Integritas HMI

0
170

Adil-Zulkifli

Oleh: Adil Zulkifli
Calon Ketua Umum HMI Cabang Makassar

Cicemma rijajiang, ciceng tomma mattaro ada, yang kemudian diartikan sekali saya dilahirkan ke permukan bumi, hanya sekali juga menyimpan perkataan untuk dilakukan. Bagi saya, pepatah bugis ini selalu melekat hingga kini, dan selanjutnya saya sebut sebagai nilai integritas yang harus dijalankan.

Berbicara integritas tentunya kita akan sepakat bahwa akan berbicara konsistensi dan keteguhan yang tak tergoyahkan dalam menjunjung tinggi nilai-nilai luhur dan keyakinan. Definisi lain dari integritas adalah suatu konsep yang menunjuk konsistensi antara tindakan dengan  nilai dan prinsip.

Dengan demikian, saya berani menegaskan bahwa saya sebagai manusia yang lahir dari kaum bugis, bukan bermaksud primordial, tentunya memiliki integritas, nilai-nilai, serta prinsip yang tak jauh dari apa yang disebutkan pada awal tulisan saya ini. Manusia bugis berintegritas karena memegang teguh perkataan, memiliki nilai yang diperjuangkan, serta memiliki komitmen dari perkataan.

Selain integritas kebugisan, persentuhan kedua yang membentuk jati diri saya ini adalah Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Dari organisasi ini pula saya belajar konsistensi, nilai, dan prinsip perjuangan. Bagiku keduanya tak dapat dipisahkan.
Melalui kebugisan saya belajar bahwa pimpinan yang berintegritas dipercayai karena apa yang menjadi ucapannya juga menjadi  tindakannya. Melalui HMI, saya belajar seorang pemimpin yang mempunyai integritas akan mendapatkan kepercayaan.

Kesimpulannya, integritas adalah kompas yang mengarahkan perilaku seseorang. Integritas adalah gambaran keseluruhan pribadi seseorang (integrity is who you are).
Selanjutnya saya tak ingin berbicara integritas sebagai karakter pribadi saya, melainkan akan berbicara tentang integritas HMI. Hal inilah yang menjadi gagasan saya untuk bertarung memperebutkan 01 di lembaga tertua negeri ini.

HMI, tak hanya kadernya yang harus berintegritas, melainkan organisasi ini pula wajib memiliki integritas. Sebab itu akan menjadi gambaran seluruh kader yang akan dihasilkannya. Bagi saya, HMI hanya lahir sekali dan hanya sekali pula, organisasi ini mengikrarkarkan khittah perjuangan atas kelahirannya, maka khittah itu yang menjadi warga meski zaman berubah warna. Salah satunya adalah maksud dan tujuan HMI, yakni terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi, yang bernafaskan islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT.

Selanjutnya integritas lembaga ini tertuang dalam fungsi HMI, yakni pada pasal 8 AD disebutkan bahwa HMI adalah organisasi kader yang berorientasikan Islam, dimana seluruh aktivitas yang dilakukan pada dasarnya merupakan proses kaderisasi, sehingga HMI berfungsi dan hanya selalu membentuk kader-kader muslim intelektual yang profesional. Kader adalah sekelompok orang yang terorganisir secara terus menerus dan akan menjadi tulang punggung bagi kelompok yang lebih besar.

Hal inidijelaskan dalam ciri-ciri komulatif seorang kader HMI, yaitu: (1) seorang kader bergerak dan terbentuk dalam organisasi, mengenal aturan-aturan main organisasi dan tidak bermain sendiri sesuai dengan selera pribadi. Dari segi nilai, aturan itu adalah NDP, sedang dari segi operationalisasi organisasi adalah AD/ART HMI, pedoman perkaderan, dan pedoman serta ketentuan organisasi lainnya. (2) seorang kader memiliki komitmen yang terus menerus (permanen), tidak mengenal semangat musiman, tapi utuh dan istiqomah (konsisten) dalam memperjuangkan dan melaksanakan kebenaran. (3) seorang kader memiliki bobot yang dan kualitas sebagai tulang punggung atau kerangka yang mampu menyangga kesatuan komunitas manusia yang lebih besar. Jadi fokus penekanan kaderisasi adalah pada aspek kualitas. (4) seorang kader memiliki visi dan perhatian yang serius dalam merespon dinamika sosial lingkungannya dan mampu melakukan social engineering.

Sedang dalam Pasal 9 Anggaran dasar disebutkan HMI berperan sebagai organisasi perjuangan. Sebagaimana di atas, baik secara organisatoris maupun etis adalah kewajiban bagi kader HMI untuk komit terhadap Islam dan HMI adalah alatnya, alat perjuangan untuk mentransformasikan nilai-nilai ke-Islaman yang membebaskan (liberation force), dan memiliki keberpihakan yang jelas terhadap kaum miskin (dhu’afa) dan kaum tertindas (mustradzafin).

Dengan fakta-fakta organisatoris diatas, sungguh celaka kalau ternyata HMI yang berintegritas itu sulit ditemukan, dan sebaliknya, HMI malah bertipe hipocricy . Jika begitu maka sungguh-sungguh dalam ancaman bahaya.  Bahaya yang mengancam ini bukan main-main. Karena lembaga yang tidak jujur, lebih mengutamakan kepentingan pribadi, kelompok dan golongan akan cenderung menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Lembaga yang mengalami krisis integritas akan mengalami kemerosotan akibat proses pembusukan dari dalam unsur-unsur organisasi.

Padahal dengan integritas, HMI melahirkan pemimpin HMI yang memiliki kapasitas dan kapabilitas yang baik. HMI tentunya akan siap tantangan yang kian rumit di tengah situasi perlambatan ekonomi nasional dan global.

Selain itu, HMI juga harus berhadapan dengan maraknya perkembangan isu ekonomi kawasan,  isu radikalisasi dan terorisme, dan laju pertumbuhan teknologi IT yang kian cepat. Hal ini memaksa HMI tampil tidak sekedar menjadi konsumen gagasan tapi justeru hadir melahirkan gagasan dan mampu menjadi organisasi yang adaptif terhadap perubahan. Gagasan yang memberikan warna awalnya, bukan diwarnai.

Kunci penanaman integritas, ada pada nilai kekaderan dan pengkaderan. Nilai-nilai apa yang ditanamkan di benak generasi mendatang dan teladan apa yang dicontohkan akan membentuk karakter mereka.

Jika nilai-nilai yang mengunggulkan dan mengutamakan kepentingan diri dan kelompoknya sendiri. Jika yang dicontohkan adalah perilaku yang tidak konsisten apa yang diucapkan dan dikotbahkan, maka jangan berharap akan banyak lahir manusia-manusia berintegritas di HMI. (*)

Komentar Pembaca