan pemusnahan nilai dan menata ulang patahan-ideologi sebelum ia diprogram, dikendalikan dan dikuras energinya oleh ideologi lainnya (konsumerisme, negara).

IMM merupakan jaringan sel pembebasan hasrat dan pikiran yang terpikat untuk bergerak secara mekanis (selain psikis) terjadi dalam organisasi otonom Muhammadiyah melalui mekanisme yang telah ditetapkan.

Jika gerakan IMM mendobrak tabu, menolak larangan yang tidak adil dan beralih mereproduksi ide, mimpi, khayalan dan hasrat yang dipadatkan melalui album kenangan, catatan, administrasi, buku sejarah IMM ditukar dan diganti dengan fotografi, rekaman video sampai telepon genggam dan layar digital lainnya.

Kegairahan kolektif dari kerja-kerja intelektual dan sosial merupakan aliran darah IMM yang tidak mengambang bebas sebagaimana mengambangnya darah uang dalam tatanan simulasi. Ideologi tidak diganti, tetapi diistirahatkan dan disenyapkan dalam permainan oleh simulasi. Singkat kata, ideologi (IMM) melawan ideologi (konsumerisme). Seringkali diluar konsumerisme menjadi korban (termasuk IMM).

Tidak ada jalan lain bagi IMM, kecuali ia menjadi sumber teror bagi pemikiran mahasiswa, wabah disaat tidak ada virus atau penyakit. Wujud ideal yang terseksualkan-tersosialkan jika IMM tidak melawan arus atau di atas arus, karena arus itulah IMM. Jika tidak, ia hanya menjadi penonton setia dari setiap panggung (diantaranya intelektual, ekonomi, politik dan teknologi).

Arus besar IMM belum terbentuk di bagian tengah dan menyebar di pinggiran. Daya kritis menurun dan yang terjadi fatalitas. Konsumerisme melawan idealisme mahasiswa. Kenyataannya, idealisme mati karena dibunuh oleh mahasiswa itu sendiri (diantaranya fenomena nyontek, mahasiswa ngopi di Cafe, pacar-pacaran, dijinakkan dan dibungkamnya dengan bantuan anggaran belanja dari negara dan manja dengan fasilitas lainnya).

IMM perlu kembali ke wilayah epistemik pergerakan. Kerangka epistemik sebagai ledakan. Jika IMM telah “berpikir keluar dari kotak” dan IMM beyond IMM, maka ia akan melunasi utang intelektual, mengejar ketertinggalan dan mengangkat dan memusnahkan bayangan hitam yang menghambat gerakannya.

Relasi pengetahuan dan ideologi IMM terdapat dalam trilogi: keagamaan, kemahasiswaan dan kemasyarakatan. Trilogi IMM berada antara “fosil dan klon”, antara “fase gincu dan fase garam”. Trilogi sesuai paralogi (banyak nalar).

Energi libido sebanyak arus yang ia lepaskan dan ledakkan keluar di saat kematian makna terjadi dalam kehidupan. Karena itulah, jika kita mengagumi arus, bahwa Trilogi IMM sebagai libido dan libido sebagai arus.

Relasi produksi hasrat dan teori (rasionalitas pasar, konsumsi, tangan tersembunyi) terjadi juga dalam sistem tanda lainnya (diantaranya komersialisasi dan praktek ekonomi politik kampus). Sementara, konflik fakultas intelektual dan fakultas sosial, fakultas nalar dan fakultas spiritual yang tidak tercairkan akan menempuh jalan lain untuk meledak keluar, tanpa massa dan adegan.

Kematian teori telah datang lebih cepat bersama prinsip kekacaubalauan. Setelah naskah, dokumen ilmiah, penelitian dan laboratorium akan diuji sejauh mana ia membuju rayu dan merangsang pikiran seperti pornografi-akademik sebagai sesuatu yang tidak dicela lagi. Ataukah akhir buku teori yang tidak memihak pada fakultas libido dan fakultas kesenangan sebagai logika baru?

*Alumni Aktifis IMM

Komentar Pembaca