Ini Bahayanya Bila Menghisap Rokok Elektronik

0
173

Inspiratifnews.com, Apakah rokok elektronik bersertifikat aman untuk dihisap? Anda mungkin berpikir begitu, sebab pekan lalu dilansir dari dailymail.co.uk, Selasa (12/1/2016) Pemerintah Inggris baru saja memberikan lampu hijau salah satu merek rokok yang ditetapkan oleh National Health Service (NHS) atau Layanan Kesehatan Nasional Inggris.

Pengawas Keamanan obat-obatan, The Medicines and Healthcare Product Regulatory Agency (MHRA) atau Badan Regulasi Obat-Obatan dan Produk Kesehatan, telah memberikan sebuah lisensi resep untuk memakai rokok elektronik e-Voke ke British American Tobacco (BAT). BAT yang mengakui penggunaan resep tersebut, mengetahui dengan jelas sembari mengatakan  tidak ada produk yang betul-betul bebas risiko.

Dan Ini bisa jadi  memuluskan lebih banyak lagi merek alat pengisap nikotin untuk dilisensikan kepada perokok. Saat ini tersedia hampir 500 merek rokok eletronik dengan berbagai macam rasa.

Keputusan ini di munculkan oleh pemangku NHS yang mendeklarasikan bahwa rokok elektronik lebih aman 95 persen daripada rokok tembakau dan memintanya untuk dilisensikan sesegera mungkin.

Walau bagaimanapun, langkah ini tertutupi oleh ketakutan ilmiah tentang keamanan penggunaan rokok elektronik. Beberapa negara yang menaruh perhatian pada masalah ini telah melarang impor barang tersebut ke negara mereka seperti di Australia, Hong Kong, Brazil, Argentina (sekalipun orang-orang masih bisa membelinya lewat internet)

Di Inggris, perselisihan tentang keamaan menggunakan rokok elektronik berlansung sengit. Di satu sisi para ilmuwan percaya alat tersebut menyelamatkan banyak kehidupan karena risikonya yang lebih sedikit dibandingkan rokok yang biasa dihisap perokok.

Mereka berargumen bahwa rokok elektronik menolong banyak perokok agar berhenti mengisap rokok tembakau. Dan hal langka bagi kebanyakan orang yang sebenarnya bukan perokok untuk  mengisap (diketahui rokok elektronik digunakan sebagai latihan mengambil nafas)

Di sisi lain, para saintis menyarankan untuk menghindari rokok elektronik sebab belum diketahui apa saja risikonya. Dan alat ini membuat orang yang tidak merokok menjadi kecanduan nikotin.

Rokok elektronik dirancang untuk menguapkan larutan yang mengandung nikotin, untuk menyediakan rokok tanpa campuran tar dan senyawa kimia penyebab kanker yang ada dalam tembakau.

Jumlah nikotin yang dimasukkan bervariasi. Uji coba pada 16 jenis rokok elektronik di tahun 2012 oleh Universitan Queen Mary di London menunjukkan  rokok eletronik paling tinggi mengandung 15,4 nikotin- dan tiga kali lebih rendah untuk rokok elektronik jenis lainnya.

Bahkan menurut Jurnal Penelitian Nikotin dan Tembakau,  15 isapan rokok eletronik dengan skala nikotin tertinggi hanya terhirup sedikit nikotin jika dibandingkan rokok konvensional.

Namun, penelitian terbaru mengindikasikan rokok elektronik bisa menimbulkan risiko kanker dan bahaya terkait rokok lainnya seperti penyakit kardiovaskular. Bulan ini misalnya, para saintis Amerika Serikat menklaim uap yang dipancarkan rokok elektronik dapat merusak DNA dan menyebabkan kanker. Dengan kata lain, rokok eletronik tidak lebih aman dibandingkan rokok tembakau.

Peneliti di Universitas San Diego, California yang menelitinya pada sel-sel manusia di laboratorium menunjukkan hasil yang kurang menggembirakan. Rokok elektronik mengandung substansi seperti pewarna makanan, bahan kimia yang terasa enak  ketika ditelan tapi tidak baik untuk paru-paru.

