Islam, Pembebasan, dan Kemanusiaan

0
105

Islam, Pembebasan, dan Kemanusiaan

oleh

Muzakkir Djabir

Ketua Umum PB HMI 2003-2005

Agama sebagai realitas sosio-historis sejak ribuan tahun lalu, telah membuktikan dirinya memiliki kekuatan-visi transformatif yang sangat dahsyat, agama mampu mendorong penganutnya untuk memandang realitas dunia sebagai entitas yang senantiasa diobyektifikasi dan disikapi sesuai visi teologis agama itu sendiri.

Namun dalam sejarahnya kemudian gagasan visioner, menggerakkan dan membebaskan dari setiap agama-agama mengalami reduksi secara signifikan akibat perseteruan dan interest politik kaum elit, pun demikian pula dengan ajaran agama Islam, catatan-catatan buram yang berdarah-darah merupakan wasiat purba yang senantiasa melekat pada memori sejarah-sosiologis umat Islam.

Masih terekam bagaimana penegasian antar aliran fikih, antar mazhab (meski dengan mengorbankan nyawa manusia), belum lagi potensi konflik klasik antara umat Islam, Nasrani dan Yahudi, perseteruan (sikap saling curiga) antara sesama penganut agama semakin meluas dan terinternalisasi dalam kesadaran mereka yang paling sublim, akibat dilegitimasi oleh kekuasaan. Friksi internal umat Islam sungguh  banyak menyita energi, sehingga lalai melakukan pembacaan-kontekstualisasi terhadap teks sosial zaman yang melaju sedemikian cepat, faktor ini menjadi salah satu point penyebab runtuhnya rumah peradaban Islam.

Sedang disisi lain, sejak bangsa Eropa sukses meruntuhkan  keangkuhan feodalisme dan otoritarianisme gereja, mereka berpacu dengan modernisme yang ditopang oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga lambat laun tumbuh menjadi kiblat peradaban dunia sampai sekarang, terlepas metode penancapan pilar rumah peradaban mereka menyebabkan luka kemanusiaan dan ekologis yang demikian parah.

Kemajuan peradaban Barat di satu sisi dan keruntuhan peradaban Islam disisi lain, menggugah kesadaran baru bagi umat Islam untuk melakukan reinterpretasi dan revitalisasi dokrinal (teologi), teologi diklaim menjadi faktor utama terpenjaranya umat Islam dalam kejumudan dan keterbelakangan disegala dimensi kehidupan. Terlebih setelah futurulog John Naisbitt dan Patricia Aburdane (Megatrends 2000) memprediksikan millineum ketiga adalah abad kebangkitan agama-agama (spiritualisme), termasuk keberhasilan revolusi Islam Iran dibawah pimpinan Imam Khoimeni menumbangkan rezim despotik Syah Reza Pahlevi dukungan Amerika Serikat tahun 1979.

Keberhasilan revolusi Islam Iran membangkitkan kepercayaan diri umat Islam secara global, ternyata agama sangat efektif menjadi jargon-media pembebasan, sejak itu teologi pembebasan Islam menjadi mainstream pada diskursus intelektual. Agama memiliki watak ganda, disamping merupakan media pembebasan, juga sebaliknya bisa menjadi alat penindasan, pernyataan terakhir menegaskan perspektif Karl Marx, bahwa agama merupakan candu yang mereduksi progresifitas-perlawanan rakyat.

Teologi pembebasan awalnya muncul dikalangan Kristen di negara Amerika Latin, dipelopori Gustavo Guiterez (A Theology of Liberation, 1971) dan Segundo Galilea (1979), yang merupakan refleksi kritis atas praksis Kristiani untuk mempromosikan evangelisasi (Sosialisme Religius, 2000), sedangkan teologi pembebasan Islam dipromosikan oleh antara lain Arkoun, Hasan Hanafi, Abed Al Jabiri dan Ali Ashgar Enggineer, gagasan pembebasan yang bersumber (dieksplorasi) dari doktrin Islam.

Teologi pembebasan Islam adalah bangunan perspektif yang mencoba merekonstruksi-dekonstruksi doktrin agama yang an sich metafisis-filosofis bergerak menjadi praksis-sosial (orto-filosofis ke orto praksis), dari membela Tuhan menjadi pembela manusia, tetapi sering pergeseran yang terjadi lebih ekstrem ketitik praksis-sosiologis, sehingga meminggirkan-meniadakan dimensi transendental doktrin Islam, artinya proses elaborasi dekonstruktif yang dilakukan dengan tujuan membangun nilai agama yang berwajah transformatif-menggerakkan, sering teralienasi-tercerabut dari akar value sacra-nya, akibatnya muatan pembebasan dan realitas ciptaannya tidak jauh berbeda dengan muatan dan konstruksi realitas yang dilatari semangat pembebasan sekuler Barat yang bebas nilai.

