JK dan Pengusaha Pribumi

0
373

JUSUF (2)

Oleh : Tomi Lebang*

Zaman berganti-ganti, kekuasaan datang dan pergi, tapi Monumen Nasional di seberang istana tetap tegak berdiri. Di atasnya, di puncak monumen, sebonggol emas raksasa serupa bara api. Berat dan mahal: tiga puluh delapan kilogram. Angkuh, berkilat-kilat, mengilap dan terbawa mimpi. Wahai …..
Tapi di sana pula, pada sebonggol emas di puncak Monas, terkubur mimpi-mimpi seorang saudagar pribumi: Teuku Markam.

Di zaman Soekarno, pengusaha dari Aceh ini adalah orang terkaya di Indonesia. Perusahaannya, P.T. Karkam, punya kapal-kapal yang terserak di pelabuhan-pelabuhan di Jakarta, Makassar, Medan dan Palembang. Ia berdagang mobil, besi, beton dan senjata. Dengan kekayaannya, Teuku Markam menyumbangkan bongkah emas pilihan yang dibawanya dari tambang Lebong Tandai di Bengkulu untuk dipasang di puncak tugu Monas.
Ia kaya karena pemerintahan Soekarno berusaha membesarkan pengusaha pribumi. Lewat proteksi bisnis yang disebut Program Benteng, yang dicetuskan Menteri Keuangan Sumitro Djojohadikusumo — ayahanda Prabowo Subianto. Program Benteng memberi keistimewaan kepada pengusaha pribumi agar bersaing dengan pengusaha asing yang wara-wiri di Indonesia, terutama perusahaan dagang Belanda dan tentu saja pengusaha keturunan Tionghoa.

Tapi zaman kemudian berganti. Soekarno tumbang, dan Soeharto datang dengan segenap tentakel kekuasaannya. Teuku Markam dituding sebagai PKI, koruptor dan pengikut Soekarno. Ia dipenjarakan, seluruh hartanya disita Orde Baru. P.T. Karkam dilebur menjadi PP Berdikari. Saat keluar dari penjara di tahun 1974, ia sudah sengsara, hidupnya terlunta-lunta. Sesekali, ia melintas di Gambir, di sisi taman Monas dan memandang dengan pahit ke bongkah emas di puncak monumen – emas sumbangannya di masa jaya. Pada bonggol emas raksasa itu, air matanya seperti terabadikan. Teuku Markam meninggal tahun 1985 di Jakarta.

Adapun Soeharto, lebih memilih membesarkan pengusaha seperti Liem Sioe Liong, Syamsul Nursalim, Willem Suryajaya, Henry Pribadi, dan tentu saja adik-adik dan anak-anaknya: mas Tommy, mas Bambang, mbak Tutut, mbak Titiek – (mbak-mbak dan mas-masku yang tak pernah mengenalku hehehe…)
Di Makassar, di bawah Program Benteng dua perusahaan pribumi juga membesar: NV. Hadji Kalla milik Hadji Kalla, ayahanda Jusuf Kalla, dan P.T. Aslam milik Abdurrahman Aslam. P.T. Aslam jauh lebih besar, bahkan hampir setara dengan Karkam. Sayang sekali, Abdurrahman Aslam senasib dengan Teuku Markam: ia digusur Orde Baru, seluruh asetnya, gudang, pabrik-pabrik, disita. Keluarga Aslam kini hanya mengelola sebuah toko olahraga di Jalan Somba Opu, Makassar.

NV Hadji Kalla selamat, bahkan kian berkibar seiring dengan kecekatan generasi keduanya berdagang. Bahkan putra sulung, Jusuf Kalla kini juga berjaya di politik, dua kali menjadi wakil presiden mendampingi presiden yang berbeda.
Belajar dari kejatuhan pengusaha pribumi di awal Orde Baru, di setiap tempat dan waktu, Jusuf Kalla mengkampanyekan pentingnya pengusaha pribumi yang berjaya dan bersaing dengan pengusaha keturunan. Sebegitu gigihnya, di masa Presiden SBY, Jusuf Kalla sampai terkesan pasang badan saat saham-saham Bakrie di Bursa Efek Indonesia berjatuhan. Di penghujung tahun 2008, saham perusahaan tambang Bakri, Bumi Resources terjun bebas. Saham BUMI yang pernah jadi primadona sampai 8.600 rupiah, anjlok sampai 425 rupiah. Sampai-sampai perdagangannya dihentikan. Melihat tanda bahaya ini, Aburizal Bakrie meminta Menteri Keuangan Sri Mulyani untuk melakukan intervensi, tapi sang menteri menolak tegas.

Wakil Presiden Jusuf Kalla akhirnya turun tangan, ia sayang kepada pengusaha pribumi. Sri Mulyani kecewa dan meminta mundur dari kursi Menteri Keuangan, Rabu 6 November 2008. Tapi SBY membujuknya untuk bertahan, dua jam kemudian.
Pernah juga, pengusaha besar Prabowo Subianto datang kepada Jusuf Kalla. Saat itu, ia tengah kesulitan membayar kredit triliunan rupiah salah satu perusahaannya, P.T. Kiani Kertas, di Bank Mandiri. Lagi-lagi, Jusuf Kalla turun tangan dengan meminta Bank Mandiri melunak. Sungguh, ia sayang kepada pengusaha pribumi. Dan tentu saja, JK ingat sang pencetus Program Benteng yang di zaman Soekarno sukses membesarkan banyak pengusaha pribumi: Sumitro Djojohadikusumo, ayahanda Prabowo Subianto.
Semenjak kejadian itu, hubungan JK dan Prabowo selalu mesra – bahkan setelah di belakang hari bersaing sengit dalam kontestasi politik. Tak heran, jika pada hari pertama berkantor sebagai wakil presiden, seusai kontestasi yang mengharu-biru, Prabowo datang ke istana. Mereka bermaaf-maafan. “Saya junior beliau, saya minta maaf,” kata Prabowo.

Dan dalam pertemuan itu, tak banyak yang JK sampaikan kepada bekas seterunya. Hanya pesan sebagai sesama pengusaha: “Anda seorang pengusaha yang sukses. Pertahankan itu. Bangsa ini membutuhkan pengusaha-pengusaha tangguh yang punya jiwa nasionalisme tinggi.”
Meski bukan seorang pengusaha, saya ucapkan saja selamat pagi para pengusaha pribumi!
— TEBET, 5 Januari 2016

*Penulis

Komentar Pembaca