KORUPTOR KAFIR Sebutan Pemuka Agama

0
121

Sebuah Kajian dan Telaah Kritis Tentang Koruptor Kafir

oleh : Muhammad Solihin S, SH

(Kepala Sekolah Madrasah Anti Korupsi)

 

solihin inspiratif
(Foto : Muh.Solihin)

Inspiratifnews.com, Koruptor Kafir adalah judul dari buku kajian fikih para ahli agama dari dua organisasi besar Islam di Indonesia yaitu Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU). Korupsi di Indonesia sudah “mem-Budaya” sejak dulu, sebelum dan sesudah kemerdekaan, masa Orde Lama, masa Orde Baru hingga era Reformasi. Berbagai upaya telah dilakukan untuk memberantas korupsi, namun hasilnya masih jauh dari harapan.

Di masa Orde Lama, tercatat dua kali dibentuk badan pemberantasan korupsi. Pertama, Lembaga Aturan Undang-Undang Keadaan Bahaya disebut Panitia Retooling Aparatur Negara (Paran). Badan ini dipimpin oleh A.H. Nasution dan dibantu oleh dua orang anggota, yakni Profesor M. Yamin dan Roselan Abdul Gani. peranan Paran, mewajibkan pejabat mendaftar dan mengisi formulir Paran, untuk didata oleh Paran menyangkut harta kekayaaan.

Pejabat korup saat itu, bereaksi dengan dalih Yuridis bahwa formulir tidak mesti diserahkan pada Paran, tapi langsung kepada Presiden. Terjadilah Konspirasi Politik, Paran deadlock dan akhirnya menyerahkan kembali pelaksanaan tugasnya pada Kabinet Djuanda. Pada Era Reformasi, Presiden B.J. Habibie memulai upaya penangggulangan Korupsi dengan mengeluarkan UU Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme serta beberapa badan/ komisi untuk penanggulangan Korupsi diantaranya Komisi Pengawas Kekayaan Pejabat Negara (KPKPN), KPPU, atau Lembaga Ombudsman.

Menurut hasil survey yang dilakukan badan independen dari 146 negara, Indonesia tercatat dalam 10 besar negara yang dinyatakan sebagai negara terkorup, sepuluh negara tersebut adalah: Azerbaijan, Bangladesh, Bolivia , Kamerun, Indonesia, Irak, Kenya , Nigeria, Pakistan, Rusia. Gambaran sederhana, ada beberapa Kasus menghebohkan negeri ini, Pertama Jaksa Urip Tri Gunawan dengan jabatan eselon III, menerima uang suap sebesar Rp 6,6 miliar, Kedua,Gayus Tambunan dan pegawai pajak golongan rendah (III-A) menggelapkan Keuangan Pajak lebih dari Rp100 miliar, namun mereka terhindar dari hukuman yang berat.

Praktik korupsi di Indonesia sudah diambang batas imajinasi kolektif bangsa, penyakit sosial ini sudah parah dan mengakar dalam Jiwa Sang Koruptor. tak lagi mengindahkan Pesan Profetik Kitab Suci Agama yang diyakini, nafsu primitif seolah telah merajai naluri duniawi yang menyesatkan mereka. Pada 1400 tahun silam, Allah SWT telah mengfirmankan Ayat-ayat Anti-Korupsi berbunyi “Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan cara batil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian daripada harta benda orang lain itu dengan (cara berbuat) dosa padahal kamu mengetahui.” dan “Wahai orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil (tidak benar), kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu.”. dalam sebuah Hadits yang amat populer pun telah ditegaskan, Nabi Muhammad SAW bersabda: “Setiap tulang dan daging yang tumbuh di badan dari makanan yang tidak halal, seluruh amal dan ibadah tak akan diterima Allah SWT.” Bayangkan, bila para koruptor itu menafkahi keluarga dan menghidupi anak-anak mereka dengan uang haram, yang membuat hidup mereka tak membawa berkah dan sia-sia belaka di mata Tuhan.

Nah, sudah pantaskah Koruptor dikafirkan ??? Menurut saya (Solihin), bahwa kafir mengkafirkan bukan perkara sederhana, harus ada dalil dari alquran/ hadist, jika ada pemuka agama berpandangan bahwa koruptor itu kafir, maka sebaiknya kita harus lebih berhati-hati dalam memahami maksud tersebut. kesimpulan prematur akan melahirkan dampak pemahaman yang fatal terhadap ummat. Mengkafirkan seseorang adalah hak prerogatif pemerintahan Islam yang sah dan terbuka serta diakui masyarakat international, bukan hak individu seperti Imam kelompok tertentu, atau Pimpinan Ormas, atau dan sejenisnya, apalagi ‘kelompok rahasia’ tertentu. Rasulullah Muhammad SAW telah menegaskan, bahwa orang yang menyifatkan saudara muslimnya dengan sifat kekufuran, maka hal itu adalah dosa. bahkan tuduhan itu akan berbalik, sebagaimana diriwayatkan dari Bukhari dan Muslim dari Abi Dzar RA., bahwasanya Rasulullah SAW. bersabda: “Barang siapa yang memanggil seseorang dengan kata-kata kafir, atau berkata: wahai musuh Allah, sedangkan tidaklah demikian halnya, maka tuduhan dan kata-kata itu kembali dan berlaku kepada dirinya.” (HR Bukhari dan Muslim). penjelasan nash Alquran dan Hadis di atas hendaknya menjadi perhatian dan pelajaran bagi setiap muslim supaya lebih berhati-hati dan waspada untuk tidak mudah atau tergesa-gesa melemparkan sebuah tuduhan.

Sebab, tuduhan tersebut hanya akan membawa akibat yang membahayakan terhadap banyak pihak, terutama individu – individu. Namun, jika kita melihat perilaku para koruptor sesungguhnya mereka telah mempertontonkan sikap kufur terhadap nikmat Allah SWT. Sehingga mereka digolongkan kafir atas nikmat Allah, bukan kafir secara aqidah. Wallahu ‘Alam bi Shawab.(ish)

Komentar Pembaca