Kisah Drama I Tolok Akan Di Pentaskan, Catat Tanggalnya..!

0
36

Inspiratifnews.com-Makassar Salah satu nama melegenda di tengah masyarakat Sulsel, ialah I Tolok Daeng Magassing, bermarkas di Polongbangkeng, sekarang Kabupaten Takalar. Meski ia sebenarnya kelahiran Limbung, Gowa, yang mana sebelum Gowa dikuasai Belanda, I Tolok Daeng Magassing memiliki kedudukan sebagai pemimpin pasukan di Kerajaan Gowa.

Pada masa pemerintahan Gubernur A.J. Baron Quarles de Quarles (Mei 1908-Agustus 1910) dan Gubernur W.J. Coenen (Agustus 1910-Agustus 1913), I Tolok Magassing bersama pasukannya melakukan aksi perampokan secara berkala menggunakan senjata tajam. Aksi ini dianggap oleh pemerintahan kolonial Belanda sebagai bentuk pembangkangan, sehingga berulangkali dilakukan upaya penyergapan oleh kekuatan militer Belanda.

Tapi sebaliknya, jika pasukan I Tolok Daeng Magassing berhasil melakukan perampokan di wilayah pegunungan Lompobattang, garis pembatas pemerintah Makassar dan Bontahain (sekarang Kabupaten Bantaeng), masyarakat di wilayah Polongbangkeng justru menyambutnya bak pahlawan yang diangungkan dan dibangga-banggakan.

Tak lain karena sekitar 150 kali aksi perampokan dilakukan I Tolok bersama pasukannya pada periode April hingga Agustus 1915 di wilayah Afdeling Makassar, sasarannya adalah pada harta bangsawan pribumi pro kompeni, hingga pada sumber-sumber kas Distrik dan juga kas kompeni Belanda yang dipungut dari rakyat sebagai kewajiban pajak yang memberatkan. Bahkan hasil rampasan I Tolok, kembali dibagi-bagikan untuk mensejahterakan rakyat.

Itulah sebabnya sehingga I Tolok Daeng Magassing dikenal pula dengan istilah “pagora patampuloa” (kelompok perampok berjumlah 40 orang) seolah sosok “Robin Hood” versi sebagian masyarakat Sulsel, khususnya di wilayah ex Afdelling Makassar. Makanya, kisah I Tolok diabadikan dalam syair Sinrilik I Tolok Daeng Magassing yang melambangkan ketokohannya sebagai bandit yang menjadi bagian penting dari nilai-nilai pemihakan pada rakyat banyak.

Selain Sinrilik, sebuah nyanyian pengantar tidur untuk anak-anak di wilayah Polongbangkeng dan sekitarnya, memuji-muji keberanian I Tolok Daeng Magassing sebagai pahlawan pembela rakyat, berharap semoga anak-anak mereka kini, kelak mengikuti jejak I Tolok, “njari pabunduk pattuturang tau rewa” (semoga engkau anakku, juga kelak menjelma prajurit perang keturunan orang-orang pemberani).

Tetapi sebegitu apapun kokohnya kekuatan I Tolok Daeng Magassing bersama pasukannya, akhirnya kekuatan mereka berhasil ditumpas tentara Belanda (17 November 1915), di daerah pedalaman Kampalak Polongbangkeng, dalam sebuah pengepungan. Dan sebelum nafasnya berakhir, I Tolok berseru “napunna battumi kamateanga, allei matea, mate nisantangi”. Jika ajal telah tiba, terimalah kematian itu, yakni mati bersantan.

Kisah heroik I Tolok Daeng Magassing inilah yang ditulis dalam naskah drama oleh Rahman Arge, segera dipentaskan oleh Teater Studio Makassar di bawah arahan Sutradara Goenawan Monoharto.

Menampilkan sejumlah aktor/aktris Makassar, diantaranya Fajar Baharuddin, Andi Naufah Patadjangi, Haeruddin, Ishakim, Ary Bayu Reksa, Andi Agung Iskandar, dan lainya. Sementara bertindak sebagai Pimpinan Produksi, Armin Mustamin Toputiri.

Silahkan datang beramai-ramai untuk menyaksikan secara langsung. Nikmati sepuasnya pementasan drama I Tolok kali ini pada tanggal 05-06-07 Desember 2017 dengan harga tiket Rp. 25.000,- di Gedung Kesenian Societeit de Harmonie depan RRI Makassar. (uc2)

loading...
BAGIKAN

Komentar Pembaca