Kartini Masa Kini, Kokohkan Benteng Keluarga

0
109

Inspiratifnews.com – Opini, Masih dengan semangat Hari Kartini, Sang pelopor kebangkitan perempuan pribumi yang lahir di Jepara, Jawa Tengah, 21 April 1879 dan meninggal dalam usia yang masih muda (25 tahun), di Rembang, Jawa Tengah, 17 September 1904. Perjuangan seorang Kartini tidak hanya semata-mata soal emansipasi, tapi juga masalah sosial. Kartini melihat perjuangan perempuan agar memperoleh kebebasan, otonomi, dan persamaan hukum sebagai bagian dari gerakan yang lebih luas.

Setelah 137 tahun perjuangan Kartini, lahirlah Kartini-Kartini baru yang berjuang pada berbagai bidang seperti pendidikan, agama, ekonomi, sosial, politik, budaya, kesehatan, hukum, penerbangan, kepolisian, kelautan, pertanian, lembaga masyarakat, dan bidang lainnya dan hampir dipastikan bahwa mereka sesungguhnya berjuang diberbagai bidang untuk memperkokoh benteng bagi keluarganya sehingga dapat sejahtera dan terhindar dari masalah-masalah sosial.

Menguatkan benteng pertahanan keluarga tidaklah mudah untuk dilakukan. Membutuhkan perencanaan yang baik, strategi yang tepat dan juga bekal pengetahuan yang kuat tentang berbagai ilmu, baik itu ilmu agama, psikologi pasangan suami istri, psikologi anak, kesehatan, ekonomi keluarga, dan ilmu-ilmu lainnya yang dapat menunjang keharmonisan keluarga. Perjuangan Kartini saat ini membutuhkan tekad yang kuat dan kecerdasan yang komprehensif, mengingat perkembangan kondisi sosial masyarakat dan teknologi informasi sangat cepat, bisa diandaikan pengetahuan berkembang seperti deretan penambahan, teknologi dan informasi berkembang seperti deretan perkalian. Kartini saat ini tidak bisa lagi selalu bersembunyi di zona nyaman, namun harus mampu menghadapi arus globalisasi, karena harus melahirkan lagi Kartini-Kartini Baru yang akan melanjutkan perjuangan pada era yang lebih dahsyat dari saat ini perjuangan Kartini, namun masih banyak yang terkungkung dalam kesedihan karena mengalami kekerasan, terbelenggu dalam masalah-masalah sosial, karena mereka tidak memiliki akses untuk ikut berjuang diberbagai bidang kehidupan, tidak mampu untuk berpartisipasi dalam membentengi keluarganya, tidak dapat menikmati kemajuan dunia saat ini, bahkan dirinyapun masih dikontrol bagaikan robot. Kita masih sedih melihat data tentang kekerasan yang terjadi di Sulawesi Selatan tahun 2015. Kasus kekerasan sebanyak 1.984 kasus (599 kasus terjadi pada perempuan, dan sisanya 615 kasus adalah kasus anak). Kasus yang dominan terjadi pada mereka adalah kekerasan fisik (1.196 kasus), dan kedua tertinggi adalah kekerasan seksual (315 kasus). Sebanyak 716 kasus, dimana pelakunya adalah suami/istri. Demikian dilaporkan oleh Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Provinsi Sulawesi Selatan.

Jatuhnya korban yang banyak pada generasi yang dilahirkan Kartini dengan berbagai kasus seperti perkosaan baik oleh orang lain maupun oleh kerabat dekat sendiri yang biasa disebut Incest (ayah, ayah tiri, kakek, kakak, paman, guru, dll). Sederet kasus lainnya yang juga membutuhkan penanganan serius seperti sodomi, pelecehan seksual, trafiking dengan segala modus (dengan penculikan, iming-iming menjadi idola/bintang, eksploitasi seksual anak) serta tawuran, bullying dengan berbagai bentuk (mulai dari pemalakan sampai pada pelecehan seksual), napza dengan segala bentuk (mulai dari isap lem yang populer sampai di pelosok desa, oplosan berbagai minuman sampai pada oplosan lotion anti nyamuk) penyalahgunaan obat-obatan yang dijual bebas (mulai dari ctm, somadril, sampai pada obat anjing gila, ramuan herbal yang setara dengan ganja), sampai pada narkotika yang dibentuk seperti permen atau lolypop yang indah dan menarik hati. Bayi-bayi yang dibuang di tempat sampah, di selokan, di pantai, di terminal, atau di depan rumah orang, anak yang dibantai oleh orangtuanya sendiri mulai dari yang dibakar, ditenggelamkan di bak mandi, sampai anak yang dimutilasi. Pergaulan yang beresiko yang menyebabkan hamil tidak diinginkan, lalu aborsi, atau nikah dini tanpa persiapan sama sekali.

