Mukhtar Tompo: 71 Tahun Indonesia Merdeka, Belum Prioritaskan Pembangunan Teknologi

0
80

Inspiratifnews.com,Jakarta-Meski telah merasakan alam kemerdekaan selama 71 tahun, Pemerintah masih belum memprioritaskan pembangunan di bidang pengembangan teknologi. Hal itu ditegaskan Anggota Komisi VII DPR RI Mukhtar Tompo, ketika menghadiri Refleksi Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Tahun 2016, sekaligus peringatan Ulang Tahun ke 38 lembaga tersebut di Auditorium BPPT, Jl. MH. Thamrin Jakarta Pusat, Senin (15/8). Refleksi tersebut mengusung tema “BPPT Garda Terdepan Teknologi Menuju Indonesia Gemilang”.

Menurut Mukhtar, lembaga yang konsen pada pengembangan teknologi, seperti BPPT, seharusnya diberi perhatian serius oleh negara. “Bayangkan kita hanya menganggarkan 0,08% APBN untuk riset. Jika kita tidak ingin terus-terusan menjadi penonton dan konsumen teknologi semata, lembaga seperti BPPT harus dikembangkan dengan kebijakan, dan anggaran yang maksimal. BPPT juga tak boleh sekadar menjadi lembaga eksperimen, tapi semua produk risetnya harus dimanfaatkan oleh Kementerian terkait,” tegas Mukhtar

Mukhtar menambahkan, sejak didirikan pada tahun 1976, BPPT sangat identik dengan BJ Habibie. Bahkan sepanjang berdiri, hingga berakhirnya Orde Baru (1998), Habibie lah yang memimpin Badan ini. Artinya, sambung Mukhtar, lembaga ini memang didirikan untuk memformalkan “ide besar” Habibie dalam bentuk institusi agar Indonesia diperhitungkan di pentas dunia dalam bidang teknologi.

Zaman berganti ke Era Reformasi, BPPT tetap dipertahankan. Meski tak lagi dipimpin oleh “Nama Besar” seperti Habibie, namun BPPT tetap menorehkan prestasi. “Artinya BPPT membuktikan diri sebagai lembaga yg memiliki sistem yang handal dengan menerapkan segala potensi SDM yang telah dimiliki,” ungkap Anggota Fraksi Partai Hanura DPR RI ini.

Memang cukup banyak prestasi yang telah ditorehkan oleh BPPT. Pada Kedeputian Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi (TAB-BPPT), BPPT berhasil melakukan inovasi teknologi dan sistem produksi Ikan Nila SALINA yang mampu hidup di air payau dengan tingkat tingkat salinitas (keasinan) 20-25 ppt, inovasi dan alih teknologi pengembangan pangan pokok lokal untuk ketahanan pangan nasional, misalnya dalam bentuk Beras berbahan baku jagung, beras dari bahan baku singkong, dan aneka produk inovasi pangan lainnya. Produk lainnya yaitu pemanfaatan sumber daya hayati Indonesia untuk pengembangan obat antimalaria dan antiamuba, teknologi untuk meningkatkan kualitas garam rakyat, bahkan BPPT mampu membangun industri enzim pertama di Indonesia sebagai substitusi impor. Selain itu, BPPT juga mampu menghasilkan bibit tanaman dengan teknologi kultur jaringan Ex-Vitro.

Di Kedeputian Teknologi Informasi, Energi dan Material (TIEM BPPT), telah berhasil melakukan inovasi di bidang teknologi informasi dan komunikasi (TIK), seperti pengembangan algoritma biometrik, pengembangan peralatan elektromedika, pengembangan smart bandara. Pengembangan produk implan tulang SS 316L dan Bioceramics Hydroxiapatiteberbahan baku lokal sebagai subtitusi impor yang menghemat devisa untuk aplikasi kedokteran orthopedic. Inovasi teknologi di bidang bahan bakar seperti pemanfaatan pure plant oil (PPO) untuk substitusi BBM pada pembangkit listrik dan pengembangan teknologi PLTP skala kecil 500 KW Geothermal Binary Cycle Power Plant (PLTP) Di Lahendong.

Kedeputian Teknologi Pengembangan Sumber Daya Alam (TPSA) BPPT juga berhasil melakukan inovasi dan layanan teknologi eksplorasi sumber daya alam berbasis teknologi penginderaan jauh maju yaitu teknologi Polarimetric Synthetic Aperture Radar (Pol_SAR) Remote Sensinguntuk mengukur fase tumbuh tanaman dan menghitung luas panen sawah. Inovasi dan layanan teknologi peningkatan nilai tambah mineral. Pemanfaatan teknologi modifikasi cuaca (TMC) untuk menanggulangi bahaya hidrometeorologi. Dan, operasi SAR dalam pencarian pesawat Air Asia QZ8501 dengan KR Baruna Jaya 1.

