Kue Dan Aqidah (Kajian Toleransi Dalam Konteks Ke-Indonesiaan)

0
26

Kue dan Aqidah
(Kajian Toleransi Dalam Konteks Ke-Indonesiaan)
Oleh: Haidir Fitra Siagian*

Inspiratifnews.com-Opini Aqidah adalah keyakinan yang kuat akan keesaan Allah SWT. Tidak ada yang dapat disetarakan atau disandingkan dengan keesaan Allah SWT. Walaupun sifatnya main-main dan terkesan tidak apa-apa. Keesaan Tuhan harus diyakini dengan keyakin-yakinnya. Aqidah itu menunjukkan bahwa tidak boleh mempercayai yang lain terkait dengan masalah ibadah dalam Islam. Bahwa agama Islam adalah satu-satunya agama, keyakinan, ruh, dalam segala aspek kehidupan seorang muslim.

Ini antara lain yang kuingat dari pelajaran yang disampaikan guruku, K.H. Djamaluddin Amiin, allahayarham.
Seorang yang menyanyikan bait lagu : “kaulah segalanya bagiku”, ” engkaulah segalanya di dalam hidupku”, “tiada yang dapat memisahkan kita”, seolah-olah itu hanya sekedar lagu. Tapi bagi saya, itu mengganggu Aqidah.

Karena semua itu adalah ranah kekuasaan Allah SWT. Hidup kita ini bukan untuk seseorang, melainkan hanya kepada kepada-Nya. Itu kan sekedar lagu! Ya sekedar lagu. Lagu itu bisa meninabobokan hati dan perasaan. Syair lagu tanpa sengaja dapat menjauhkan jiwa dari nilai-nilai keesaan Allah SWT. Seorang muslim harus menjaga aqidahnya. Jika dibiarkan tanpa perawatan, maka tidak tertutup kemungkinan pengaburan nilai-nilai aqidah yang selama ini diyakininya.

Diantara cara menjaga aqidah disamping melaksanakan ajaran agama dan menjauhi larangan agama, adalah menghindari kata-kata, pandangan, pendengaran yang berpotensi merusak aqidah, tanpa kita sadari. Seorang bapak sepatutnya menerangkan kepada anak-anaknya agar tidak menyanyikan lagu-lagu seperti di atas. Menghindari pandangan yang bisa merusak keyakinan, misalnya mendatangi tempat-tempat keramat, bagi seseorang yang labil, dapat goyah aqidahnya. Mendengar musik-musik yang baiknya terkesan ” parnu” dan melecehkan wanita muslimah, sebaiknya dihindari. Demikian pula menulis kalimat-kalimat yang bertentangan dengan aqidah, adalah dapat berpotensi menimbulkan sesuatu dapat mengganggu keikhlasan meyakini aqidah.

Apakah menjaga aqidah itu harus mengikuti kebiasaan agama lain? Tidak. Aqidah tidak ada toleransi dalam beragama. Agamanya adalah urusan dia dengan Tuhannya, tidak boleh disangkutpautkan dengan keyakinan kita. Kita menghormati orang dengan keyakinannya terhadap agamanya, tidak memusuhinya dan bergaul dengannya dalam hal keduniaan. Tetapi untuk urusan agama, tidak boleh dicampuradukkan.
Bolehkan kita mendoakan orang lain yang berbeda agama? Tentu saja boleh. Tapi doa apa dulu? Mendoakannya supaya sehat dan selamat dalam perjalanan, itu boleh. Tetapi mendoakannya selamat atau tenang di akhirat, itu tidak boleh. Karena itu mengganggu aqidah. Makanya pada pandangan saya dan apa yang saya baca dari penjelasan JAKIM Malaysia, mengucapkan RIP kepada non-muslim itu tidak boleh. RIP doa kepada mayit. Artinya tidak mungkin lagi dia mengubah aqidahnya. Tentu keyakinan kita sebagai muslim, hanya orang Islam saja yang selamat dunia akhirat. Jadi apa doa kita kepada jenazah non muslim? Tak perlu didoakan. Cukup katakan turut berduka cita atau sabarlah kepada keluarga yang ditinggalkan.

Demikian pula dengan ucapan atau tulisan tertentu terkait dengan ibadah agama lain. Seorang muslim dicatat Allah SWT apa yang dia ucapkan atau katakan. Apakah kita tidak boleh toleran dalam beragama? Boleh, selama urusan keduniaan. Bagaimana dengan urusan ibadahnya? Boleh juga. Bisa dengan meminjamkan tenda, lampu, kursi, atau lokasi parkir untuk mereka dalam merayakannya. Tapi jangan ikut merayakan, karena itu mengganggu aqidah.

Saya sangat hormat dan angkat topi kepada seorang dosen UIN yang tidak mau menuliskan kalimat yang terkait dengan ibadah agama lain dalam dagangannya. Itu, saya kira, dan saya yakin seyakin-yakinnya, adalah upaya menjaga aqidahnya. Dia menghormati aqidah yang dia anut. Dia menjalankan keyakinannya terhadap ajaran agamanya. Dia tidak tergoda dengan iming-iming untuk karena dagangannya. Keyakinan terhadap aqidah melebihi batas-batas keinginan untuk memperoleh keuntungan dagang. Demikian seharusnya sikap seorang muslim. Saya sendiri dalam hal tertentu, belum mampu atau kadang ragu memperlihatkannya secara terang-terangan. Apakah itu kegamangan dalam beragama? Itukan kepicikan dalam memahami Islam? Pendapat seperti ini juga perlu dihargai dan diterima sebagai sebuah wacana.

Inilah perlu saling menghargai perbedaan pendapat. Mengutip testimoni Abang Prof. Darusslam Syamsuddin, MA., bahwa : “Salah satu sisi dari academic freedom menurt Sydney Hook adalah memnghargai perbedaan pendapat”. Ada juga tuduhan bahwa ini sikap yang intoleran dan melawan kebhinekaan, melawan Pancasila. Justru saya melihat ini adalah bukti kongrit dalam melaksanakan hukum di negeri ini. Coba buka pasal 29 UUD 1945. Negara menjamin kemerdekaan setiap warganegara untuk melaksanakan keyakinannya. Artinya ketika yakin atas satu perkara dalam agama, lalu dilaksanakan dalam kehidupan, itu dilindungi oleh undang-undang. Lalu dimana intolerannya? Masa melaksanakan UU dikatakan intoleran?
Bukankah ada ulama dan akademisi Islam yang membolehkan melakukan demikian? Tentu ada. Pertanyaannya adalah: ulama yang mana? Akademisi Islam yang mana?
Kita tentu harus menghargai pandangan ulama dan akademisi Islam yang demikian. Yang disayangkan adalah jika ada akademi Islam yang menuduh Muslim yang punya prinsip demikian dengan sebutan gamang beragama, ini tentu kurang tepat dan pantas untuk didiskusikan.

Selamat kepada rekan kami, seorang dosen yang istiqamah, kebetulan berprofesi sebagai penjual kue juga, yang telah mengajari, memperlihatkan contoh, bagaimana seharusnya kami menjaga dan memelihara aqidah.

*Dosen UIN Alauddin Makassar

Komentar Pembaca