Dengan fakta-fakta tersebut diatas, nampaknya perlu mereview kembali makna perjuangan Kartini masa kini, apalagi jika melihat tujuan perjuangan Kartini adalah membangun benteng pertahanan untuk keluarga. Segudang ilmu yang dimiliki setiap keluarga, sepertinya belum cukup ampuh untuk memperkokoh benteng ketahanan keluarga. Penerapan pendekatan yang humanis, komunikasi yang lebih dialogis serta pengawasan yang terkontrol demi menyelematkan generasi yang dilahirkan Kartini. Semua ini dapat terwujud, bila dilakukan secara komprehensif integrative. Bekerjasama berbagai elemen, merekatkan keluarga terdekat juga tak kalah pentingnya dilakukan. Memperkokoh keluarga sampai pada derajat ketiga (Al Quran dan diadopsi oleh Konvensi Hak Anak (KHA)) dengan tujuan supaya benteng pertahanannya makin kokoh.

Saat ini, kita tidak bisa hanya berucap saja, tidak cukup hanya merubah paradigma/pemahaman, tetapi sejauh mana sikap yang ditunjukkan, dan tindakan/kontribusi apa yang sudah dilakukan? Bukankah Allah SWT tidak hanya menilai besarnya tindakan yang dilakukan, tetapi kontribusi kecilpun bahkan sebesar biji zarrah akan diperhitungkan. Zaman dahulu, orang-orang memahami sebuah biji zarrah itu sama dengan biji sawi. Namun seiring berjalannya ilmu pengetahuan Fisika modern hal tersebut terbantahkan, di dalam ilmu modern sekarang ini biji zarrah lebih kecil dari partikel sub atomik yang ada. Dan sub atomik jutaan kali jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan sebuah biji sawi. Dan Allah pun berjanji untuk tidak melewatkannya, apalagi jika dilakukan secara kontinyu.

Upaya yang perlu dilakukan

Lalu upaya apa yang bisa kita lakukan? Banyak dan mungkin akan kita anggap kecil, tetapi manfaatnya besar, jika dilakukan secara kontinyu, seperti memperkenalkan dan melatihkan generasi Kartini untuk membangun kontrol dirinya, mengenalkan tentang bagian-bagian tubuhnya yang tidak boleh disentuh, diliat, dipegang oleh siapapun kecuali ibu dan tenaga kesehatan jika sakit dan didampingi oleh keluarga. Hal ini dapat membangun sensitivitas atau reaksi internal tubuhnya untuk mengenal jika ada perlakuan salah terhadapnya. Jika terjadi demikian maka perlu menolak, atau berteriak, dan laporkan pada orang dewasa yang terdekat.

Upaya lainnya, adalah ajarkan kepada kartini kecil kita menghargai tubuhnya, menjaga kesopanan, bukankah terdapat norma-norma dalam masyarakat yang perlu dipatuhi? Norma agama (perintah dan larangan) misalnya jangan mendekati zina bukan, jangan melakukan zina, mendekatinya saja sudah dilarang apalagi melakukan; terdapat norma kesusilaan (baik dan buruk) yang akan menggambarkan perilaku dan akhlak, membedakan kita dengan binatang terdapat norma kesopanan (benar dan salah) yang akan menunjukkan bagaimana sopan santun, tata krama, adat istiadat; dan terakhir adalah norma hukum yang mengatur masyarakat terhadap sesuatu hal, misalnya UU Lalu Lintas mengatur usia anak untuk mendapatkan ijin mengemudi adalah 17 tahun. Hal ini tentu telah melalui kajian akademis tentang usia anak yang sudah lebih stabil emosinya. Apabila hal ini ditanamkan sejak usia dini maka akan menjadi benteng pada diri anak, untuk tidak mudah tergiur iming-iming, tidak mudah klepak-klepak jika mendapatkan pujian dari lawan jenis, perilaku dan tidak mudah terbawa dalam pergaulan beresiko.

