Menyikapi Tantangan

0
89

“Menyikapi Tantangan”

Oleh: Imam Shamsi Ali*

Tidak disangkal jika umat sedang berada dalam suasana yang memprihatinkan. Berbagai tantangan dan cobaan menimpa umat ini, hampir dalam segala lini kehidupannya. Tantangan internal, dari kemiskinan, kebodohan, kezaliman sebagian pemimpinnya, hingga ke friksi dan perpecahan antar kelompok yang ada.

Sementara tantangan eksternal juga semakin membesar. Dari kesalah pahaman terhadap agamanya, ketergantungan kepada kekuatan luar, hingga eksploitasi sumber-sumber alam dunia Islam oleh orang lain. Semua ini menjadikan umat Islam bagaikan tikus-tikus yang mati kelaparan di lumbung padi.

Pertanyaan buka lagi apa dan kenapa? Karena semua itu sudah terjawab, baik dalam pandangan teologis maupun sosial umat ini. Justeru yang terpenting untuk dicermati sekarang adalah bagaimana seharusnya umat ini merespon?

Sekali lagi, tantangan terbesar umat ini adalah bagaimana mempersiapkan diri dalam merespon berbagai tantangan san cobaan ini. Mungkin inilah yang ditekankan ketika Allah mengatakan: “untuk menguji siapa di antara kalian yang terbaik dalam amalan”. Tentu salah satu maksud “amala” adalah bagaimana memberikan reaksi terhadap berbagai fenomena kehidupan itu sendiri.

Keseimbangan

Barangkali hal pertama dan terpenting yang dilakukan oleh umat ini, khususnya para pemimpinnya, adalah membangun keseimbangan dalam menyikapi setiap isu yang ada. Dalam bahasa yang lebih sakral barangkali adalah bahwa umat ini dituntut untuk adil dalam menyikapi setiap hal.

Ambillah sebagai misal pertikaian yang terjadi di kalangan umat ini. Hendaknya semua pihak harus mampu bersikap adil, sehingga yanh salah tetap disalahkan, dan yang benar tetap dibenarkan. Bahkan kalaupun yang benar itu ada di pihak siapa yang dianggap musuh sekalipun.

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah karena kebencian kamu kepada sekelompok orang (kaum) menjadikan kamu tidak adil. Adillah! Karena itu lebih dekat kepada ketakwaan”.

Yang sering kita saksikan adalah terjadinya keperpihakan dalam keadilan. Sehingga ada tendensi untuk menyikapi permasalahan berdasarkan keterkaitan emosi, tanpa menghiraukan urgensi “keadilan” dalam bersikap. Dan ini adalah sikap “zalim” yang terjadi, bahkan terkadang atas nama membela kebenaran.

Kurangi emosi

Umat saat ini sedang mengalami tingkatan emosi yang sangat tinggi. Dan itu menjadikannya begitu “reaktif” terhadap berbagai masalah dengan cepat, dan umumnya tanpa pertimbangan matang. Sehingga reaksi-reaksi yang terjadi: 1) spontan (tanpa pertimbangan matang dan perencanaan). 2) bersifat instan dan tidak langgeng (unsustainable).

Perhatikan misalnya ketika di sebuah daerah terjadi penyelewengan akidah. Biasanya yang terjadi adalah marah dan menyalahkan. Setelah semua kemarahan itu dilampiaskan, biasanya melalui mimbar-mimbar dan tablig akbar, lalu semua berlalu. Seolah masalah itu selesai dan tuntas.

Padahal dengan reaksi tersebut tidak menyelesaikan permasalahan. Bahkan sesunguhnya menambah dan memperumit masalah.

Satu, karena kemarahan yang dilampiaskan sekedar kemarahan. Sehingga kemarahan tidak membawa kepada hasil positif. Bahkan sebaliknya kemarahan itu menjadi ukuran kedewasaan umat di mata orang lain. Marah adalah alami. Tapai marahnya orang beriman itu berakhir kepada solusi dan “positive outcome” (hasil positif).

Dua, karena reaksi itu bersifat instan maka akan bersifat sesaat, cepat berlalu, dan kemudian semua terlupakan. Seolah penyelewengan akidah yang terjadi itu telah terselesaikan. Padahal, penyelewengan itu masih terus. Bahkan lebih gawat lagi karena isunya terbuka luas (dalam era informasi) maka isu itu kemungkinan akan dijadikan justifikasi sikap umat yang tahunya marah, membenci dan melakukan kekerasan. Selanjutnya kelompok penyeleweng itu akan mendapat alasan untuk dilindungi oleh pihak-pihak yang (mungkin langsung atau tidak) punya kepentingan.

Tiga, menutup mata untuk melakukan introspeksi dan koreksi diri. Bahkan sebaliknya kemaraham dan emosi hanya akan terus melemparkan kesalahan kepada orang lain. Bahkan di saat tidak ditemukan kesalahan itu akan dibangun teori konspirasi yang ragam. Penyelewengan akidah itu terjadi karena “pemerintah” yang terpilih bukan yang didukung oleh pertai tertentu misalnya. Atau penyelewengan itu terjadi karena gerakan kristenisasi semakin deras. Dan seterusnya.

Kalau saja emosi dapat diredam atau dikurangi maka menyikapi penyelewengan itu akan disikapi:
1) kakukan muhasabah. Sejarah mengajarkan bahwa kekalahan perang Uhid atau Hunain disebabkan oleh kesalahan internal umat.
2) menemukan akar permasalahan. Mungkin karena kebodohan agama, kemiskinan, atau sebba lainnya. Berdasarkan penemuan akar masalah tersebut lalu,
3) dilakukan perencanaan matang dan sistimatis dalam menghadapinya. Dan hendaknya berorientasi “problem solving”. Bukan malah semakin membenani.
4) selain sistimatis perencanaan itu harus bersifat “sustainable” (berkesinambungan). Tidak instan dan terlupakan. Tapi terus hingga akar masalahnya benar-benar selesai.

Tapi semua ini hanya akan terjadi ketika umat ini mengurangi emosi. Sebaliknya mengedepankan “pandangan” dalam melihat setiap isu yang ada dengan pertimbangan rasional dan dengan hati yang lapang dan sejuk.

Bersambung!

*Imam Besar New York & Presiden Nusantara Foundation USA

Komentar Pembaca