Ketahuan Bawa Hp, Santri IMMIM diDenda 1juta

0
546

Inspiratifnews.com – Makassar – Digadang sebagai pesantren terbesar di Indonesia Timur membuat Pondok Pesantren (Ponpes) Immim Putra Makassar ketat dalam pengawasan, termasuk melarang para santri membawa Hp kedalam Ponpes. Namun, para santri mengaku nekat membawa Hp karena kurangnya fasilitas layanan telepon yang disediakan oleh pihak Ponpes untuk menghubungi orang tua santri sewaktu-waktu.

Saking ketatnya, santri yang kedapatan membawa HP disanksi dengan tebusan uang tunai. Namun ada yang mengganjal, jumlah tebusan berbeda nominalnya. Ada Rp300.000, Rp500.000 bahkan Rp.1.000.000.

Foto : kwitansi diduga bentuk pungli
Foto : kwitansi diduga bentuk pungli

Hal ini menjadi pertanyaan besar salah satu orang tua santri yang kedapatan melanggar aturan. Pasalnya, dari pihak pesantren Immim tidak pernah mensosialisasikan kepada orang tua santri mengenai sanksi yang akan diberikan kepada santri jika kedapatan membawa hp.

“Saya akui anak saya salah, tapi kenapa pihak pesantren tidak pernah ada sosialisasinya ke kami. Jadi kami berfikirnya, mungkin hanya teguran. Nanti anak saya kedapatan oleh pelekat membawa hp, baru saya tahu. Sanksinya harus dibayar sampai sejuta. Para orang tua santri lainnya mengaku ada hanya 300 ribu, ada 500 ribu. Ketika saya tanya ada aturan tertulis atau hitam diatas putih dengan orang tua, pelekat  yang bernama Indra Saputra yang menyita hp bilang tidak ada. Saya minta dikasih ketemu dengan pihak yayasan mereka bilang tidak bisa. Ini kan mengganjal,” ungkap salah satu orang tua siswa yang enggan disebut namanya ini.

Ia mengatakan, memang betul para santri dilarang membawa hp, namun terkait sanksi yang dibayar jika kedapatan, tidak pernah disosialisasikan kepada orang tua santri. Bahkan, ketika mereka meminta tata aturan yang menyebutkan harus menebus HP hingga jutaan rupiah, pihak pesantren tidak bisa memperlihatkan buktinya. “Mereka langsung kasih saya nota pembayaran yang harus dibayar sejuta,” tambahnya lagi.

Inspiratifnews.com mencoba mendatangi Ponpes Immim Putra Makassar yang terletak di Jalan  Perintis Kemerdekaan Makassar ini untuk meminta konfirmasi pihak Ponpes. Awalnya, tim disambut hangat oleh staff pelayanan dan informasi. Namun ketika mengetahui kedatangan untuk mengkonfirmasi masalah ini, staff informasi yang diketahui bernama Ivana mengatakan pihak Immim dalam hal ini kepala sekolah tidak mau diwawancarai.

“Ndak mauki bapak ditemui dan wawancara. Lagi ada tamu pentingnya,” ungkapnya kecus.

Tim pun menanyakan alasannya. “Kalau tidak mau, ya tidak mau. Santai mi kepeng, pernah ja juga di media,” jawabnya sambil berlalu.

Berada di bawah naungan Departemen Agama kota Makassar, membuat Kepala Seksi Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Ambo Sakka Ambo angkat bicara. Ambo mengatakan Depag tidak pernah mengizinkan pesantren memungut biaya sanksi hingga sebesar itu dari para santri, apalagi pesantren sebesar Immim. Menurutnya, kalaupun ada aturan internal pesantren, ini perlu ada laporan kepada Depag.

“Saya tidak pernah tahu kalau disana ada aturan seperti itu apalagi karena Hp harus membayar sampai satu juta. Kalaupun ada aturan internal di pihak pesantren, pasti ada laporannya kepada Departemen Agama supaya tidak ada kecurigaan pungli. Kalau seperti ini kan, kesannya pungutan liar kepada santri,” ujar Ambo.

Kata Ambo, seharusnya pihak pengawasan pesantren yang perlu di perketat. “Kenapa bisa kecolongan? Berarti ini pengawasan pesantren yang tidak ketat,” kata dia.

Ia pun berjanji akan memberi sanksi pihak pesantren Immim jika benar meminta orang tua santri harus menebus Hp semahal itu. “Saya akan kesana ketemu kepala sekolah untuk minta penjelasannya. Pasti kita beri teguran keras jika betul suruh bayar sampai sejuta,” pungkas Ambo. (*)

Komentar Pembaca