Inilah Pelajaran Penting dari Bulgaria

0
182

Inspiratifnews.com, Sofia, Bulgaria-Grup Kerjasama Bilateral (GKSB) DPR RI berkunjung ke Bulgaria, dalam rangka meningkatkan hubungan bilateral dengan negara tersebut. Kunjungan ini berlangsung Rabu-Senin, 12-18 Juli 2016. GKSB dibentuk oleh parlemen Indonesia bersama dengan parlemen dari 49 negara sahabat, termasuk dengan parlemen Bulgaria.

 

Menurut salah seorang Anggota GKSB DPR-RI, Mukhtar  Tompo, GKSB ini diharapkan berkontribusi dalam mempromosikan hubungan bilateral Indonesia-Bulgaria, baik itu Government to Government, Parliament to Parliament, Business to Business, dalam bidang politik, ekonomi, sosial-budaya, maupun bidang lainnya.

 

Rombongan DPR RI dipimpin oleh Ketua GKSB, Ir. H. M. Ridwan Hisjam (Komisi X DPR RI/ Fraksi Partai Golkar). Anggota GKSB lainnya yang turut serta dalam rombongan, yaitu Mukhtar Tompo, S.Psi. (Komisi VII/ Fraksi Partai Hanura), Ir Sumail Abdullah (Komisi XI/ Fraksi Partai Gerindra), H. Yulian Gunhar, SH., MH. (Komisi VII/Fraksi PDIP), Drs. H. Dadang S. Muchtar (Komisi II/ Fraksi Partai Golkar), H. Andika Hazrumy, S.Sos (Komisi III/ Fraksi Partai Golkar), H. Agung Budi Santoso, SH (Komisi V/ Fraksi Partai Demokrat), H. Jon Erizal, SE.MBA (Komisi XI/ Fraksi Partai Amanat Nasional), dan Drs H. Mohd Iqbal Romzy (Komisi VIII/ Fraksi PKS).

 

Dalam kunjungannya ke Bulgaria,  GKSB bertemu dengan sejumlah pihak antara lain Parlemen Bulgaria, Menteri Luar Negeri Bulgaria, Menteri Pariwisata Bulgaria,Bulgarian Small and Medium Enterprise Promotion Agency (BSMEPA), dan Duta Besar Indonesia untuk Bulgaria.

 

“Dalam kunjungan kali ini, kami mendapatkan banyak masukan untuk pembangunan di Indonesia, khususnya di sektor Pariwisata dan pengembangan Usaha Mikro Kecil Menengah. Selain itu kita juga mendapatkan beberapa apresiasi dan pengakuan dari Pemerintah Bulgaria,” tandas Anggota Fraksi Partai Hanura DPR RI ini.

 

Salah satu pengakuan tersebut, lanjut Mukhtar, adalah pengakuan dari Parlemen Bulgaria tentang keberhasilan demokrasi di Indonesia. “Menurut mereka, meski Indonesia mayotitas beragama Islam, namun mereka mampu berdemokrasi dengan mengayomi keragaman agama dan kultur. Bulgaria sangat ingin belajar sistem demokrasi Indonesia. Mereka melihat, Islam di Indonesia tidak seperti di Timur Tengah,” tambah legislator asal Daerah Pemilihan Sulawesi Selatan 1 ini.

 

Terdapat delapan Partai Politik yang duduk di parlemen Bulgaria. Mereka menamakannya “Persatuan Kekuatan Bulgaria”. Jumlah anggota parlemen disana sebanyak 240 orang. Uniknya, parlemen Bulgaria bukan hanya memiliki kewenangan memilih Perdana Menteri, melainkan juga menteri-menteri yang duduk di kabinet.

 

Bulgaria juga dikenal dengan keberhasilannya mengelola dan menata sektor pariwisata. Bulgaria memiliki 12 Obyek Wisata terkemuka. Salah satunya merupakan obyek wisata terbaik di Eropa saat musim dingin. Bahkan pada momen tertentu, jumlah wisatawan bisa jauh lebih banyak dari jumlah penduduk asli. Jumlah penduduk Bulgaria hanya sekitar 8 juta jiwa.

 

“Bahkan salah satu komoditas yang mereka jual adalah tempat pembuatan film. Sudah banyak film Holywood maupun Bolywood yang diproduksi di Bulgaria. Kementerian Pariwisata Bulgaria juga banyak memproduksi film pendek tentang negaranya. Bagi orang Bulgaria, gambar berbicara lebih banyak daripada kata-kata. Oleh karenanya promosi wisata akan jauh lebih efektif, dibanding sekadar melakukan  sosialiasi tatap muka semata,” ulas Mukhtar.

 

“Selain itu, 60% turis yang datang karena menyukai bangunan peninggalan kuno yang dirawat dengan baik. Mereka memiliki Badan Nasional Standarisasi Perawatan Gedung, untuk menjaga kelestarian bangunan,” sambungnya.

 

Untuk promosi wisata Pemerintah Bulgaria hanya mengeluarkan anggaran sebesar 100 Miliar Rupiah. Investasi itu membuat sektor pariwisata Bulgaria menyumbangan PDB hingga 42% pada tahun 2015, sehingga berkontribusi positif terhadap pertumbuhan ekonomi. Sedangkan Indonesia sampai mengeluarkan anggaran 4,2 Triliun. Namun sektor Pariwisata belum memberikan kontribusi maksimal dalam pertumbuhan ekonomi.

 

GKSB DPR RI juga bertemu dengan Menteri Luar Negeri Bulgaria Daniel Mitov. ia menegaskan bahwa Indoensia adalah negara prioritas utama mereka dalam menjalin hubungan diplomatik di Asia Tenggara. Bulgaria mendukung sepenuhnya komitmen Pemerintah Indonesia dalam pemberantasan terorisme. Meski demikian, Menlu Bulgaria juga menyatakan bahwa terorisme tak memiliki keterkaitan dengan agama manapun.

