Musibah

0
60

Musibah
Oleh : Imam Shamsi Ali*

Seringkali di saat kita mendengarkan kata musibah yang terlintas di benak kita adalah peristiwa buruk yang terjadi. Ketika terjadi musibah, gempa bumi, kebakaran, kecelakaan, atau di saat ada kematian itulah yang kita namai musibah.

Secara bahasa sesungguhnya kata “musibah” berasal dari “ashoba-yushibu-ishobah-mushibah”. Yang berarti target. Ketika kita latihan memanah menembak maka target tembakan atau panahan itu disebut “al-ishobah”.

Akan tetapi kata ini juga melahirkan makna lain. Itu dapat kita pahami secara jelas di saat kita bertukar pikiran dengan seseorang lalu dia memberikan pendangannya dan benar. Kita akan mengatakan: “laqad ashoba fulaan” (orang itu benar).

Artinya apa? Bahwa ketika Allah menjadikan hambaNya sebagai target maka secara imani (teologis) berarti Allah bermaksud untuk mengembalikannya pada posisi yang “benar”.

Untuk itu ujian atau cobaan (musibah) tidak lain dimaksudkan sebagai jalan bagi seseorang untuk melakukan perbaikan. Mungkin dalam bahasa yang lebih keren untuk melakukan “self correction” (atau perbaikan diri).

Musibah dan umat

Jika kita jujur melihat keadaan umat saat ini diakui atau tidak umat ini sedang mendapat musibah. Berbagai cobaan dan ujian, atau tepatnya bencana menimpa umat ini secara bertubi-tubi.

Di negara-negara mayoritas Muslim, kekerasan dan pembunuhan terus berlanjut. Umat dibantai baik oleh merek yang mengaku memperjuangkan “nilai-nilai” yang diakui sebagai kebaikan seperti demokrasi, kebebasan, dan lain-lain. Atau sebaliknya dilakukan oleh mereka yang mengaku memperjuangkan agama Islam itu sendiri. Belum lagi kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan, serta perpecahan internal di kalangan umat ini.

Di negara-negara minoritas Muslim juga musibah silih berganti. Dengan meningginya Islamophobia, diskriminasi dan kekerasan terjadi di berbagai tempat. Imej Islam secara sistemik dan sistimatis dikampanyekan secara besar-besaran semakin negatif. Menjadikan sebagian manusia semakin ketakutan dan benci dengan agama ini.

Lalu apa sesungguhnya yang harus dilakukan? Respon terbijak adalah bukan menangisi, apalagi melarikan diri dari musibah. Karena sekali lagi ternyata musibah itu memang “dibentuk” (designed) sebagai bagian alami dari perjalanan iman dan hidup.

“Dialah Allah yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji siapa yang terbawa di antara kalian dalam karya (amal)”.

Maknanya, ujian atau cobaan adalah bagian integral kehidupan. Yang dituntut kemudian adalah “ahsan” dalam beramal. Yaitu memberikan respon terbaik terhadap setiap cobaan yang terjadi itu.

Merespon musibah

Oleh karena musibah adalah sesuatu yang alami dalam hidup, maka jalan satu-satunya bagi kita adalah menghadapinya. Kita tidak mungkin melarikan diri, atau menyesali atas terjadinya cobaan dan tantangan. Justeru letak sukses tidaknya melalui setiap musibah kehidupan ada pada bagaimana meresponnya.

Pertama: fasten your seat belt

Mungkin kita pernah naik pesawat terbang. Lalu tiba-tiba terjadi olengan pesawat karena “turbulence”. Maka yang kita dengarkan dari awak pesawat atau pilot adalah “please fasteb your seat belt” (eratkan ikat pinggang).

Menghadapi goncangan dalam hidup juga memerlukan hal yang sama. Hanya saja ikat pinggang bukanlah materi. Tapi lebih kepada “al-urwah al-wutsqa” (pegangan yang kuat) sebagai buah dari keimanan yang kokoh: “faman yakfur bit thoghut wa yukmin billah faqadistamsaka bil urwatil wutsqa” (Al-Baqarah).

Salah seorang murid muallaf saya masuk ke agama ini karena kekuatan iman temannya. Dia bekerja di sebuah restoran. Dengan gaji yang sederhana teman dia ini setiap saat tersenyum, nampak bahagia sekali. Oleh temannya ditanya apa rahasia yang menjadikan dia selalu riang dan bahagia.

Ternyata cerita hidupnya sangat menyedihkan. Tapi dia sendiri selalu tersenyum dan bahagia. Dia dikawini oleh seorang Muslim. Tapi setelah punya dua anak dia disiksa dan akhirnya harus berpisah tanpa apa-apa. Akhirnya dia mencari kerja sana sini dan dapatkah kerjaan di restoran itu.

Ketika ditanya temannya apa yang menjadikannya selalu riang dan gembira? Jawabannya adalah karena dia punya Allah, Pemilik langit san bumi. Bahwa di saat iman telah kokoh, segala sesuatu menjadi “kecil”. Penderitaan yang selama ini dia rasakan karena Allah telah hadir dalam hidupnya.

Itulah yang menjadikan temannya masuk Islam dan kini menjadi salah seorang murid muallaf saya.