“Bahkan dalam catatan saya, pesawat Adam Air yang jatuh dan tenggelam di laut lepas dan menuai kontroversi itu, rupanya dipecahkan oleh tim BPPT secara ilmiah. BPPT mampu menguak misteri, BPPT yang menemukannya walau kurang terpublikasi, karena syarat dengan nuansa politik. BPPT ikhlas tdk mendapat pujian, karena memang tujuannya bukan untuk dipuja dan bukan lembaga politik,” urai legislator Daerah Pemilihan Sulawesi Selatan 1 ini.

Bagi Mukhtar, BPPT adalah pahlwan tanpa tanda jasa di Laut Majene. Ia mengetahui semua kisah itu dari para nelayan dan kelompok pegiat sosial. “BPPT tidak mempersoalkannya, BPPT tidak ambil panggung atas peristiwa itu. Tapi saya yakin, Tuhan pasti murka kepada lembaga yang memerankan diri sebagai pahlawan disana,” pungkasnya.

Prestasi BPPT lainnya di Kedeputian Teknologi Industri Rancang Bangun dan Rekayasa (TIRBR-BPPT), berhasil melakukan inovasi teknologi kapal perang nasional guna menuju kemandirian industri hankam matra laut melalui pengembangan desain kapal cepat rudal, kapal patroli, teknologi kapal selam, rancang bangun Swamp Boat. Inovasi teknologi pesawat udara nir awak (PUNA), seperti Puna Wulung, Puna Alap-Alap, Indonesia Medium Altitude Long Endurance Drone (I-MALE-x). Inovasi dan layanan teknologi industri petro kimia dan migas, serta menyiapkan layanan teknologi permesinan pabrik gula Glenmore.

Di Kedeputian Pengkajian Kebijakan Teknologi (PKT BPPT), berhasil menerapkan  penebaran benih Ikan Nila Salina di kawasan Techno Park Perikanan Kota Pekalongan. Menghasilkan produk tenant hasil dari inkubasi di pusat inovasi seperti alat perontok sisik ikan, pupuk organik berbasis urine dan kotoran sapi, budi daya jamur merang, jamur cripsy dan keripik jagung aneka rasa.

Mukhtar Tompo menambahkan bahwa saat ini BPPT tengah menjalankan program yang sangat brilian. Di Kabupaten Paser Penajam Utara, sedang dibangun Science Maritim Techno Park yang diinisiasi oleh BPPT. Konsep program ini menyerupai Taman Mini Kelautan, yang akan menjawab tantangan kemaritiman Indonesia. “Konsep ini terintegrasi dari hulu ke hilir, yang akan menjadi pusat riset dan inovasi kelautan Indonesia. Disana akan dibangun dermaga untuk kapal-kapal riset nasional dan internasional. Akan ada laboratorium, perpustakaan dan fasilitas difusi teknologi kelautan yang bekerjasama dengan Pemerintah Perancis,” jelasnya.

“Dalam pandangan saya, BPPT sungguh tanggap dalam menjabarkan keinginan Bapak Presiden Jokowi yang mendambakan kemandirian negara ini dalam mengelola laut. Pemerintah mestinya memberi apresiasi dan perhatian secara khusus kepada BPPT demi  tercapainya visi besar Nawacita di sektor Kelautan dan Kemaritiman,” tambah Mukhtar.

Dengan melihat catatan prestasi tersebut, Mukhtar yakin, jika BPPT diberikan kewenangan dan anggaran yang lebih besar, maka lebih banyak prestasi yang bisa ditorehkan bagi pengembangan teknologi terapan di tanah air.

“BPPT seharusnya juga banyak dilibatkan dalam menyusun rancang bangun proyek pemerintah. Sebab, rancang bangun merupakan kunci dari proyek percepatan infrastruktur dan tidak lagi menggunakan konsultan asing. Termasuk dalam eksplorasi migas nasional, kita punya Kapal Baruna Jaya, yang memiliki kemampuan untuk mendeteksi potensi migas di bawah laut,” sambung Mukhtar.

Apalagi dalam sejarahnya, lanjut Mukhtar, BPPT dahulu merupakan bagian dari Divisi Advanced Technology Pertamina (ATP) pada tahun 1976. “Sejarah tersebut dapat dipertimbangkan untuk melibatkan kembali BPPT beserta segenap sumberdaya yang dimilikinya, dalam eksplorasi dan eksploitasi migas nasional,” tegasnya.

“Kesimpulan saya, Pemerintah harus memberikan dukungan maksimal, baik dana, fasilitas, maupun kebijakan bagi BPPT dalam mengembangkan teknologi terapan bagi masyarakat. Jika BPPT kurang difungsikan, kurang diberdayakan, maka visi besar  kedaulatan dan kemandirian bangsa yang diimpikan oleh Presiden Jokowi dan Wapres Jusuf Kalla hanya isapan Jempol,” tutup Mukhtar.*

Komentar Pembaca