Islam Kekerasan Seksual

0
103

“Islam dan Kekerasan Seksual”

Oleh : Saenal Zulkarnain
Direktur Eksekutif Episentrum Institute
Himpunan Mahasiswa Islam (HMI)
Himpunan Pemuda Pelajar Mahasiswa Sinjai (HIPPMAS)

Tulisan sederhana ini diharapkan sebagai diskursus wacana bahwa Islam adalah agama yang damai, Islam yang ramah, Islam yang menghargai toleransi dan Islam yang mengedepankan akal sehat dalam merespon segala realitas sosial. Dalam menyikapi berbagai kasus kekerasan akhir-akhir ini, penulis menggunakan kerangka yang relatif stabil dalam merespon kejadian yang berkembang. Nilai normatif tersebut diintegrasikan dari paradigma pancasila yang memandang bahwa defisit moralitas dari representasi 5 sila dari pancasila. Kecenderungan diskriminasi ini terjadi pertama, mencerminkan cara kita beragama yang sempit, beragama yang terjebak dalam ritus formalisme tidak dapat hidup berdampingan dengan orang lain. Kedua, tidak dikembangkan dan saling menghargai hak azasi manusia secara adil dan beradab. Disisi lain, maraknya kasus kekerasan menurut hemat saya bahwa absennya negara didalam memberikan perlindungan pada setiap warga negara.

Didalam alam pancasila inilah yang dikenal dengan ‘kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat dalam permusyawaratan perwakilan’ bagaimana semestinya negara hadir dalam dimensi mempersatukan nilai-nilai persaudaraan etnisitas dan kelompok-kelompok dalam melindungi dan memberikan keadilan bagi seluruh tumpah darah Indonesia. Khusus di Indonesia, peran negara sebagai central persatuan. Oleh karena itu, menjadi seorang pemimpin betul-betul menjadi jangkar yang mampu mendistribusikan perlindungan bagi setiap warga negara.

Namun ketika negara gagal dalam memberikan perlindungan, perdamaian, mecerdaskan, keadilan dan gagal dalam memberikan kesejahteraan maka fenomena yang akan kita saksikan adalah banyaknya warga negara yang kembali mencari sumber-sumber perlindungan primordial.
Dalam merespon hal tersebut, Islam sangat menekangkan pentingnya sikap eligetarianisme bahkan Islam tidak memiliki dosa bawaan bahwa ketika agamanya itu terlahir tidak memberi tempat untuk perilaku dikriminasi, jangankan hal tersebut ketika kita merefleksi sejenak bagaimana Islam ini dibangun maka akan diperoleh data bahwa banyak yang secara tradisional tidak terhormat, budak ‘hamba sahaya’, orang badui maupun orang dilihat dari segi ‘kulit’ yang menjadi elemen pengusung dari Islam.

Kita mengengingat bersama bagaimana Rasulullah sejak pertama kali membangun yatsib sekarang dikenal kota ‘madinah’, dalam menyelesaikan masalah publik tidak hanya didasarkan pada klaim-klaim keagamaan tetapi atas dasar konsensus kemudian atas dasar kesetaraan hak dengan pengikut agama-agama lain yang merupakan bagian dari ‘Ummatan Wahidatan’. Pesan moral Islam sangat menjunjung nilai-nilai kesetaraan dan tidak memberikan ruang dikriminasi ataupun didasarkan pada warna kulit.

Dalam konteks kekinian, Kenapa kasus kekerasan seksual ‘perempuan’ dapat terjadi dan justru banyak terjadi terhadap masyarakat yang mengatasnamakan sebagai masyarakat ‘religius’ dan bahkan diklaim sebagai masyarakat agamais? Dalam sudut pandang Islam ada diskursus wacana ataupun ada cara pandang bahwa pendekatan pada wilayah persoalan itu dapat di minimalisir mulai dari segi fashion dari konsep preventif tersebut, sehingga dapat terintegrasi kepada menghomogenisasi cara berpakaian, mencegah dengan asumsi bahwa hal tersebut dapat menanggulanggi tingkat kekerasan seksual. Tetapi indikator tersebut dapat mematahkan sebuah asumsi bahwa cara berpakaian dapat mempengaruhi kekerasan, dari berbagai kasus yang ada ternyata banyak juga perempuan-perempuan yang berkerudung mendapatkan tindakan kolektif padahal ketika dilacak perempuan tersebut berasal dari keluarga yang Islami, disisi yang lain misalnya berbagai imigran yang negara-Nya berbasis agama justru pun mendapatkan perlakuan yang sama dalam ranah keluarga ‘rumah’ yang diasumsikan aman bahkan banyak kita dapati pemerkosaan, yang lebih ironi karena kasus tersebut tidak melihat usia, usia lanjut pun rentang mandapatkan perlakuam yang melanggar asusila tersebut.