Kedua: jadikan sebagai obat

Kalau sekiranya umat ini adalah orang maka dia sedang terjangkiti penyakit yang kompleks. Berbagai ragam permasalahan yang ada dalam tubuh umat ini adalah penyakit yang kira-kira telah mengalami kronisitas yang tinggi.

Tapi saya ingin menggaris bawahi beberapa penyakit yang disinyalir di awal surah As-Shof dalam Al-Quran: 1). Hilangnya arti sejati dari “tasbiih” (kesucian Allah) dalam hidup umat. Kesucian itu telah terkontaminasi oleh berbagai kepentingan, yang menumbuhkan penyakit “wahan” (secara kata berarti kehinaan). Penyakit “wahan” atau mungkin inferioritas ini ditandai oleh “hubbun dunya wa karahiyatul maut” (tendensi materialisitik dan lupa tujuan sejati kehidupan atau ukhrawi).

2) Umat ini hebat dalam retorika dan berbagai slogan tapi kurang dalam pembuktian. Sehingga Allah menyindir mereka: “kenapa kamu mengatakan apa yang kamu tidak lakukan”?

Perhatikan “gap besar” (jurang pemisah besar) antara keindahan konsepsi kehidupan Islam dan realita kehidupan umat. Islam itu mulia. Umatnya mengalami jiwa kehinaan yang dalam. Islam itu kejayaan. Umatnya terkalahkan di mana-mana. Islam itu kemerdekaan. Umatnya terjajah di mana-mana, baik oleh diri mereka sendiri maupun ole orang lain. Islam itu kemakmuran. Umat ini hidup dalam kemiskiman yang sangat. Islam itu ilmu dan kemajuan. Umatnya hidup dalam kebodohan dan keterbelakangan. Islam itu keadilan. Umatnya larut dalam kezaliman (disalimi atau menzalimi). Dan seterusnya.

3. Penyakit egoisme dan perpecahan.

Jika Eropa mampu membangun koalisi Uni Eropa atas dasar perut, seharusnya umat ini lebih bisa membangun koalisi atas dasar hati nurani. Sayangnya permasalahn terbesar umat di tengah musibah saat ini adalah kegagalan membangun “wihdah” (kesatuan) sejati. 57 negara mayoritas Muslim hanya menjadi rebutan kepentingan berbagai kalangan. Maklum dunia Islam dikaruniai oleh Allah dengan berbagai karunia. Akibat kegagalan membangun kestuan ini, kekuatan itu menjadi kelemahan, kebesaran itu menjadi kekerdilan dunia Islam.

Itu beberapa penyakit umat masa kini yang perlu terobati oleh berbagai musibah itu. Jangan sampai musibah bagi umat ini gagal mengobatinya, bahkan naik status dari
Musibah menjadi siksaan.

Ketiga: way to be elevated

Menghadapi berbagai ujian saat ini mengingatkan kita kepada peristiwa tahun kesedihan (aamul huzn) Rasulullah SAW. Di tahun itulah beliau diuji dengan musibah kematian dua figir tercinta beliau, sekaligus pelindug terdekat setelah Allah dalam perjuangan. Beliau adalah isteri tercinta, Khadijah, dan paman tercinta beliau, Abu Talib.

Di sisi lain mengetahui kematian Abu Talib dan Khadijah, dua sosok yang sangat dihormati di Mekah saat itu, orang-orang kafir semakin brutal dalam menyerang beliau dan pengikutnya.

Di saat-saat seperti itulah Allah kemudian mengutus malaikat untuk mengangkat beliau ke atas langit. Persitiwa itu lebih kita kenal dengan Isra-Miraj Rasulullah SAW.

Ketika umat saat ini mengalami tantangan dan cobaan, maka harusnya kita optimis membangun harapan bahwa itu bukanlah tanda jika Allah meninggalkan. Sebaliknya boleh jadi itu adalah alamat jika umat ini sedang dalam proses terangkat ke atas, menuju kepada kejayaannya.

Harapan dan optimisme

Pada akhirnya umat ini harus kembali ke jati dirinya. Bahwa umat ini adalah umat optimisme dan harapan. Iman dan mulia itu identik dengaj harapan. Sementara putus asa dan kehinaan identik dengan kekufuran: innahu laa yaeasu min rahmatillah illal qaumul kafirun.

Mungkin saya hanya ingin tutup dengan kembali mengenang peristiwa 9/11. Betapa peristiwa itu diperkirakan oleh banyak kalangan sebagai kuburan Islam. Bahkan saya menemukan sebagian Imam di New York saat itu memiliki pessimisme yang sama.

Alhamdulillah ternyata ada satu halyang selalu umat ini harus pegang. Bahwa Allah tidak pernah berhenti bekerja untuk melanjutkan perjalanan cahaya kebebaran itu. Bahkan di saat ada kelompok tertentu yang berusaha dengan segala cara untuk menghadangnya.

So, jangan pernah ragu dan hilang semangat, apalagi harapan. Karena sesungguhnya Allah bekerja secara konstan di balik mata kasat kita. Yakinkah jika memang harapan itu selalu ada. Alaa inna bashrollah qariib. Amin!

*Imam Besar Amerika & Presiden Nusantara Foundation USA

Komentar Pembaca