Kapen : Prajurit Wirabuana Junjung Tinggi “Siri’na Pacce”

0
101

 

Inspiratifnews.com – Makassar, Satu lagi kegiatan kolaborasi sipil-militer, akademisi dalam hal ini Unhas yang melibatkan Kodam Wirabuana. Kegiatan yang berbentuk seminar tersebut mencoba mengangkat peranan budaya dan kearifan lokal dalam percaturan politik. Seminar Nasional dengan judul “Kekuatan budaya dan falsafah politik lokal dalam perspektif global” bertempat di Gedung PKP Unhas (17/09/2016).

Acara tersebut dibuka oleh Dekan Fisipol Unhas Prof Dr Alimuddin Unde, dengan tujuan temu kangen alumni sekaligus memberikan sumbangsih pemikiran kepada bangsa dan negara, menjadi sumber inspirasi ilmu sosial dan politik lokal di Indonesia. Hadir dalam acara tersebut sebagai nara sumber diantaranya Lenis Kagoya, S.Th. M.Hum.(Staf Khusus Presiden RI), Mayjen TNI Agus Surya Bakti (Pangdam VII/Wirabuana), Prof. Dr. Bunyamin Maftuh (Direktur Karir dan Kompetensi SDM Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi), Prof. Dr. M. Kausar Balusy (Guru Besar Ilmu Politik Unhas)

Dalam materinya, Pangdam Wirabuana menjelaskan hubungan sipil dan militer dalam menjaga kestabilan sistem politik lokal. Dengan dasar politik lokal maka memunculkan sistem politik nasional yang demokratis, sistem pemerintahan yang sentralistik menjadi desentralistik serta kebebasan pers. Desentralisasi dalam politik pemerintahan telah membawa perubahan kehidupan bangsa yang positif dan juga terkadang membawa dampak negatif. Pengaruh positifnya adalah munculnya kekuatan daerah dalam kearifan lokal. Tetapi hal tersebut juga memunculkan karakter primordialisme serta penyelewengan kekuasaan yang semakin luas akibat berlakunya otonomi daerah. Selain itu, desentralistik juga rawan menimbulkan konflik horizontal.

“Terkait dengan kondisi politik nasional, TNI memiliki komitmen dan tanggung jawab moral terhadap eksistensi NKRI” tegas Pangdam. TNI tidak lagi menjalankan politik praktis, tetapi berada dalam posisi netral. Hubungan sipil dengan militer yang baik merupakan faktor positif dari perwujudan ketahanan nasional Indonesia. Prajurit menjunjung tinggi kearifan lokal dimanapun bertugas, khususnya prajurit Kodam Wirabuana yang sangat menghayati dan menjunjung tinggi budaya lokal (siri’ na pacce). Dengan berpedoman pada kearifan lokal, TNI akan selalu menjadi sahabat rakyat.

Dalam menyikapi era globalisasi, perkembangan teknologi dan informatika, musuh dan ancaman kita tidak hanya militer tetapi juga nirmiliter. Ancaman nirmiliter tidak dapat ketahui keberadaannya namun dapat dirasakan menyerang sendi kehidupan yakni ideologi, politik, sosial dan budaya. Oleh sebab itu TNI harus bersinergi dengan seluruh elemen bangsa termasuk kaum akademisi untuk membentengi generasi muda dengan bela negara, wawasan kebangsaan, sehingga akan tercipta generasi penerus bangsa yang handal dan berjiwa patriot.

Sedangkan Lenis Kagoya menuturkan tentang politik yang berkaitan erat dengan kebijakan maupun karakter seseorang. Kekuatan adat sangat berpengaruh kepada kondisi politik. Hal tersebut terjadi di tanah papua, yang sampai saat ini belum bisa stabil. Kondisi ini dipengaruhi oleh budaya perang yang menjadi bagian dari sejarah Papua. Sedangkan Benyamin Mahtuf menunturkan SDM di kampus masih perlu ditingkatkan untuk memajukan kualitas pendidikan Indonesia agar bisa bersaing di level Internasional. Prof. Dr. M. Kausar Balusy(guru besar ilmu politik Unhas) menjelaskan dalam kedudukan politik dan budaya lokal sudah ada kearifan lokal, karena semua sudah diatur dalam kehidupan itu dimana kearifan lokal selalu menginginkan kebaikan. Begitu pula terkait TNI, secara filosofi TNI yang paling mengerti “hati” rakyat karena TNI lahir dari rakyat, TNI juga yang harus melindungi rakyat ketika rakyat berada dalam kondisi susah. TNI merupakan satu satunya model tentara yang dekat dan menyatu dengan rakyat di dunia.(*)

Komentar Pembaca