Memahami Siklus Reproduksi Perempuan I

0
286

Inspiratifnews.com-Kesehatan, Siklus reproduksi artinya alur atau perputaran peristiwa yang secara berturut-turut dan konsisten dialami oleh manusia baik laki-laki maupun perempuan dalam proses bereproduksi. Berbeda dari binatang, siklus reproduksi manusia senantiasa berlangsung dalam proses reproduksi biologis yang timbal balik dengan social yang diciptakan oleh manusia. Hal ini berlangsung karena manusia tak dapat bertahan jika hanya mengandalkan proses reproduksi biologisnya saja.

Manusia adalah makhluk yang berakal dan berbudaya. Manusia dibekali kesanggupan untuk mengatasi peristiwa-peristiwa reproduksi biologisnya dengan berbagai aktivitas yang terkait dengan reproduksi social. Sebagai contoh, manusia lahir tak memiliki kelengkapan ragawi untuk bertahan diberbagai musim, sementara binatang diberi kelengkapan dan instink itu. Maka manusia kemudian menciptakan pakaian, selimut, obat-obatan, makanan yang pada dasarnya dimaksudkan sebagai cara bertahan untuk kelangsungan hidup manusia.

Siklus reproduksi biologis manusia senantiasa beriringan secara paralel dengan reproduksi sosialnya. Dan karena reproduksi biologis manusia terdiri dari reproduksi biologis lelaki dan perempuan, maka reproduksi social manusia pun terdiri dari reproduksi social untuk lelaki dan perempuan.

Masalahnya, manusia secara social menciptakan hirarki-hirarki social seperti kaya miskin, kota-desa, lelaki-perempuan, dewasa-anak dan seterusnya. Akibatnya dalam reproduksi social terjadi pula hirarki yang sering berdampak pada ketimpangan social.

Disinilah penting difahami bahwa pembahasan tentang siklus reproduksi manusia meliputi reproduksi bilogis dan social serta pengalaman perempuan maupun laki-laki. Ini dimaksudkan agara= kita faham bahwa penderitaan perempuan dalam menjalani reproduksinya seringkali bukan karena lat dan fungsi reproduksi biologisnya, tapi lebih karena peran dan posisi sosialnya.

Terkait dengan siklus reproduksi ini, Al-Qur’an pun mengisyaratkan adanya siklus kehidupan antara lain disebutkan dalam QS. Al-Baqarah/2:222, 233, Luqman/31:14, Al-Ahqaf/46:15, dan at-Talaq/65:4. Ayat-ayat tersebut sekaligus menegaskan pandangan dan penghargaan islam terhadap reproduksi perempuan.

Masa remaja yang ditandai dengan “haid”

Al-Qur’an menjelaskan tentang haid, dan bagaimana tata pergaulan dengan perempuan sedang haid sebagaimana tercantum dalam QS. Al-Baqarah/2:222.

Artinya : “Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah : “Haid itu adalah suatu kotoran. “oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari perempuan diwaktu haid; dan jangan lah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci, maka campurilah mereka itu ditempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.” (QS. al-Baqarah/2:222)

Ayat tersebut mengisyaratkan beberapa hal :

Sejumlah muffasir menyebutkan bahwa haid itu “al-adza”, artinay kotoran, rasa sakit. Kotoran berarti sisa, bekas. Al-adza dalam konteks haid adalah sel telur yang tidak dibuahi, kemudian mati, dan tidak berguan lagi. Pada waktunya sel telur yang tidak dibuahi itu akan keluar bersama darah dari dinding rahim yang  luruh dan dikenal dengan haid. Perasaan sakit pada waktu haid juga dirasakan perempuan. Haid menandakan masa subur untuk reproduksi.

 

Sababun-nuzul ayat tersebut terkait dengan budaya masyarakat Madinah pra Islam. Pada saat itu perempuan yang sedang haid dianggap sebagai permepuan kotor. Karena kotor mereka dikucilkan dan dijauhi. Badannya, bajunya, tempat duduknya, tempat tidurnya dan semua barang yang disentuhnya dianggap kotor sehingga orang yang menyentuhnya juga akan terbawa kotor dan harus membersihkan diri.

Sebaliknya, ada juga kebiasaan lama dari agama-agama pra-Islam yang menggauli (hubungan seks) perempuan yang sedang haid. Kondisi social budaya seperti itu, mengundang pertanyaan dari sisi etik dan kesehatan.dan jawaban Islam sebagaimana tercantum dalam QS. al-Baqarah/2:222 tersebut melarang perbuatan serupa itu. Dalam pandangan Islam, perempuan dalam keadaan haid tetap manusia yang memiliki kehendak, bebas kegiatan dan menjalankan kewajiban dalam kehidupan keluarga, masyarakat, serta hak-hak yang harus diterimanya. Dalam keadaan haid, yang kotor(najis) adalah darah dan sesuatu yang keluar dari rahimnya. Sementara tubuh dan barang-barang yang terkena darah haid menjadi terkena kotoran (munajjis), bukan perempuan itu yang kotor. Darah yang najis dan bagian tubuh, pakaian, yang mutanajjis akan suci kembali bila dibersihkan.

Dalam fikih Islam, perempuan yang sedang haod dianggap dalam keadaan hadas besar atau halangan untuk menjalankan ibadah wajib seperti shalat dan puasa. Ada hal-hal tertentu yang harus dihindari, yang merupakan rukhsah (keringanan) bagi perempuan, yaitu shalat, tawaf, puasa dan bersenggama. Kegiatan membaca Al-Qur’an, duduk di masjid tidak dilarang, selama dapat menjaga kesuciannya. Semua itu, sebenarnya merupakan hak-hak reproduksi perempuan.

Sumber : Aisyiyah

Komentar Pembaca