Inggris Keluar dari Uni Eropa, Begini Awal Mulanya !

0
228

Inspiratifnews.com – London, Puluhan juta warga Inggris telah menentukan pilihan mereka dalam referendum bersejarah untuk menentukan nasib Inggris di Uni Eropa. Hasilnya, mayoritas warga Inggris ternyata lebih memilih untuk keluar dari Uni Eropa. Referendum Brexit berakhir dan sebagian besar rakyat Inggris memilih agar negara mereka meninggalkan Uni Eropa.

Dilansir BBC.com, (24/6), keputusan Inggris tersebut sangat mengejutkan para politikus Eropa. Mantan Perdana Menteri Finlandia Alexander Stubb salah satu di antaranya. Dia bahkan menganggap dirinya masih tidur dan ini semua hanyalah mimpi buruk.

Faktanya memang kubu yang memilih keluar dari Uni Eropa mengungguli mereka yang ingin tetap di dalam Uni Eropa. Media-media nasional Inggris pun telah menyimpulkan hasil akhir referendum adalah Inggris keluar dari Uni Eropa.

Pemungutan suara telah selesai digelar di 380 wilayah yang ada di seluruh Inggris, Wales dan Skotlandia. Ditambah dua wilayah yang ada di Irlandia Utara dan juga Gibraltar yang terletak di pantai selatan Spanyol. Dengan demikian, total ada 382 area pemungutan suara. Masing-masing itu akan mengumumkan hasilnya secara bertahap.

Hasil survei mengungkapkan bahwa sekitar 52 persen warga Inggris memilih untuk meninggalkan Uni Eropa. Sisanya memilih bertahan menjadi anggota Uni Eropa. Warga London dan Skotlandia memilih untuk tetap di dalam Uni Eropa, tetapi warga Inggris di wilayah utara memilih untuk meninggalkan Uni Eropa. Sementara itu para pemilih di Wales dan Inggris mendukung Brexit (British Exit) alias Inggris keluar dari Uni Eropa.

Inggris telah bergabung dengan Uni Eropa sejak tahun 1973 silam. Akan tetapi banyak yang merasakan bahwa manfaat Uni Eropa tidak banyak bagi Inggris dan Uni Eropa malah dianggap membebani Inggris. Referendum semacam ini sebelumnya pernah digelar pada tahun 1975 dan hasilnya memutuskan Inggris tetap di Uni Eropa.

Hasil referendum bersejarah untuk menentukan Inggris keluar dari Uni Eropa alias Brexit atau bertahan di Uni Eropa tentunya menimbulkan kekhawatiran di kalangan warga Inggris jika negaranya benar-benar hengkang dari Uni Eropa.

Dampak tersebut tentunya akan dirasakan di sektor ekonomi dan bisnis. Inggris akan menghadapi potensi ketidakpastian dalam minggu, bulan atau bahkan bertahun-tahun. Meninggalkan Uni Eropa artinya juga akan membatalkan segala macam hukum. Karena ada sejumlah hukum Uni Eropa yang berlaku di Inggris, serta ada anggota parlemen Eropa yang berasal dari Inggris.

Semua itu secara tidak langsung akan berdampak di mana orang dapat hidup dan bekerja. Masalahnya adalah jutaan orang Inggris tinggal di Uni Eropa dan jutaan orang Eropa tinggal di Inggris. Dampak lainnya juga menyangkut nasib jabatan Perdana Menteri Inggris David Cameron.

Sebelumnya, deklarasi pertemuan kelompok tujuh negara maju dunia atau G7 di Jepang menyebutkan bahwa akan ada ancaman serius bagi pertumbuhan global apabila rakyat Inggris memilih untuk hengkang dari Uni Eropa yang dikenal dengan istilah ‘Brexit’.

G7 memperingatkan hengkangnya Inggris dari Uni Eropa akan mengubah tren peningkatan perdagangan global, investasi dan pembukaan lapangan pekerjaan. Setelah menggelar pertemuan selama dua hari, pemimpin Amerika Serikat, Kanada, Inggris, Italia, Jerman, Prancis dan Jepang menetapkan bahwa pertumbuhan global sebagai prioritas mendesak. Pertumbuhan tersebut juga tidak bisa dilakukan dengan mudah karena ada sejumlah tantangan yang menghalangi pertumbuhan, termasuk serangan terorisme dan ekstremisme keji.

Usai hasil referendum menunjukkan mayoritas warga Inggris memilih untuk keluar dari Uni Eropa, Perdana Menteri Inggris David Cameron mengumumkan bahwa dia akan mengundurkan diri pada Oktober mendatang. Dia berpikir bahwa dirinya bukanlah orang yang tepat untuk menjadi kapten yang menahkodai Inggris ke tujuan berikutnya.

Cameron yang memimpin kampanye agar Inggris tetap berada di Uni Eropa mengatakan bahwa pilihan rakyat Inggris harus dihargai. Tentunya para pemilih telah membuat sebuah keputusan jelas dan negara Inggris memerlukan pemimpin baru.

Cameron berkata, untuk saat ini dia akan tetap duduk sebagai perdana menteri dalam beberapa pekan mendatang untuk menjamin stabilitas. Nantinya perdana menteri yang baru akan mengambil alih tugas perundingan langkah-langkah yang perlu diambil dalam proses keluarnya Inggris dari Uni Eropa. (*)

 

Komentar Pembaca