Kang Yoto siap maju Pilkada Jakarta

0
79

Inspiratifnews.com – Jakarta, Satu nama lagi masuk bursa cagub DKI penantang Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Dia adalah Suyoto yang menjabat Bupati Bojonegoro periode kedua.

Nama Suyoto sebenarnya sudah masuk bursa cagub DKI dari PAN. Ketum PAN Zulkifli Hasan sendiri yang mengungkap Ketua PAN Jatim itu masuk bursa cagub DKI dari PAN.

Namun belakangan bupati ramah yang akrab disapa Kang Yoto ini seolah semakin menegaskan langkah siapnya maju Pilgub DKI. Pertemuan Kang Yoto dengan bakal cagub DKI Gerindra Sandiaga Uno pada Rabu (23/3) malam kemarin adalah buktinya.

Lalu benarkah Kang Yoto sudah mempersiapkan diri maju Pilgub DKI? Orang dekat Kang Yoto, Izzul Muslimin, mengungkap bagaimana kesiapan Kang Yoto menghadapi Pilgub DKI. Dalam pesan elektronik kepada detikcom, Kamis (24/3/2016), Izzul Muslimin berbagi kisah pertemuannya dengan Kang Yoto sebagai berikut:

Semalam saya bertemu Mas Suyoto (akrab dipanggil Kang Yoto), sahabat lama saya di sebuah rumah makan di bilangan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Kang Yoto ke Jakarta dalam rangka menyelesaikan urusan di Kabupaten Bojonegoro. Kang Yoto sudah dua periode memimpin Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, dan berakhir nanti 2018. Saya kenal Kang Yoto sewaktu masih jadi seorang dosen. Bagi saya, Kang Yoto adalah guru tempat saya menimba ilmu kehidupan.

Iseng-iseng saya tanya Kang Yoto, tertarik nggak meramaikan bursa Gubernur DKI? Kang Yoto menjawab dengan kalimat yang sangat filosofis. Sebagai anak bangsa, dia selalu mempersiapkan diri untuk memberikan apa yang terbaik yang dia punya. Tapi sebagai hamba Allah, dia percaya bahwa kekuasaan itu hak prerogatif Allah. Allah menentukan pemimpin bagi suatu kaum tergantung kehendakNya, apakah sebagai berkah, atau malah sebagai fitnah dan cobaan. Sebagai seorang hamba, Kang Yoto merasa harus berikhtiar secara maksimal yang dia sanggup, baru dia pasrahkan semua kepada Allah.

Sikap ini sesuai dengan pengalaman Kang Yoto sewaktu mau menjadi Bupati Bojonegoro periode yang pertama. Waktu itu Kang Yoto ditolak sebagai calon wakil bupati oleh para kandidat yang mau bersaing. Mereka adalah bupati dan wakil bupati incumbent yang pecah kongsi dan mau maju sendiri sendiri. Namun kenyataannya Kang Yoto justru dapat maju sebagai calon Bupati dan bahkan akhirnya mengalahkan mereka. Sebagai kandidat bupati yang paling minim biayanya, tidak ada yang menyangka bahwa Kang Yoto-lah yang akhirnya memenangkan pertarungan. Sepertinya terpilihnya Kang Yoto adalah berkat doa rakyat Bojonegoro yang berharap mendapat pemimpin yang terbaik.

Saya tegaskan lagi pertanyaan saya, jadi Kang Yoto siap kalau diberi kesempatan bertarung memperebutkan kursi Gubernur DKI? Siap, jawabnya mantap.