Eksperimen berlanjut dengan melihat paparan uap rokok elektronik pada sel-sel normal kepala dan leher manusia selama delapan minggu. Kanker kepala dan leher adalah satu risiko signifikan rokok konvensional.

Menurut, Jurnal Onkologi, sel-sel yang terpapar menunjukkan kerusakan DNA pra kanker dan mati lebih cepat dibanding sel-sel yang tidak terpapar uap rokok eletronik.

Pada bulan Desember, ilmuwan-ilmuwan Spanyol memperingatkan dalam laporan Jurnal Kesehatan Lingkungan Terbaru, bahwa sejumlah merek rokok elektronik memancarkan jelaga kimia halus dalam level yang signifikan yang disebut PM2.5. Jelaga ini diketahui sebagai penyebab kematian melalui penyakit kardiovaskular.

Sementara itu di bulan September, ahli kimia dari University of California, Irvine memperingatkan rokok elektronik memproduksi sejumlah bahan kimia akrolein dan asetat dehilda setara dengan rokok komvesional. Bahan ini diketahui menyebangkan kerusakan paru-paru yang mengarah ke kanker, masalah pada pernapasan seperti asma, seperti yang dilaporkan Jurnal Teknologi dan Sains Aerosol.

Terlebih, proses pemanasan, penguapan nikotin menghasilkan senyawa kimia baru termasuk benzena penyebab kanker dan jantung seperti butilardehida yang juga ditemukan pada rokok tembakau. Penggunaan nikotin dalam pengawasan terus meningkat, sekalipun ketagihan, baiknya perhatikan lebih dulu bahaya biologisnya

Namun, di bulan Agustus, Para ahli di Pusat Pengawasan Penyakit atau Centre for Disease Control di Amerika Serikat mewanti-wanti dengan hasil eksperiment di lab yang menunjukkan pelemahan pertumbuhan otak dan jantung bayi yang belum lahir, dan  mempengaruhi perkembangan otak remaja. Secara terpisah, terpapar nikotin dapat menganggu pertumbuhan hipokampus-sebuah area di otak yang berkaitan dengan pembelajaran dan ingatan- pada remaja.

Setali tiga uang, Ilmuwan-ilmiwan Israel memperingatkan bahwa nikotin dan propilin glikol- bahan pelarut rokok elektronik dapat memhambat pertumbuhan saraf dan jaringan. Apalagi ada laopran yang mengabarkan tingginya popularitas rokok elektronik di kalangan wanita hamil dan remaja.

April kemarin sebuah studi di Inggris yang dilakukan Universitas John Moores pada lima remaja yang membeli dan mengisap rokok elektronik- termasuk siapa saja yang tidak pernah merokok. Ketakutanya adalah sekali remaja menyesap rasa nikotin, mereka akan mencoba rokok sesungguhnya. Sementara, rokok elekteronik dimunculkan sebagai alat “gencatan merokok” bagi orang dewasa, menurut Martin McKee, seorang Professor Kesehatan Masyarakat di Eropa di Sekolah Kesehatan Tropis dan Keheginisan.

Rokok elektronik memang pada umumnya digunakan orang-orang yang telah  lama merokok. Beberapa orang menyebut mereka sebagai dwi-pengguna. Alat ini memungkinkan menahan kecanduan mereka dengan tidak mengisap setiap waktu dosis nikotin yang mereka inginkan.

Asosiasi Kesehatan Inggris dan Praktisi Umum dari Royal College berargumen bahwa para komite telah terpengaruh oleh perusahaan rokok dengan nasihat-nasihat yang didasari bukti ilmiah yang lemah.

Dr Tim Ballard, wakil dewan dari Praktisi Umum Royal Colleges menambahkan ” Mungkin ada tempat yang meresepkan e-Voke tapi kami sangat berhati-hati meresepkannya sampai ada bukti jelas keamanan dan khasiatnya. (ish)

Komentar Pembaca