Muslim Amerika dan Pemilu

0
63

Muslim Amerika dan Pemilu
Oleh: Imam Shamsi Ali*

Inspiratifnews.com Bagi banyak kalangan ada kejutan-kejutan (surprises) yang terjadi pada pemilu Amerika kali ini. Di kedua kubu Demokrat dan Republikan, kejutan itu membuat banyak orang terheran bahkan bingung. Bagi sebagian pemilu kali ini, khususnya di kubu Republikan, bagaikan sandiwara dan mainan.

Dengan hampir berakhirnya perhitungan suara dari pemilihan penjaringan calon, atau yang biasa disebut “Super Tuesday” nampaknya kedua kubu sudah sudah hampir bisa menentukan calon masing-masing untuk maju ke pemilu. Dari Demokrat kemungkinan besar Hillary Clinton. Dan dari Republikan akan diwakili oleh Donald Trump.

Sosok Donald Trump

Ketika Donald Trump memulai kampanyenya banyak yang menganggapnya sebagai mainan. Donald tidak saja diragukan kemampuannya oleh khalayak banyak. Tapi juga dibenci karena sikapnya yang arogan dan rasis.

Ternyata dalam perjalanannya Donald Trump berhasil menjual isu kebencian, rasisme, dan diskriminasi terhadap non kulit putih Amerika. Kandidat ini menjadi populer karena sikapnya yang menimbulkan kemarahan banyak orang. Bahkan nampak selalu cuek dan tidak peduli, bagaikan bermain game dan tidak serius.

Kendati berbagai pernyataannya yang menyakitkan banyak kalangan, termasuk Afro, Hispanic, Muslim, bahkan Yahudi, dari hari ke hari Donald semakin populer . Bahkan berhasil membangun jaringan “anti non White”, khususnya Muslim, Hispanic dan Afro Amerika.

Retorika Donald Trump belakangan berhasil membangun kebencian, bahkan beberapa insiden kekerasan akhir-akhir ini, termasuk pembunuhan tiga pemuda Muslim di negara bagian Illinois beberapa hari lalu, diperkirakan sebagai akibat kampanye kebenciannya. Mungkin yang paling berbahaya adalah terjadinya “friksi-friksi” dalam masyarakat Amerika yang sangat berbahaya ke depan. Ketegangan antar kelompok masyarakat Amerika bisa menjadi bom waktu ke depan.

Pertanyaannya adalah faktor apa saja yang menjadikan DT (Donald Trump) memenangi penjaringan Partai Republikan? Apakah memang karena masyarakat Amerika menyukainya? Atau karena memang ada faktor-faktor lainnya?

Saya melihat ada beberapa faktor penentu:

1) karena memang Republikan tidak memiliki calon yang kuat. Jeb Bush sesungguhnya adalah calon yang dianggap kuat. Sayang dinasti politik keluarga Bush telah hancur di tangan kebijakan George W Bush selama dua periode. Bush selama ini bertahan karena mentalitas masyarakat Amerika memang masih terbawa emosi 9/11. Maka slogan peperangan terhadap terorisme masih terjual bahkan laku keras. Tapi saat ini dengan situasi berbeda dan setelah terbukanya beberapa kebohongan mantan presiden Bush, popularitas keluarganya nyaris tenggelam.

2) walaupun kenyataannya bahwa Barack Obama, seorang Afro Amerika, terpilih jadi presiden selama dua periode, masih banyak masyarakat Amerika putih (white Americans) yang menyembunyikan ketidak sukaan. Satu di antaranya adalah DT sendiri yang sejak awal mencoba melakukan apa saja untuk menjegal Barack Obama menjadi presiden, termasuk mempertanyakan akte lahirnya. Kebencian whites ke non whites inilah yang beberapa waktu lalu terakumulasi dalam gerakan “Tea Party” di dalam tubuh Partai Republikan. Dan karakter DT yang “out spoken” dan terbuka seolah menjadi panampung bagi kemarahan itu.

3) Perubahan demografi masyarakat Amerika menjadikan mereka yang selama ini “mayoritas” merasa terancam. Dari tahun ke tahun masyarakat berkulit putih Amerika (white Americans) merasa terancam dengan pertumbuhan non white secara mengejutkan. Ada tiga komunitas kelompok minoritas dengan pertumbuhan tercepat. Hispanic, Asia dan komnuitas agama Islam (Muslim community). Ini yang menjadikan kalangan White Americans, seperti DT, semakin geram.

4) Kejenuhan masyarakat dengan sistim politik biasa. Mereka menginginkan perubahan, sesuatu yang baru, berbeda dari yang biasanya. Apapun itu bentuknya. DT di Partai Republikan dan Sanders di kubu Demokrat dianggap mewakili perubahan dari sistim lama itu. Keuntungan DT atas Sanders (Socialist Democrat) adalah bahwa pemilih Demokrat masih memiliki calon hebat lainnya. Sementara DT hampir tidak punya persaingan.

Hillary vs Donald

Di kubu Demokrat saat ini masih terjadi persaingan ketat antara dua calon yang akan maju. Tapi dengan sistim “delegates” di mana elit partai, termasuk pimpinan partai, anggota kongress dan senate, nampaknya hampir dipastikan bahwa Hillary akan memenangi penjaringan calon Partai Demokrat.

Dengan demikian di pemilu Amerika yang dijadwalkan November tahun ini akan maju bertarung Hillary Clinton (Demokrat) melawan Donald Trump (Republikan).

Dengan melihat kenyataan lapangan, dan dari berbagai pengamatan ahli politik, Hillary nampaknya berada di atas angin. Hillary memiliki basis pemilih tradisionil, berpengalaman, mantan senator dan Menlu, dan yang terpenting adalah seorang wanita yang akan tercatat dalam sejarah perjalanan bangsa Amerika.

Tentu yang terpenting dari semua itu adalah sosok Hillary yang bisa menyatukan kubu-kubu yang terpecah, khususnya friksi etnis, sebagai akibat kampanye kebencian dan perpecahan oleh Donald Trump.

Hillary tetap menjadi pilihan favorit kaum wanita, semua minoritas, dan juga mereka yang berkulit putih dari kalangan Demorat. Jadi kalaupun tidak ada pemilih Republikan yang menyeberang memilih Hillary, secara matematika Hillary tetap akan memenangkan pertarungan ini. Apalagi realita mengatakan bahwa banyak juga kalangan Republikan yang tidak menyukai Donald Trump. Sehingga mereka boleh jadi berubah pilihan, atau minimal tidak ikut memilih alias golput.

Itu bukan berarti bahwa Hillary adalah pilihan terbaik. Hillary juga memiliki darah di tangannya yang perlu dibersihkan. Khususnya dalam kasus Bengazi di Libia. Hillary juga dikenal dengan kalangan Wall Street yang dikenal sering membeli para politisi.

Tapi apapun itu, Hillary adalah pilihan terbaik dari aspek “least evil” dibanding Donald Trump. Kandidat Republikan ini adalah ancamam besar, tidak saja ke dalam negeri dengan perpecahan sosial. Tapi juga ancaman luar dengan isolasi dunia terhadap Amerika.

Maka Amerika wajar bersiap menyambut sejarah baru. Yaitu untuk pertama kalinya negara yang selalu menyuarakan kepedulian kepaa kaum hawa ini akan dipimpin oleh seorang wanita; Hillary Clinton. Wallahu a’lam.

New York, 2 Maret 2016

* Presiden Nusantara Foundation

Komentar Pembaca