Iqbal Sosialisasi 4 Pilar Bersama Dikdasmen Muhammadiyah Kota Makassar

0
75

Inspiratifnews.com,Makassar-Terkait nasib guru-guru madrasah dan pesantren, ada yang menarik pada kegiatan Sosialisasi 4 Konsensus MPR RI yang dilaksanakan oleh Anggota DPD – MPR RI asal Sulawesi Selatan, AM Iqbal Parewangi, di Makassar, 27 Februari 2016 lalu. Kegiatan yang dirangkaikan dengan workshop tersebut mengangkat tema “Peningkatan Mutu Pendidikan dan 4 Konsensus MPR RI”.

Kegiatan itu digelar di Gedung Dakwah Aisyiyah Kota Makassar, dan dikemas dalam bentuk sosialisasi dan workshop. Hadir 150 lebih peserta dari berbagai elemen, termasuk sejumlah tokoh, kepala sekolah, dan guru-guru dari berbagai sekolah Muhammadiyah se-Kota Makassar.

AM Iqbal Parewangi kembali menegaskan pentingnya peran guru dalam mebangun bangsa dan negara ini. “Tanpa guru, Pancasila tak terpahami. Tanpa guru, siapa mau tahu UUD. Tanpa guru, NKRI mati harga. Dan tanpa guru, kebhinnekaan tidak akan menjelma tunggal ika,” tegasnya.

Di sisi lain, nasib guru masih begitu memprihatinkan. “Ini seperti paradoks. Peran guru diakui sangat penting. Tapi nasib guru tetap saja genting, jauh dari ideal. Apalagi nasib guru madrasah swasta dan pesantren.”

Lebih jauh Iqbal mengungkap sejumlah gugatan yang kerap ia dengar terkait nasib lembaga pendidikan Islam. Memang miris. Jumlah seluruh murid yang menimba ilmu di madrasah dan pesantren saat ini sebanding dengan jumlah seluruh murid yang belajar di sekolah-sekolah negeri yang dikelola pemerintah. Demikian pula jumlah madrasah dan pesantren sebanding dengan jumlah sekolah-sekolah negeri di Indonesia.

“Banyak yang menilai kehadiran negara tidak adil. Ya, saya tidak mau pura-pura. Faktanya memang begitu. Dengan jumlah murid dan jumlah lembaga seimbang begitu, tidak seharusnya madrasah dan pesantren hanya mendapat alokasi anggaran sepersembilan. Tapi nyatanya begitu. Belum adil,” kata Senator yang berlatar belakang pendidik ini.

Karena itu, di bagian akhir pengantar sosialisasinya, sekaligus untuk mengawali sesi dialog, Iqbal melontarkan pertanyaan menarik, “Kalau negara tidak segera hadir, madrasah dan pesantren bisa keburu mati lemas. Betulkah begitu? Kalau itu betul, bisakah negara ini mengani sendiri kebutuhan pendidikan anak bangsa ini?”

Rentetan pertanyaan Iqbal itu kemudian memancing tanggapan dan diskusi hangat peserta.*

Komentar Pembaca