Mengapa Pesantren Din Syamsuddin diberi nama Dea Malela?

0
122

Inspiratifnews.com – Makassar, Din Syamsuddin mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, berkunjung ke Makassar 3 tahun pasca Muktamar di Kota ini, Senin malam (24/4) di Aula Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Makassar, Guna menghadiri pengajian Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan.

Dia menjelaskan profil Singkat Dea Malela (Imam Ismail Dea Malela, 1728-1786), yang disebut – sebut keturunan dari Syekh Yusuf. Kebetulan ayah Din Syamsuddin berasal dari Gowa, maka beliau menjelaskan siapa sebenarnya Dea Malela perihal keterkaitannya dengan Syekh Yusuf, berikut penjelasan Din Syamsuddin :

Ismail yang bergelar Dea Malela, bersama ayahnya Abdul Qadir Jaelani yang bergelar Dea Koasa (diatas makna karaeng) berhijrah dari Gowa/Makassar, Sulawesi Selatan untuk berdakwah ke Tana Samawa (Sumbawa). Kala itu, Ismail muda masih berumur sekitar 18 tahun pada 1746.

Mereka mendarat dengan sampan kayu di Labuan Punti, dekat Sumbawa Besar, Ibukota Kesultanan Sumbawa. Mereka memilih untuk bermukim di Dusun Pamangong (kampung halaman Din Syamsuddin), sekitar 40 KM ke arah selatan dari Sumbawa Besar.

Selain untuk bergabung bersama pamannya, Lalu Agga yang bergelar Dea Tuan (Dea Tuan adalah dai/ulama terkemuka yang berjasa dalam menyiarkan agama Islam di Tana Samawa, makamnya berada di tengah komplek Pesantren Modern Internasional Dea Malela, Pamangong), juga karena Pamangong merupakan dusun yang nyaman, sepi, sunyi, dan strategis sebagai “tempat persembunyian” dari kejaran penjajah Belanda.

Sebagai dai, dakwah Dea Malela melintasi batas pulau menyeberang dari Tana Samawa ke tanah Jawa bahkan Batavia. Selain menyebarkan agama Islam, ia juga termasuk dalam barisan para pejuang yang membebaskan tanah air dari penjajahan Belanda.

Para pejuang itu acap kali berkumpul di Dusun Pamangong untuk membahas strategi dakwah dan perjuangan membebaskan negeri yang saat itu sudah seabad lebih di bawah kekuasaan bangsa asing.

Ismail Dea Malela tidaklah sendiri. Saudara kandungnya, yang bernama Lalu Sanafiah dan bergelar Dea Marlia, juga seorang pejuang. Pemuda kekar perkasa (bahasa Samawa: Tau Karong) ini sangat disegani baik oleh kawan maupun lawan. Karenanya, Sultan Sumbawa saat itu menyerahkan kepada Dea Marlia penguasaan Sumbawa bagian Selatan, dan Pamangong sebagai titik pengaruh.

Pengaruh Dea Malela sangat kuat dan luas, dengan pengikut yang banyak. Tak ayal, Belanda pun menyimpan rasa takut padanya. Kelompok Dea Malela tidak memiliki senjata, namun memiliki semangat perlawanan terhadap penjajahan yang tinggi dan kuat. Bagi mereka, perlawanan terhadap penjajah adalah jihad fi sabilillah. Belanda merasa kewalahan. Mereka merasa perlu mencari strategi khusus untuk menghadang kelompok Dea Malela.

Belanda merencanakan penangkapan Dea Malela dan para pendukungnya. Kompeni memerlukan waktu yang panjang untuk melaksanakannya. Dea Malela dan segenap pejuang di Tana Samawa sangat kokoh dalam keyakinan, persatuan, dan kebersamaan. Pihak penjajah sangat sulit untuk menerapkan politik devide et impera.

Baru pada 1752, ketika Dea Malela dan ayahnya, Dea Koasa berada di Batavia, Tentara Kompeni berhasil menangkap keduanya. Tangan dan kaki keduanya berhasil dibelenggu/dirantai. Bersama ratusan pejuang yang sebagian besar ulama dari berbagai kesultanan di Nusantara, Dea Malela dan Dea Koasa dibuang ke Simon’s Bay, Afrika Selatan.

Mereka dikurung di penjara bawah tanah khusus budak. Setelah tiga tahun menghabiskan waktu dalam tahanan yang dingin dan gelap, Dea Koasa memimpin pelarian dengan cara melubangi tembok penjara. Mereka mengambil sekoci yang diikat di sisi penjara, kemudian mengarungi lautan dan mendarat di dekat Bordjiesdrif, sebelah utara Buffels Bay pada 1755 dan bersembunyi selama beberapa tahun; menghabiskan waktu di suatu tempat yang sekarang dikenal dengan Antonie’s Gat, dekat pantai Buffels Bay.

Menurut catatan harian Dea Koasa, Cape Point Mountain, yang dari sana terhampar pemandangan Samudera Atlantik di sebelah kiri dan Samudera Hindia di sebelah kanan, menjadi tempat yang pas untuk bersembunyi. Asri dan sejuk seperti Pulau Sumbawa, membuat mereka mudah melupakan memori pahit selama dalam kurungan.

Menurut catatan lain, Dea Koasa berhasil melarikan diri dan kembali ke kampung halaman dan dimakamkan di Pemakaman Sampar, dekat Sumbawa Besar.

Sementara Dea Malela terus melanjutkan dakwah dan perjuangannya. Para budak dari Cape Town rela datang ke Antonie’s Gat untuk mencari kedamaian dan perlindungan sekaligus belajar Islam pada Dea Malela.

Sejak itu, Dea Malela menjadi tokoh panutan dan pelindung kaum teraniaya. Ia menjadi salah seorang Imam Pertama di Afrika Selatan. Di sana, Dea Malela menikah dengan Siti Zulaekha dan telah melahirkan tujuh generasi hingga saat ini yang jumlahnya mencapai 3000 orang (pada 2005). seperti halnya Makam Syekh Yusuf, Makam Dea Malela menjadi salah satu keramat bagi umat Islam di Afrika Selatan.

Menurut berita, Nelson Mandela (yang berasal dari tempat yang sama dengan Dea Malela, Simon’s Town), sesaat setelah dilantik menjadi Presiden Afrika Selatan, Nelson mengunjungi Makam (Keramat) Dea Malela.

Sambil memegang bagian makam, Mandela berkata, “perjuangan kita menegakkan keadilan dan melawan kelaliman belum seberapa jika dibandingkan dengan perjuangan tokoh yang bersemayam di dalam makam ini.”

Sedangkan jauh di seberang sana, di Tana Samawa, Saudara Dea Malela, yaitu Dea Marlia tetap meneruskan perjuangannya di Pamangong. Darinya, lahir keturunan yang banyak. Salah seorangnya yaitu M. Sirajuddin Syamsuddin (sebagai generasi ketujuh) yang memprakarsai berdirinya Pesantren Modern Internasional (International Islamic Boarding School) Dea Malela di Pamangong, Sumbawa.

Untuk mengenang peran para leluhur, nama Dea Malela dijadikan Pesantren Modern Internasional  binaan Din Syamsuddin yang berdiri sejak tahun 2016 lalu, pesantren ini akan berdiri sebagai pusat kajian Islam dunia yang dapat melahirkan kader-kader ulama, zuama, dan cendekiawan muslim mancanegara. (*)

Komentar Pembaca