Tapi ada beberapa keraguan yang menggelayuti pikiran saya. Pertama, Bojonegoro itu kan Kabupaten yang ‘ndeso’, bukan kota sebesar Jakarta dengan kompleksitas masalahnya. Apa Kang Yoto sanggup? Tapi keraguan pertama saya itu langsung dipatahkan argumentasi Kang Yoto. Memang lebih ‘ndeso’ mana Bojonegoro dengan Belitung Timur? Buktinya Ahok dianggap para pendukungnya mampu memimpin DKI. Kepemimpinan itu hampir sama, cuma skala dan cakupannya saja yang berbeda. Selama diberi kesempatan, seorang yang punya bakat kepemimpinan yang baik dapat memimpin di mana saja. Memang, Kang Yoto termasuk salah satu bupati terbaik yang sukses membangun dan menyejahterakan daerahnya. Pengakuan keberhasilan Kang Yoto memimpin Bojonegoro tidak hanya dari internal warga Bojonegoro, tapi bahkan sudah diakui secara nasional dan internasional. Atas prestasinya itu Kang Yoto pernah diminta memberi kuliah kepemimpinan di MIT, sebuah universitas terkenal dan bergengsi di Amerika Serikat.

Keraguan saya yang kedua, adalah soal biaya. Untuk maju menjadi Gubernur DKI, pasti perlu dana besar untuk menyukseskannya. Padahal saya tahu Kang Yoto ini bukan termasuk kategori bupati kaya. Selain memang tidak punya latar belakang seorang pengusaha, Kang Yoto juga seorang bupati yang bersih dan sederhana. Jadi, dari mana Kang Yoto bisa mendapat biaya untuk memenangkan dirinya di DKI? Kang Yoto hanya menjawab dengan santai. Modal terbesar seorang pemimpin itu adalah modal kepercayaan dan modal sosial. Kang Yoto mencontohlah Barack Obama. Semua orang tahu berapa kekayaan yang dimiliki Obama saat mau maju menjadi kandidat Presiden Amerika Serikat. Tapi dengan modal kepercayaan dan modal sosial yang dimiliki Obama bahkan akhirnya memiliki dana kampanye terbesar dibanding kandidat yang lain. Kang Yoto percaya, kalau dia serius maju, dia sanggup menggerakkan seluruh lapisan masyarakat yang akan siap mendukungnya.

Keraguan saya yang ketiga adalah soal gaya kepemimpinan Kang Yoto. Kang Yoto dikenal sebagai seorang yang humble, baik hati, dan terkesan kurang tegas. Padahal banyak yang bilang kalau DKI tidak mungkin berhasil kalau tidak dipimpin oleh orang yang tegas. Kang Yoto mengatakan bahwa tegas itu tidak harus identik dengan keras dan selalu bertikai dengan pihak yang berlawanan. Prinsip pemimpin itu harus lurus dengan cita-cita memajukan daerah yang dipimpinnya dan mensejahterakan rakyatnya. Selama pemimpin berpikir lurus, tidak ada hidden agenda atau mendahulukan kepentingan kelompok tertentu, maka dia akan bisa bersikap tegas. Namun ketegasan harus dibungkus dengan kesantunan dan semangat kebersamaan. Dengan pendekatan yang baik, orang yang semula tidak setuju bisa diubah sikapnya. Menurut Kang Yoto, yang dibutuhkan masyarakat DKI adalah pemimpin yang bisa memanusiakan manusia. Itulah salah satu keberhasilan Jokowi sewaktu memimpin DKI, yang saat ini banyak dirindukan oleh warga DKI. Itu pulalah yang dilakukan Kang Yoto selama memimpin Bojonegoro dua periode.

“Saya memang sudah agak lama tidak bertemu dengan Kang Yoto, terutama sejak jadi Bupati Bojonegoro. Tapi saya masih melihat seorang Kang Yoto yang saya kenal dulu, perpaduan antara jiwa guru, intelektual, ulama, dan seorang humanis. Tapi Kang Yoto yang sekarang berada di hadapan saya adalah seorang Kang Yoto yang juga memahami seluk beluk birokrasi dan memimpin rakyat, seorang Kang Yoto yang lebih percaya diri, yang dulu tidak tampak dalam perhatian saya. Mungkin saya terlalu berlebihan. Coba kita buktikan!” kata Izzul Muslimin mengakhiri kisahnya. (Ish/sp)

Komentar Pembaca