Menurut Cak Nur, sekularisasi keberagamaan tetap dibutuhkan untuk mendorong “ruang bebas terbatas” (kelonggaran) bagi umat Islam untuk melakukan kontekstualisasi doktrin agamanya sesuai zeitgeit, bukan sekularisme yang menghalalkan kebebasan tanpa batas dan meniadakan pondasi moralitas (bebas nilai).

Gagasan sekularisasi Cak Nur banyak disalah tafsirkan khususnya oleh kelompok Islam ortodoks. Terlepas dari itu, hakikat teologi pembebasan adalah untuk memvitalisasi-mereaktualisasi visi profetik agama, yang karena telikung politik menyebabkan dimensi suci-profetik agama menjadi bias, terdegradasi dan menjadi alat penindasan manusia.

Agama sebagai doktrin pembebasan meniscayakan kepada pemeluknya  melakukan pembacaan secara paripurna terhadap doktrin agamanya, karena manusia merupakan subyek sekaligus obyek keberagamaan (simbol hermeneutik), bukankah sering kita saksikan (implisit-eksplisit) semangat pembebasan agama terdistorsi akibat kesalahan memaknai spirit pembebasan tersebut.

Olehnya itu, pembacaan agama yang an sich teosentris (manusia untuk agama) harus digeser secara proporsional menjadi antroposentris (agama untuk manusia).

Pembacaan agama yang antroposentris menurut Essack (24/05/2002) membawa dua implikasi.Pertama, pembacaan yang selaras dengan misi dan kepentingan umat manusia secara keseluruhan.Kedua, pembacaan harus dibentuk oleh pengalaman dan aspirasi umat manusia secara keseluruhan. Namun manusia sebagai kunci hermeneutik memunculkan perdebatan pada ranah teologi klasik, yaitu problem menyangkut the value of mankind sebagai instrumen pengukuran kebenaran dan persoalan kepemilikan otentisitas pembacaan terhadap agama.

Dalam sejarah teologi Islam, hal ini merupakan problem yang krusial, dan hingga saat ini masih terus diperdebatkan pada jagat diskursus intelektual Islam. Menurut Essack, orang atau kelompok yang merasa paling ‘otoritatif’ menafsirkan doktrin agamanya, orang atau kelompok itu telah melakukan perzinahan hermeneutik (promiscuity hermeneutical), untuk menangkap spirit pembebasan agama, pembacaan realitas teks agama harus sesuai dengan takaran nilai-nilai kemanusiaan yang dibingkai dalam kerangka tauhid atau peng-Esa-an Tuhan, perspektif ini sesuai dengan gagasan Max Weber dalam magnum opus-nya Ethic Protestan dan Hans Kung (seorang teolog Kristen) yang menjelaskan kebenaran suatu agama sangat ditentukan sejauhmana agama tersebut memuat spirit universalisme kemanusiaan.

Nabi Muhammad SAW sebagai pembawa risalah nubuwwah Ibrahimik yang terakhir menjadi cermin-obor pembebasan bagi umat manusia dari ketertindasan dan keterbelakangan, menurut Ali Ashgar Enggineer yang membedah risalah pembebasan kenabian Muhammad melalui pendekatan sosio-ekonomi, mengemukakan tiga bentuk pembebasan yang dilakukan Muhammad SAW.Pertama, pembebasan sosio-kultural. Kedua, keadilan ekonomi. Ketiga, sikap terhadap agama lain.

Ketiga bentuk pembebasan tersebut jika dipadatkan menjadi sebuah konsepsi teologi pembebasan praksis-sosio-transenden, kompilasi gagasan yang mendorong, mengembangkan dan mengerakkan penciptaan tata sosial yang berkesejahteraan secara ekonomis-spiritualitas dalam cakrawala semesta egaliterianitas dan pluralitas sesama umat manusia tanpa disekat oleh perbedaan ideologi, suku, ras, agama dan status sosial.

Realitas kekinian dan kedisinian masyarakat dunia, khususnya konteks keindonesiaan yang kian meminggirkan semesta kearifan kemanusiaan, meniscayakan pentingnya mentrasformasikan dan membumikan pesan-pesan psiko-historis gerakan pembebasan yang dicanangkan Nabi Muhammad SAW, tentu dengan semangat kontekstualisasi terhadap realitas teks sosial kekinian.

 

Komentar Pembaca