JIHAD LITERASI

0
67

Azaki Khoirudin

Sekretaris Jenderal PP IPM

Inspiratifnews.com-Kualitas literasi masyarakat mempengaruhi proses-proses perwujudan kesejahteraan. Menurut sejumlah indikator kuantitatif Indonesia termasuk negara dengan tingkat literasinya rendah. Tentu saja, kenyataan ini harus segara diatasi. Masalah literasi di Indonesia sebenarnya tantangan klasik. Tetapi saat ini dapat dijadikan agenda penting yang prospektif. Di Indonesia program-program pengembangan literasi didukung oleh masyarakat dan negara dengan berbagai jenis dan model pendekatan yang berbeda.

Saya kira harus segera dijawab mengapa tradisi oral tetap tegak dan sangat kuat.

Pentingnya membaca, masyarakat belum menyadarinya. Tapi setidaknya kampanye gerakan membaca itu tidak boleh dihentikan oleh apa pun dan siapa pun. Ini adalah bentuk perjuangan atau jihad yang tak kalah mulianya dengan ritual ibadah. Lantaran terjadi pergeseran dahsyat, bahwa era ini tafsir mengenai butu aksara, butu huruf sudah bergeser miliaran kilometer.

Awalnya buta aksara didasarkan pada kemampuan membaca dan menulis. Tapi kini terletak pada sejauh mana orang bisa memanfaatkan kemampuan membaca dan menulis untuk mengembangkan diri dan lingkunganya. Sehingga, jika dulu kita harus “Melek Huruf”, kini tampaknya perlu “Melek Baca”. Supaya tidak “Buta Baca” yang berakibat “Buta Realitas”. Sehingga apa yang disebut Taufiq Ismail sebagai “tragedi nol baca” harus segera kita akhiri.

Perjuangan literasi, di Yogyakarta nampaknya sudah dimulai oleh komunitas-komununitas baca. Salah satunya adalah Rumah Baca Komunitas (RBK).  Komunitas RBK ini menyediakan berbagai jenis bahan bacaan baik buku, majalah,e-book yang merupakan koleksi komunitas dan anggota yang dishare secara saka rela. Menariknya kekuatan komunitas ini adalah pada nilai voluntarisme. Jenis buku-buku yang tersedia meliputi buku bacaan umum seperti buku psikologi, social, ekonomi, motivasi, seri remaja, anak-anak, life skill, dan sebagainya.

Setidaknya ada dua kelebihan dari rumah baca komunitas ini. Pertama, buku-buku selain di kumpulkan dari gerakan hibah. Dimana semua orang dapat menitipkan buku/bacaan tanpa mengubah status kepemilikan. Kedua rumah baca ini sebagai tempat belajar alternatif 24 jam sehari dan 7 hari seminggu. Lebih dari seribu judul buku telah tersedia di rumah baca ini.

Selain menyediakan buku-buku, RBK juga mengadakan diskusi mingguna setiap jumat sore, disingkat dengan DeJure. Juga bedah buku setiap rabo sore. Dan tak yang menarik lagi adalah “RBK on the Street” atau “Perpustakaan Jalanan”. RBK on the Street (ROTS) ini digelar di Alun-alun Kidul (Alkid) Yogyakarta setiap Minggu Pagi. Suasana gelaran buku dari pagi jam 06.00 sampai dengan 10.30 wib cukup memuaskan yang mengunjungi baik yang sekeder melihat judul koleksi, duduk membaca sampai meminjam.

Kegiatan RBK on the street ini dapat memberikan motivasi bagi masyarakat betapa pentingnya budaya literasi. Relawan RBK on the Street ini berasal dari UIN, UAD, UGM, dan UMY. Komunitas literasi ini memiliki nilai penting. Wajib dipelihara dan dilestarikan. Semua orang dapat terlibat membaca atau meminjamkan bahan bacaan tanpa ada skat perbedaan agama, suku, usia, dan  apa pun di dalamnya.  Komunitas inilah adalah cermin dari penerimaan kami atas keberagaman anak bangsa

Dari apa yang telah dilakukan oleh para pegiat literasi di RBK Yogyakarta. Memberikan arti penting bahwa “Gerakan Membaca” adalah suatu gerakan yang harus dipelopori oleh siapa saja dan lebih dari itu, sebagai visi pencerdasan, pemberdayaan, dan pembebasan masyarakat,  maka negara pun tidak boleh absen dari gerakan ini. Tak ada bangsa yang maju tanpa budaya literasi. Tak ada budaya literasi tanpa didukung pemenuhan hak-hak akses buku-buku bacaan. Hak-hak mendapatkan ilmu pengetahuan dan informasi. Hak mengembangkan akal serta melakukan penelitian sebagai pengebdian kepada ilmu pengetahuan.

Peningkatan kemampuan literasi merupakan suatu prasyarat penting bagi pertumbuhan kualitas kehidupan. Memperjuangkan literasi bagi kepentingan orang banyak, merupakan tanggungjawab bersama masyarakat dan negara. Hal itu dapat dilakukan melalui pembentukan komunitas literasi, kampanye hak membaca dan buku murah bagi masyarakat, mendesak subsidi negara terhadap buku, serta berbagai agenda penting lainnya. Perjuangan literasi akan memberi dampak bagi perkembangan budaya literasi masyarakat. Hal tersebut tentu saja akan memberi pengaruh yang sangat signifikan bagi masyarakat di masa yang akan datang. Jihad literasi berarti memperjuangkan kualitas kehidupan yang lebih baik untuk generasi berikutnya.

Sumber: www.jurnalpelajar.com

Komentar Pembaca