Makna Komunikasi Politik di Balik “Oleh-Oleh”

0
24

Makna Komunikasi Politik di Balik “Oleh-Oleh”
Oleh: Haidir Fitra Siagian, M. Si., Ph.d*

Inspiratifnews.com-Opini Bersama istri tercinta tahun 2009 lalu, kami mengikuti satu pendidikan selama enam bulan di Denpasar, Bali. Untuk menemani ketiga anak kami yang saat itu belum masuk usia sekolah, kami dengan sengaja mengajak tante (kakaknya ibu mertua) dari Polewali untuk ikut tinggal bersama di Bali. Suatu ketika kami kedatangan kakak ipar dari Polewali, mengikuti pertemuan dinas di kawasan Sanur. Beliau sempat datang ke pondokan kami, membawa oleh-oleh khas Sulawesi Barat.

Menjelang pulang, tante dengan sedikit memaksa, meminta kami mencarikan oleh-oleh untuk para kemenakannya yang ada di Polewali. Awalnya kami agak kurang ikhlas karena sibuk belajar di kelas. Karena tante mengeluh dan mengomel terus, akhirnya kami sempatkan diri keliling Kota Denpasar untuk mencari cendramata khas Bali. Alangkah senangnya hati tante, karena hasratnya akan mengirim oleh-oleh kepada para kemenakannya, bisa terpenuhi. Menurut tante mengirim oleh-oleh itu memiliki makna yang sangat besar yakni menunjukkan dia masih hidup.

Saya sempat terperangah dengan kata-katanya tersebut. Betapa memang oleh-oleh itu memiliki makna komunikasi. Ada pesan yang ingin disampaikan ketika seseorang membawakan atau menitip oleh-oleh.

Pertama, menunjukkan bahwa orang yang mengirim oleh-oleh itu masih hidup. Ya, masih hidup. Setelah tiga bulan berada di Bali, dia ingin memberi kabar gembira kepada para keluarganya di Polewali menunjukkan dirinya masih hidup dan sehat wal afiat dengan cara mengirim oleh-oleh. Sebab hanya orang yang hiduplah yang bisa mengirim oleh-oleh. Bukan dengan cara meng-sms, mengirim surat atau menitip salam. Tetapi dengan cara mengirim oleh-oleh, tanpa kata-kata ataupun tanpa surat tertulis.

Kedua, menunjukkan rasa kasih sayang kepada yang diberikan oleh-oleh. Artinya orang yang mengirim ini masih memerhatikan orang yang dikirimi. Dalam hal ini, tante dapat dikatakan masih menyayangi para keluarganya yang ada di Polewali. Jika dia tidak menyayanginya, untuk apa dia mengirim oleh-oleh? Ini juga membuktikan bahwa orang-orang yang dikirimi oleh-oleh tersebut adalah orang-orang yang selama ini berbuat kebaikan kepadanya. Jika tidak demikian, tentu dia tidak akan senang menerima oleh-oleh tersebut.

Ketiga, menunjukkan aktuliasasi diri. Ini berarti orang yang mengirim oleh-oleh tersebut ingin memperlihatkan keberhasilan dirinya selama bepergian. Dia ingin memberitahu orang lain bahwa kepergiannya ke suatu daerah adalah memiliki manfaat untuk dirinya dan orang lain. Dengan mengirim oleh-oleh, ia memperlihatkan dirinya sebagai orang yang sukses dan eksis dalam kehidupan bersosial.

Sebenarnya meminta oleh-oleh itu, dalam pandangan saya kurang tepat. Karena akan menyusahkan orang lain. Berbeda halnya jika itu adalah inisiatif sendiri. Oleh-oleh sebenarnya sudah menjadi satu kebiasaan kita orang yang tinggal di kawasan Nusantara ini. Dosen saya dari Malaysia atau tante saya dari Singapura, jika ke Makassar, selalu membawa oleh-oleh.

