Media Massa Seperti Pohon Jambu

0
104

Media Massa Seperti Pohon Jambu

Sebuah Prolog Mengenai Media

oleh Arpan Rachman/Jurnalis Media Belanda

Inspiratifnews.com, Kita kalau mau jujur tak perlu saling bicara dalam sistem tanya-jawab. Orang sudah tak mau mencari jawaban. Tapi hanya mau tahu. Jadi, tak perlu wawancara lagi.

“Pembunuhan Bin Laden, peristiwa 9/11, bom Mariott di Jakarta, semua dipublikasikan pertama kali di media sosial oleh warga kebanyakan, bukan jurnalis.” (https://indonesiana.tempo.co/read/57402/2016/01/03/wahyu.dhyatmika/senjakala-suratkabar-dan-kebangkitan-jurnalisme-digital#.VojobY8cvud.facebook)

Itulah cara kerakyatan menusuk perut penguasa berita. Orang yang mempublikasikan tiga peristiwa itu dulu pasti tidak berpikir publikasinya akan mengundang iklan. Atau perasaan harap-harap cemas: kalau mempublikasikannya, apakah wakil bagian iklan akan marah karena bisa-bisa mengganggu “hubungan harmonis” dengan “klien”?

***

MEDIA bisa dimiliki tiga orang: pengusaha, pemerintah, warga kebanyakan. Di Indonesia, pemilik yang pertama paling kuat; kedua, makin lemah; ketiga, sudah mati. Sejarah media di Indonesia, pengusaha dan pemerintah bersama-sama menghancurkan media milik warga kebanyakan. Pengusaha media lalu menyisihkan media pemerintah. Dan pengusaha media kini jadi kuat sendiri sebagai oligarki karena begitu liberalnya sistem ekonomi.

Justru liberalnya sistem ekonomi kini menghidupkan kebebasan memiliki teknologi gawai (handphone; tab; notebook; laptop) dan membeli nomor digitalnya (SIM-Card) bagi seluruh warga negara ini. Teknologi digital itu mulai menghidupkan lagi model kepemilikan media yang ketiga dengan modal banyaknya gawai yang dimiliki oleh jutaan warga. Tinggal pencet, jadi status atau comment dan berita!

theory-of-media-and-society-teori-media-dan-masyarakat-1-638Tapi sesungguhnya permainan itu sedang diulur waktu saja. Jika gawai dan SIM-Card dinilai sudah terlalu banyak, pihak pertama tinggal menekan ulang pihak kedua untuk membuat undang-undang agar warga kebanyakan tidak bisa bebas lagi menguasai teknologi digital.

Aktivis HAM Usman Hamid mengungkapkan, di Australia orang tidak boleh sembarangan membeli SIM-Card. Satu orang hanya bisa punya satu nomor saja. Kalau SIM-Card hilang atau kadaluwarsa perlu urusan serius dan rumit untuk mendapat nomor baru.

images2Di Indonesia, mesin kapitalisme tetap memberi celah manusia buat masuk kembali ke dalam permainan. Sejauh permainan itu bisa dikontrol ujungnya. Mungkin atau tidak orang mengobarkan revolusi untuk kemerdekaan memiliki SIM-Card?

Sekadar nostalgia, model ketiga itu: media yang dimiliki warga kebanyakan: adalah tiupan roh pertama ke dalam jiwa jurnalisme Indonesia. Bentuknya berupa koran yang terbit di Januari 1907, Medan Priyayi, didirikan RM Tirto Adhi Suryo murni dengan dana yang dikumpulkan dari calon pelanggan: para pembaca koran itu ketika kelak diterbitkan. Model mirip koperasi itu diteruskan koran Die Tageszeitung di Jerman yang hidup dari iuran pembaca, tanpa iklan, ada 12.000 pemiliknya, sekarang.

Sisa peninggalan Tirto Adhi Suryo belum hilang. Walaupun tak ada orang Indonesia yang meniru caranya mendirikan media. Tapi nama kolom yang dia tulis, dulu, artikel rutin di kolom Dreyfusiana, ditiru banyak media. Sekarang lihatlah “-siana -siana” bisa kita temukan di tubuh berbagai media, sosial maupun yang tidak sosial.

***

MEDIA massa jadi seperti pohon jambu. Letaknya di dalam sebuah taman untuk umum. kalau berbuah, dia hanya dibagi kepada: 1) penyedia bibit; 2) penyebar pupuk; 3) penyiram air; 4) perawatnya dari hama; 5) empunya tanah di mana pohon itu ditanam.

images1Lima orang itu mengontrol keamanan pohon jambunya dari mereka yang tidak punya hak untuk makan. Pohon itu sendiri bahkan berguna sebagai pengontrol terhadap mereka yang mau mengganggu lima orang pemiliknya. Padahal banyak sekali orang, gelombang massa, di luar mereka itu yang mau mencicipi jambu setelah bertamasya di taman.

Massa cerdas itu sama sekali tidak mengusik aliran uang iklan dengan nilai total di atas seratus triliun per tahun yang diperebutkan konglomerat media di Indonesia. Mereka pada suatu saat nanti bisa diperhitungkan sebagai penulis atau jurnalis oleh kalangannya sendiri. Celakanya bagi orang-orang tua, kalangan sesama itulah yang akan giat setelah mereka semua nanti loyo lebih dulu.

Kini, orang yang amat banyak itu sudah menanam bibit pohon jambu baru. Di taman umum itu juga. Sekaligus menggelorakan kampanye secara rahasia tapi besar-besaran bahwa makan buah jambu tua itu pahit, tidak sehat, hanya bikin penyakit.

Pengusaha akan berkolusi–itu pasti–dengan penguasa lagi. Untuk menghalangi kekuatan massa. Tapi tak seorang pun mampu menghadang pikiran, membatasi keingintahuan. Tak satu pun pengusut yang bisa memeriksa apa yang bersembunyi di dalam setiap kepala manusia. Menulis berita kini bukan lagi hak wartawan saja.

BAGIKAN

Komentar Pembaca