 

Pembinaan UMKM

 

Bulgaria merupakan mitra terbesar kesembilan bagi perdagangan Indonesia dengan Wilayah Eropa Timur dan Eropa Tengah. Dari segi angka, angkanya masih sangat sedikit, dan masih terdapat potensi yang sangat besar untuk dikembangkan.Bulgarian Small And Medium Enterprise Promotion Agency (BSMEPA) adalah lembaga khusus yang ditugasi Pemerintah Bulgaria untuk melakukan pembinaan terhadap UMKM.

 

Tugas BSMEPA adalah memfasilitasi para enterpreneur  untuk mengembangkan potensi ekonomi Bulgaria. BSMEPA memiliki misi untuk melakukan internasionalisasi potensi Bulgaria. 99,8% perusahaan atau 241.000 perusahaan di Bulgaria adalah UMKM. Dan 75% usia produktif berkerja disektor ini.  Mereka menyumbangkan 64% dari PDB Bulgaria.

 

“Tugas BSMEPA lainnya adalah membuat peta bisnis Bulgaria. Data potensi tersebut senantiasa ter-update. Data penting dimiliki, agar tepat sasaran dalam mengambil kebijakan. BSMEPA menolong warga bulgaria yang ingin mengembangkan usaha. Mulai dari membantu perizinan, hingga memfasilitasi permodalan dari pihak perbankan. Lembaga ini memang diberi kewenangan oleh Bank untuk memutuskan pengusaha mana yang berhak mendapatkan kredit. BSMEPA juga memfasilitasi pameran produk UMKM,” urai Mukhtar.

 

Dalam pertemuan dengan BSMEPA tersebut, Mukhtar juga sempat mengulas potensi pohon Lontara yang ada di daerahnya. Pohon Lontara tersebut kini diolah menjadi salah satu industri gula merah yang berorientasi ekspor. BSMEPA tertarik dan siap bekerjasama dalam mempromosikan hasil industri lontara tersebut ke Benua Eropa.

 

“Kita membutuhkan lembaga semacam BSMEPA, yang memiliki kewenangan besar, dan memang ditugaskan khusus membantu UMKM. Selama ini kan program kita seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR), terkesan rakyat yang harus pontang-panting mengurus segala sesuatunya,” tambahnya.

 

Dalam sektor perdagangan, hubungan Indonesia-Bulgaria  masih punya peluang besar untuk terus dikembangkan, bahkan Bulgaria bisa menjadi pintu masuk perdagangan untuk seluruh Eropa Timur. Pada periode 2010-2015, volume perdagangan bilateral RI-Bulgaria berkisar antara USD 76-123 juta. Di Bulgaria juga sangat cocok untuk dibangun pabrik Mie Instan (Indomie), untuk selanjutnya dipasarkan ke Uni Eropa. Daripada mengekspor barang jadi, lebih baik dirikan pabrik di tengah pasar. Selain itu, Indonesia juga dapat mengembangkan kerjasama dengan Bulgaria dalam pengembangan Industri Farmasi, Infrastruktur jalan, kereta api, eksplorasi gas bumi, dan lain-lain.

GKSB DPR RI Bersama Dubes Indonesia untuk Bulgaria
GKSB DPR RI Bersama Dubes Indonesia untuk Bulgaria

“Selain bertemu dengan pihak Bulgaria, GKSB DPR-RI juga bertemu dengan Duta Besar Indonesia untuk Bulgaria, Sri Astari Rasjid. Kami berdiskusi tentang peluang besar kerjasama Indonesia-Bulgaria dalam bidang perdagangan dan pariwisata,” tambah Mukhtar.

 

Meski dengan keterbatasan anggaran, Dubes Sri Astari Rasjid mencoba menutupi kekurangan tersebut dengan menjalin kerjasama dengan kementerian terkait, khususnya dalam melakukan sinkronisasi program. “Bayangkan, APBN hanya menganggarkan 19 miliar, itupun biaya program hanya 1,9 miliar, selebihnya untuk membiayai biaya rutin dan operasional kedutaan. Bahkan untuk biaya sewa Rumah Jabatan Dubes, dibutuhkan sekitar 18 ribu Euro/bulan, atau setara dengan 260 juta Rupiah/bulan,” terang Mukhtar Tompo.

Anggota DPR RI Mukhtar Tompo Berbincang Bersama Dubes Indonesia untuk Bulgaria
Anggota DPR RI Mukhtar Tompo Berbincang Bersama Dubes Indonesia untuk Bulgaria

“Hal yang lebih memprihatinkan dalam pengamatan saya adalah fasilitas kendaraan yang minim. Kendaraan dinas Ibu Dubes sudah tidak representatif. Mobil jenis Mercy yang sudah berusia 12 tahun. Ongkos perawatannya besar, sehingga tidak efisien. Apalagi Sang Dubes membawahi tiga negara (Bulgaria, Albania, dan Macedonia), yang lebih efisien ditempuh melalui perjalanan darat. Oleh karena itu, mobil dinas yang representatif sangat dibutuhkan,” jelas Anggota Komisi VII DPR RI ini.

 

Mukhtar menegaskan bahwa sepulang dari Bulgaria, GKSB DPR RI akan memberikan masukan-masukan kepada Pemerintah, berdasarkan inspirasi yang mereka peroleh dari negara tersebut. “Insya Allah sepulang dari sini, kami akan tindaklanjuti dengan memberikan masukan ke Pemerintah, sesuai komisi masing-masing,” tutupnya.(rilis)

Komentar Pembaca