Bagi mereka yang kuat nilai-nilai sosialnya, membawa oleh-oleh adalah satu keharusan yang tidak bisa ditawar-tawar. Oleh-oleh yang dibuat sendiri dan yang dibeli di toko, berbeda derajatnya. Jika dibuat sendiri, walaupun mungkin tidak bagus, tetapi ini menunjukkan keseriusan, penghormatan yang tinggi orang yang membawanya. Jika barang yang menjadi oleh-oleh itu adalah dibeli di toko, tetap saja nilainya sangat tinggi, tetapi derajatnya sedikit agak di bawah.

Dewasa ini kebiasaan membawa oleh-oleh semakin lama semakin berkurang, walaupun masih berlaku. Disamping karena tidak mau repot, biasanya oleh-oleh yang dibawa tidak disukai oleh si penerima. Terkadang kita ketika membawa oleh-oleh, diberikan kepada teman, tetapi saat menerimanya tidak menunjukkan kegembiraan. Ada juga oleh-oleh yang dibawa, tidak cukup untuk semua sejawat, ada yang sewot tidak dapat. Ini dapat memengaruhi keinginan membawa oleh-oleh.

Tapi ada juga yang beranggapan bahwa tidak perlu membawa oleh-oleh, nanti uang saja diberikan kepada tuan rumah. Ini bisa membawa dampak tersendiri, terutama kepada anak-anak. Dia lupa bahwa tidak sama hakekat uang dengan oleh-oleh yang dibawa langsung.

Ada satu kasus dosen saya dulu ketika masih kuliah di Universitas Hasanuddin. Sang dosen sedang ada urusan ke luar negeri. Pulang tengah malam, anak-anaknya pada bangun membukakan pintu. Sang ayah tidak membawa apapun kecuali pakaian kotor. Beberapa kali kejadian serupa. Akhirnya jika ayahnya pulang dari bepergian, tidak ada lagi anak-anaknya yang bangun, kecuali ibunya yang rela membuka pagar walaupun kehujanan.

Selain makna komunikasi atau silaturahim, oleh-oleh juga bisa dipandang sebagai pesan komunikasi politik. Suatu ketika nenek saya, seorang janda veteran, di kampung menceritakan kepada saya. Dirinya pernah menerima oleh-oleh yang diberikan tetangganya yang baru pulang dari Jakarta berupa dodol garut sebanyak satu bungkus. Tahun 1980-an, tidak afdol rasanya seseorang bepergian ke Jakarta jika tidak membawa oleh-oleh berupa dodol garut. Nenekku berkata yang dalam bahasa Indonesia adalah “itu adalah oleh-oleh politik”. Mengapa tanyaku? Karena minggu depan akan ada pemilihan kepala desa, anaknya salah seorang calon. Saya tidak mau makan dodol itu, makanlah untukmu, katanya.

Masih tahun 1980-an, ayah saya yang seorang guru SMP, juga sering dibawakan oleh-oleh ke rumah oleh orang tua murid, seperti ayam hidup, ikan asin, dan beras, menjelang ujian akhir sekolah. Ayah tidak mau menerimanya. Lalu sang tamu tidak kehabisan akal, diberikanlah ke ibu atau ke kami. Esoknya ayah menyuruh ibu mengembalikannya. Tentu ibu tidak enak mengembalikannya. Lantas? Diberikanlah kepada tetangga atau keluarga lain.

Terimakasih kepada teman-teman sejawat saya yang baru pulang dari Jepang, hampir semuanya, membawakan berbagai oleh-oleh untuk kami, termasuk untuk saya. Ada pulpen, hiasan kulkas, permen, manisan Jepang, dan teh tarik produk Malaysia. Pokonya banyak deh. Juga dari staf saya di Majelis Dikdasmen yang baru pulang dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

*Dosen Ilmu Komunikasi UIN Alaluddin Makassar

Komentar Pembaca