Merdeka, Padahal Kami Masih Dijajah

0
252

Merdeka, Padahal Kami Masih Dijajah

Oleh : Ilmiawan*

Inspiratifnews.com-Opini Momentum 17 Agustus adalah momentum euforia bangsa kita, momentum masyarakat tumpah ruah melakukan hura-hura. Ya, beginilah adanya bangsa kita. Teriakan “Merdeka” hanya sekedar di bibir saja, tak ada bedanya dengan para pujangga yang menyentuh rasa kapan saja, namun tak menentukan selamanya. Pendahulu kita berdarah-darah, namun kita hanya suka hura-hura. Seolah-olah kitalah yang berdarah-darah memperjuangkan bangsa. Tapi ternyata, tak lebih kita hanya warga yang tak tahu apa-apa, memperjuangkan kemerdekaan bagi orang yang memilki tahta.

17 Agustus 1945, bangsa ini menyatakan diri sebagai negara yang telah merdeka, negara yang tak lagi dijadikan boneka oleh penjajah, negara yang berhak menentukan nasibnya sendiri tanpa pengaruh bangsa lain. Tapi, ini semua hanya di tahun 1945. Di era sekarang ini, indikator kemerdekaan yang dikemukakan beberapa tahun silam tak lagi bermakna karena sudah ternodai oleh para pecundang bangsa.

Kemiskinan, apakah ini yang namanya kemerdekaan? ketika masyarakat masih menjerit untuk sesuap nasi. Masyarakat putus sekolah tak tahu bagaimana cara melangsungkan hidupnya. Masa depan yang tak jelas akibat kemiskinan. Apakah kita masih menganggap ini kemerdekaan? Tentu tidak, inilah sebuah kebohongan yang nyata. Kami belum merdeka.

Coba kita lihat sebuah data dari Badan Pusat Statistik (BPS) pada bulan Maret 2015, jumlah penduduk miskin di Indonesia mencapai 28,59 juta orang atau berkisar 11,22 persen, dan ini bertambah sebesar 0,8 juta orang dibandingkan dengan kondisi September 2014 yang sebesar 27,73 juta orang (10,96 persen). Belum lagi angka pengangguran setiap tahunnya begitu besar. Menurut BPS melaporkan jumlah pengangguran di Indonesia pada Agustus 2015 sebanyak 7,56 juta orang, bertambah 320 ribu orang dibandingkan dengan tahun 2014 yaitu 7,24 juta jiwa. Masihkah kita merdeka?

Di sisi lain melihat dari ketertindasan masyarakat oleh penjajah yang bertahta yang menjadikan masyarakat tak tahu arah. Justru keterpurukan ini dijadikan momentum untuk membahagiakan negara lain. Ya, negara kita kaya, namun kekayaan itu bukan kita yang kelola. Investor asing berdatangan ke negeri kita dan dilayani begitu megah sehingga yang bertahta dapat upah. Belum lagi tenaga kerja asing yang berdatangan dari berbagai negara dan dijadikan sebagai pekerja sampai akhirnya tren PHK pun berlaku. Hal ini mengakibatkan tenaga kerja lokal tergantikan di negara sendiri, sehingga pengangguran pun bertambah. “Jadi tamu di negeri sendiri” kutipan inilah menjadi salah satu penjajahan bangsa kita. Cukup resah, tapi inilah adanya.

Belum lagi kita berbicara penjajahan moral yang terjadi. Moral generasi bangsa kita sangat dijajah, bukan main generasi muda adalah sasaran utama. Kurang produktifnya generasi muda kita karena terjebak dalam penjajahan moral. Siaran televisi diformat sehingga menjadikan moral generasi muda rusak. Pornografi, narkoba, kekerasan seksual, tawuran itu sudah menjadi hal yang biasa bagi masyarakat Indonesia.

Betul sekali apa yang dipesankan Ir. Soekarno pada HUT Proklamasi 1966 “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri”. Sejatinya kita semua masyarakat sejahtera, tapi ternyata yang menikmati hanyalah kaum bertahta dan serakah. Kata merdeka pun hanya milik kaum bertahta dan kita pun harus jujur bahwa kita masih terjajah.

Namun satu hal yang tak boleh hilang sebagai generasi muda bahwa harapan itu masih ada. Masih nampak ada segelintir orang yang akan memerdekakan bangsa ini secara hakiki. Masih ada segelintir orang yang resah terhadap permasalahan bangsa ini. Dan masih ada segelintir orang tercerahkan yang akan mencerahkan bangsa ini. Pribadi muda jangan pernah kehilangan harapan, karena republik 2045 kitalah aktor bangsa ini. Jadikan bangsa ini, bangsa yang berkemajuan dan berkeadaban, bangsa yang disegani oleh bangsa lain.

Maka dari itu, bergegaslah, bertindaklah, dan berkaryalah untuk bangsamu. “Jiwa muda adalah jiwa bangsa, ketika pemuda mati rasa maka hancurlah bangsa kita.

*Ketua Umum IMM FKIP Unismuh Makassar

Komentar Pembaca