M E G A W A T I

0
115

MEGAWATI

Oleh : Tomi Lebang*

“Bunga mawar tidak mempropagandakan harum semerbaknya. Dengan sendirinya harum semerbaknya itu tersebar di sekelilingnya.”
Salah satu kalimat terkenal Presiden Soekarno ini, mau tidak mau, harus kita kenang kembali untuk menyebut sang putri, Dyah Permata Megawati Setyawati Sukarnoputri, yang partainya — PDI Perjuangan — hari ini menggelar Rapat Kerja Nasional di Jakarta.

Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Jusuf Kalla, hadir. Para petinggi dan bekas petinggi negeri datang. Elit-elit partai tak ketinggalan. Inilah perhelatan partai pemenang Pemilu 2014 (tapi kalah di perebutan kursi penguasa parlemen) paling akbar tahun ini. Dan mau tak mau, segala yang berbau PDIP, mengingatkan kita kepada Megawati, sang penguasa tunggal di tubuh partai yang dirintisnya dengan berdarah-darah semenjak Orde Baru hingga hari ini.

Barangkali, terlalu lama bertahta di kursi ketua umum partai, telah menggerus begitu dalam citra diri Megawati. Di media sosial ia dicitrakan sebagai “dalang yang menggerakkan boneka wayang Presiden Jokowi”, sebagai “diktator di partai dengan nama tengah demokrasi”, dan berbagai embel negatif lainnya. Media sosial yang sungguh sangar – kadang-kadang tak adil.

Saya tiba-tiba mengenang kembali peristiwa yang belum lama berlalu, ajang pemilihan presiden hampir dua tahun lalu. Pada hari Senin 19 Mei 2014, Megawati melepas Joko Widodo dan Jusuf Kalla di gerbang rumahnya di Menteng, Jakarta, untuk mencalonkan diri menjadi pasangan Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia 2014-2019.

Dua tiket mahal yang ia genggam berkat kemenangan PDI Perjuangan dalam Pemilihan Umum 2014 itu tak bertuliskan namanya maupun putrinya. Ia tuliskan nama Gubernur Jakarta Joko Widodo dan Ketua Dewan Masjid Indonesia Jusuf Kalla, lalu ia undur diri ke dalam bilik dengan harapan yang ia pendam dan tak terucapkan.

Mungkin kita semua bertanya apatah gerangan yang berkecamuk dalam hati dan pikiran Megawati Sukarnoputri dengan merelakan partai yang berpuluh tahun ia besarkan dengan berdarah-darah itu menjadi kendaraan yang nyaman bagi Jokowi – JK, dua nama dari luar trah Sukarno?

Megawati adalah perempuan yang dalam nadinya mengalir darah biru politik negeri ini tapi yang paling berdarah pula menjaga keberlangsungan hidup diri, keluarga dan partainya. Anak kedua Presiden Sukarno ini pernah didongkel dengan kasar dan terang benderang dari jabatan Ketua Umum PDI di masa Orde Baru. Ia melawan bersama pendukung setianya di PDI Perjuangan. Tapi kemenangannya yang gemilang pasca Orde Baru pada Pemilu 1999 gagal mengantar dirinya sebagai Presiden lewat atraksi politik di parlemen oleh para politisi. Parlemen pula yang kemudian menjungkalkan Presiden Abdurrahman Wahid.

Megawati pun tampil menjadi Presiden RI kelima 2001 – 2004.
Pada masa pemerintahannya, Megawati mendorong konsolidasi demokrasi di Indonesia. Pemilihan umum presiden secara langsung dilaksanakan yang dianggap sebagai tonggak keberhasilan demokratisasi di Indonesia. Tapi, Megawati tak menikmatinya, sistem pemilihan langsung justru mengorbankan dirinya. Ia kalah oleh bekas menterinya sendiri, Susilo Bambang Yudhoyono pada Pilpres 2004.
Sejak itu, Megawati memilih jalan sendiri. Ia melayarkan bahtera PDI Perjuangan di luar lautan gemerlap kekuasaan. Sepuluh tahun lamanya ia menahan diri dari dorongan syahwat kekuasaan. Ia ajeg, bersikap diam menjaga partai agar tak oleng oleh godaan. Dan di ajang Pemilu 2014, PDI Perjuangan menuai hasilnya, merebut suara terbanyak di antara 12 partai kontestan pemilihan umum.

Kemenangan dalam genggaman, Megawati tak mabuk kepayang. Ia mendengar dari segenap penjuru tanah air suara-suara yang tengah memuja seorang kader muda yang ia bawa dari Solo menjadi Gubernur Jakarta, Joko Widodo. Dengan pertimbangan yang matang, dingin dan senyap, ia tak menggenggam kemenangan itu untuknya sendiri. Pada tiket calon presiden yang sesungguhnya ia miliki, nama Joko Widodo ia tuliskan jauh-jauh hari.

Silih berganti ketua-ketua partai politik pesaing datang berkunjung, hendak bersama mengusung sang kader dengan menyodorkan nama calon pendamping. Sekali lagi, Megawati menunjukkan dirinya yang sesungguhnya: diam tak berarti mudah tunduk. Tapi Puan Maharani, sang putri semata wayang yang sudah lama pula berpolitik dan digadang-gadang sebagian orang partai, tak dininabobokannya dengan tiket pendamping itu. Dengan hitung-hitungannya sendiri, tiket itu ia serahkan untuk Jusuf Kalla.

Lalu, dunia pun menyaksikan sebuah persandingan politik yang tak biasa. Koalisi PDI Perjuangan, Nasdem, PKB dan Hanura mengusung kader PDIP Joko Widodo dan bekas Ketua Umum Partai Golkar Jusuf Kalla bersanding di kontes demokrasi akbar Pemilihan Presiden RI 2014.

Sungguh, publik layak bertanya, apa gerangan yang berkecamuk di hati Megawati Soekarnoputri seusai mengantar dua jagoannya yang tak berdarah Soekarno di gerbang rumah di Jalan Teuku Umar, Jakarta ke palagan politik negara besar ini. Yang pasti, ia telah menunjukkan sebuah pengorbanan nan tak tepermanai — ketika para ketua partai dengan perolehan suara satu digit persen saja sudah menggadang-gadang diri jadi calon presiden.

Untuk saat ini, saya hanya bisa mengucapkan selamat menggelar Rapat Kerja Nasional, PDI Perjuangan. Saya yang bukan orang partai, sekadar mengingatkan kembali kata-kata Bung Karno dalam sebuah pidato di tahun 1956. “Sungguh Tuhan hanya memberi hidup satu kepadaku, tidak ada manusia mempunyai hidup dua atau hidup tiga. Tetapi hidup satunya akan kuberikan, insya Allah Subhanahuwata’ala, seratus persen kepada pembangunan tanah air dan bangsa. Dan… dan jikalau aku misalnya diberikan dua hidup oleh Tuhan, dua hidup ini pun akan aku persembahkan kepada tanah air dan bangsa.”
— TEBET, 10 Januari 2016

*Penulis

Komentar Pembaca