Ada lagikah tindakan kecil tetapi berdampak besar? Tentu saja menjadi idola/ figur dalam keluarga. Kapan tepatnya? Sejak dalam kandungan, karena pada saat usia janin 24 minggu seluruh pancainderanya sudah berfungsi, selanjutnya saat kartini kecil berusia dini. Dibawah usia 7 tahun akan lebih efektif sampai pada usia 10 tahun. Perintah/menyuruh shalat dalam agama Islam pun dimulai pada usia 7 tahun sampai pada usia 10 tahun (HR. Abu Dawud), artinya si anak akan diperintah sebanyak 5 kali sehari semalam x 365 hari x 3 tahun = 5.475 kali perintah. Jumlah sebanyak ini akan terekam pada alam bawah sadar sang anak. Tetapi jangan menuntut banyak jika kartini kecil kita tidak pernah melihat contoh/model sebelumnya. Sama dengan menyuruh anak mengaji tetapi tidak pernah dicontohkan cara mengaji, tentu akan susah terlaksana, atau melarang menonton TV karena harus belajar, tetapi keluarga malah menonton TV. Aturan-aturan yang dibuat dalam keluarga harus dipatuhi seluruh keluarga bukan hanya anak. Aturan saat magribpun yang diterapkan Kartini tempoe doeloe seperti Pamali keluar magrib”, sampai saat inipun masih dapat direvitalisasi, masih tetap berlaku karena sesungguhnya berasal dari ajaran agama, kenapa dianjurkan? Islam menyatakan bahwa saat magrib waktunya pendek lalu masuk waktu isya, kemudian magrib adalah saatnya pemuja setan mengirim sihir-sihir jahat.

Dijaman sekarang sudah terbukti secara ilmiah bahwa menjelang maghrib, warna alam berubah menjadi merah yang selaras dengan frekuensi jin dan iblis, sehingga waktu magrib jin dan iblis dalam kondisi power full karena mereka beresonansi atau ikut bergetar dengan warna alam. Bahkan dianjurkan bagi yang sedang dalam perjalanan sebaiknya berhenti sejenak dan mengerjakan shalat maghrib, karena pada waktu ini banyak interferens atau tumpang tindihnya dua atau lebih gelombang yang berfrekuensi sama atau hampir sama sehingga dapat menimbulkan fatamorgana yang dapat merusak penglihatan kita (By. Siti Salamah Azzahra), kita tidak akan kaget saat magrib banyak terjadi kecelakaan khususnya dalam perjalanan.

Hal lainnya yang perlu dilakukan kartini masa kini adalah membangun komunikasi efektif dengan anak, khususnya yang sibuk berjuang pada berbagai bidang kehidupan. Waktu yang tersisa bagi keluarga rata-rata 3-4 jam yaitu saat magrib atau jam18.00-21.00. Pada waktu pagi juga ada waktu sekitar 2-3 jam dari pukul 05-07, namun waktu ini adalah waktu sibuk bagi keluarga untuk sekolah atau bekerja, dan ternyata tingkat stress anak paling tinggi di pagi hari khususnya bagi yang kedua orangtuanya bekerja di luar rumah. Untuk itu, sangat diperlukan teknik komunikasi efektif bersama keluarga. Perlu diingat bahwa bukan jumlah waktu yang utama, tapi kualitas waktu yang digunakan untuk berkomunikasi dengan keluarga. Bukan lamanya bersama keluarga, tetapi bagaimana kelekatan kita bersama keluarga, sehingga walaupun jauh tetap dekat dihati, saling merindukan, saling membutuhkan.

Masih banyak hal lain yang dapat dilakukan, namun hal-hal diatas adalah kontribusi kecil yang mudah dilakukan dan akan berdampak besar bahkan akan menghasilkan benteng yang kokoh bagi keluarga. Namun seluruh tindakan atau kontribusi jika tidak di dasari dengan kasih sayang rasanya tidak akan bisa berpengaruh besar. Karena terbukti bahwa kebutuhan utama keluarga adalah rasa sayang antara satu dengan lainnya. Inilah ilmu pamungkas yang paling ampuh untuk membuat benteng kokoh bagi keluarga yaitu membangun benteng di hati masing-masing anggota keluarga.

(Penulis : Nur Anti / Kepala Bidang Kualitas Hidup Perlindungan Perempuan dan Anak Badan Pemberdayaan Perempuan dan KB Prov. Sulawesi Selatan).

Komentar Pembaca