Sehingga asumsi yang mengatakan bahwa langka preventif dengan mendekonstruksi cara berpakaian dapat mengurangi tingkat kekerasan seksual mungkin bisa tepat dalam konteks dan tinjauan yang lain, tetapi ketika melihat realitas yang ada hal tersebut tidak berbanding lurus.

Konsep lain yang coba ditawarkan Islam adalah konsep yang normatif serta kolektif preventif, dalam konteks masyarakat modern sekarang banyak berasumsi bahwa hal tersebut merupakan hak individual selama tidak menganggu dan melanggar orang lain boleh dilakukan karena dianggap sebagai kebebasan personal tetapi dalam kacamata teologi Islam merupakan kolektif priventif bahwa orang lain berhak untuk senantiasa mengintervensi, mencegah, mengingatkan karena bagian dari konsep dakwah dalam hukum Islam dikenal sebagai ‘fardhu qifayah’. Tatanan masyarakat akan baik ketika kolektif preventif dan regulasi, ini memang melahirkan suatu ketegangan tersendiri, karena itu Islam harus sedini mungkin mengintegrasikan suatu metode atau terobosan baru menggunakan posisi representatif berbasis teologi suara korban.

Secara historis, kita tidak bisa melupakan sejarah awal Islam bahwa itu dimulai dengan membaca realitas sosial, kemudian bagaimana isue-isue perempuan, diskriminasi perempuan dan Rasulullah memulai gerakan sosial tersebut dari kelompok-kelompok marginal serta bagaimana mengembalikan spirit kejayaan Islam dan bukan sejarah politik elite tetapi mengangkat harkat dan martabat kelompok-kelompok yang termarjinalkan serta mendudukan pada posisi yang sama dari semua segmentasi kehidupan.

Dalam konteks keindonesiaan, memerangi kasus kekerasan perempuan ‘seksual’ mendapat respon positif dari berbagai pihak karena memang dianggap sebagai yang krusial dan menjadi masalah yang mengkawatirkan negara misalnya pemerintah dalam hal ini kementerian sosial, Komnas HAM, KPAI, LSM dan komunitas-komunitas yang fokus dalam perlindungan tindak kekerasan. Dalam perspektif gerakan sosial kekerasan terhadap perempuan disuarakan dari berbagai kelompok ekstrimisme misalnya kelompok ‘feminisme radikal’ yang memutlakkan permasalahan kekerasan seksual terletak pada pelaku ‘laki’ dari segi biologis dan atas dasar ideologi patriarkinya karena dianggap penguasaan fisik perempuan merupakan bentuk dasar penindasan (kekerasan) terhadap perempuan.

Ada juga kelompok yang menamakan diri ‘feminisme marxis’ yang berbeda pandangan dengan kelompok feminisme radikal, subtansi perlawanan kelompok ini lebih kepada kekerasan perempuan yang diakibatkan atas dasar hubungan produksi. Dalam konteks sekarang yang syarat dengan dunia kapitalistik, kekerasan terhadap perempuan dianggap sebagai produk keuntungan produksi sehingga perilaku tersebut dapat dilanggengkan, dengan asumsi diberhentikan dari perusahaan ketika tidak manut, proses inilah yang dikenal dengan sistem eksploitasi struktural. Berbeda dengan feminisme radikal dan marxis, ‘feminisme sosialis’ mensinergikan metode historis materialis Marx dan Engels dengan konsep personal is political dari kelompok feminis radikal, Jaggar (1983). Feminisme sosialis berpandangan partisipasi perempuan dalam dunia ekonomi memang diperlukan, tetapi tidak selalu akan menaikkan status perempuan dalam ranah sosial. Rendahnya partispasi memang berkorelasi dengan rendahnya status perempuan tetapi keterlibatan perempuan justru akan menjerumuskan kepada tindakan kekerasan (perbudakan).

Dengan dasar tersebut bahwa tindakan kekerasan terhadap perempuan dapat dijadikan sebagai pisau analisa untuk mempertajam pandangan atas berbagai kasus yang akhir-akhir ini menjadi sorotan publik. Tanpa adanya analisa tersebut maka akan mengalami reduksionisme atau kebuntuan di dalam menilai realitas sosial antara sistem dan struktur, dan akibatnya hanya akan menyudutkan kaum perempuan sebagai korban kekerasan seksual.

Dengan kata lain, tindakan kekerasan terhadap perempuan menjadi tanggung jawab bersama yang harus dilawan secara kolektif dan komprehensif serta mendorong DPR untuk mendesain dan mengesahkan undang-undang perlindungan tindak kekerasan ‘seksual’ terhadap perempuan.(*)

Komentar Pembaca