Iqbal : 40 RUU Prioritas 2016 Tunggu Kontribusi Ormas Islam

0
102

Inspiratifnews.com,Enrekang-Ormas Islam sebagai tempat berhimpunnya harapan umat diminta lebih proaktif dalam proses memperjuangkan legislasi agar pro-umat. Ada 40 Rancangan Undang-Undang (RUU) yang masuk prioritas Program Legislasi Nasional (Prolegnas) 2016. Beberapa diantaranya dapat dikategorikan RUU sensitif, karena bersentuhan langsung dengan hajat hidup masyarakat luas.

Permintaan itu diungkapkan oleh Anggota DPD – MPR RI asal Sulawesi Selatan, AM Iqbal Parewangi, saat membawakan orasi pengantar di arena musyawarah Muhammadiyah-Aisyiyah Enrekang (28/2/2016).

Paparan Iqbal itu untuk mengantar kegiatan dengar pendapat yang mengangkat tema “Musyawarah dan 4 Konsensus MPR RI”.

“Sudah berulang kali saya katakan ini, Indonesia adalah kado terindah umat Islam kepada bangsa dan negaranya. Karena itu tidak mungkin umat Islam mau merusak Indonesia. Tapi itu saja tidak cukup. Tidak cukup hanya tidak merusak. Umat Islam harus proaktif berkontribusi membangun Indonesia. Termasuk legislasinya. Dimana logikanya umat pemberi kado kemerdekaan dan mayoritas hanya menunggu orang lain membuatkan aturan? Tahun ini ada 40 RUU prioritas, beberapa diantaranya sensitif. Ormas Islam harus proaktif membantu kami memperjuangkan legislasi agar pro-umat,” urai Iqbal.

Menyinggung soal musyawarah, Iqbal dengan lugas menyatakan hakikat demokrasi ada pada musyawarah. “Demokrasi dalam Islam dilaksanakan melalui mekanisme musyawarah untuk mufakat. Memang ada perbedaan dengan sistem demokrasi Barat yang mengedepankan vooting, sementara di Islam mufakat. Tetapi, perlu difahami bahwa hakikat demokrasi ada pada musyawarah. Sejatinya, musyawarah itulah demokrasi yang ideal,” jelas Iqbal.

Untuk sekadar diketahui, lanjut Iqbal, musyawarah berasal dari kata syawara yang bermakna “mengeluarkan madu dari sarang lebah”. Orang bermusyawarah ibarat lebah yang bekerja sangat disiplin, bekerjasama dengan solid, hanya makan dari hal-hal yang baik, serta tidak mengganggu apalagi merusak dimanapun ia hinggap. Bahkan sengatannya pun bisa jadi obat. Sedangkan isi atau pendapat musyawarah itu bagaikan madu yang dihasilkan oleh lebah : manis sekaligus sebagai obat. Itulah hakekat dari musyawarah.

Dengan memahami esensi musyawarah, yaitu memberi kesempatan kepada setiap anggota masyarakat yang memiliki kemapuan untuk berpartisipasi dalam pembuatan keputusan yang mengikat, baik dalam bentuk aturan-aturan hukum atau kebijaksanaan politik, maka mudah terpahami pula bahwa demokrasi yang sesungguhnya harus berbasis pada permusyawaratan atau musyawarah.

“Termasuk permusyawaratan dalam sila keempat Pancasila,” pungkas Iqbal.*

Komentar Pembaca