Indonesia Terancam Dijadikan Suriah

0
307

Inspiratifnews.com – Jakarta, Mantan Da’i Syiah lulusan Iran, Ali Saefulloh memaparkan pengalamannya selama menjadi juru dakwah untuk merekrut masyarakat.

Menurut alumni Universitas Imam Khomeini, Qom ini, kelompok Syiah memiliki strategi yang sistematis dan terstruktur untuk mensyiahkan Indonesia. Mereka memiliki 7 divisi untuk mendekati berbagai kalangan dari mulai ulama, intelektual hingga politisi.

“Di Indonesia kelompok Syiah memiliki lembaganya. Ada 7 divisi (di antaranya) Divisi Mustasyar, Divisi Ulama, Divisi Intelek, Divisi Legislatif, Divisi Pertahanan dan Keamanan, Divisi Industri, Divisi Ilmu Pengetahuan dan Budaya. Di Divisi pendidikan (ilmu pengetahuan), kita memiliki orang penting,” kata Ali Saefullah yang menghabiskan waktunya belajar Syiah di Iran selama 4 tahun.

Hal itu diungkapkan Ali dalam Maulid Nabi bertema “Memperkokoh Akidah Ahlussunah wal Jamaah dari Ancaman Aliran Sesat Syiah” di Masjid Al Kamiliyyah, Jakarta Timur.

Hadir dalam acara ini di antaranya Habib Tohir Al Kaff, Prof. Dr. Habib Muhammad Baharun (MUI Pusat), Dr. Abdul Chair Ramadhan SH.MH (MUI Pusat), Drs. Ahmad Subki Saiman (Lisan Hal) beserta para habaib dan asatidz di Jakarta.

Menurut Ali, kelompok Syiah memiliki rencana matang karena sudah menargetkan Indonesia menjadi negeri Syiah.

“Saya tergabung di sebuah laskar ankatab. Itu laskar yang disiapkan untuk menjadikan Indonesia Negara Syiah. Kami merencanakan Indonesia menjadi Syria kedua. Sebelum kakek saya meninggal, beliau berpesan Indonesia sudah ditakdirkan menjadi negeri Syiah,” beber Ali. Dia mengatakan kakeknya belajar langsung di Suriah dan menjadi pengikut ajaran Syiah Nushairiyah.

Dari hasil dakwahnya, Ali mengaku telah mensyiahkan banyak orang. Dia ditugaskan khusus untuk berdakwah setelah menuntut ilmu Syiah di kampus dan hauzah Syiah di Qom, Iran.

“Kami dakwahi mereka dari Aceh hingga Irian. Saya sudah masukkan umat Islam menjadi Syiah sebanyak 300 orang. Naudzubillah,” terang dia yang memilih untuk bertaubat.

Dijelaskan, Ali Saefulloh, Suriah yang dulunya dari negeri yang sangat indah berubah menjadi negeri tak ubahnya neraka bagi penghuninya, ini karena kalian sebagai ummat islam selalu apatis.

Mengapa demikian, Suriah itu menganut system demokrasi. Pemimpinnya dipilih dengan sistem pemilu, padahal mayoritas masyarakatnya adalah Islam Sunni. Tapi ketika pemilu, ada sebagian rakyatnya yang tak peduli, ada pula yang mengikuti seruan ulamanya yang mengharamkan pemilu, sehingga pemilu dimenangkan oleh syi’ah yang sebenarnya minoritas di negeri itu, dan naiklah Basyar Asaad itu sebagai Presiden Suriah.

Dibawah kepemimpinan iblis syiah itulah rakyat didholimi. Yang kritis ditangkapi. Akhirnya rakyatnya protes. Demo damai. Tetapi malah rakyatnya ditembaki, sehingga banyak yang mati.

Ketika kedholiman semakin parah, rakyat melakukan perlawanan, dibantu sebagian angkatan perangnya yang muslim sunni yang membelot. Sampai kemudian pemerintah Iblis Syiah ini terus memburu rakyatnya dan mencap rakyatnya memberontak. Tak cukup sendiri menghadapi rakyatnya, tapi minta bantuan Syiah Iran dan Rusia yang komunis.

Inilah yang sedang dan akan terjadi pada Indonesia, sebagai berikut :
– diberi fakta malah dituduh fitnah, pencemaran nama baik, hate spech, diancam UU ITE
– Pemilu thogut haram ménurut sebagian aliran islam indonesia.
– Demo damai dihalang-halangi dianggap anti kebhinekaan.
–  Yang kritis ditangkap.
– Yang cinta Indonesia dianggap makar.
– Yang taat pada agamanya dianggap teroris.
– Islam bersatu malah nyiyir.

Kedepanya PP 58 tahun 2016 tentang ormas asing akan membuat kita seperti suriah, mereka akan berkonsolidasi, membangun kekuatan dari segi ekonomi, politik dan militer, setelah semua itu terjadi barulah kalian akan mewek sambil guling-guling 10 juta imigran akan menggantikan 10 juta kader yang dulu diberangus habis pada tahun 65, karena target mereka 2020 Indonesia dalam genggaman.

Terserah pada kita, mau menyadari atau tidak, kedepannya indonesia akan seperti suriah jika kalian masih apatis, mari kita cegah dari sekarang selagi kista belum menjadi tumor, karena jika sudah jadi tumor akan sulit untuk diobati, pungkas Ali Saefulloh. (*)

Komentar Pembaca